Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #20

Dengarkan

Dalam suatu percakapan Koi pernah bilang, mungkin aku harus lebih banyak mendengarkan. Tentu aku keberatan. Seumur hidupku aku sudah sangat banyak mendengarkan hingga lelah karenanya. Semua kutampung dalam isi kepala yang seharusnya tidak perlu kusimpan. Kalau diminta membuat senarai kelemahan aku akan masukkan itu. Aku hobi sekali menyimpan limbah batin orang lain. Dengan sukarela aku menjadi tempat pembuangan dan otakku kemudian akan pusing karena limbah itu bisa menghasilkan aroma dan harus dipastikan tak boleh tercium siapa pun. Bisa juga limbah itu menghasilkan bunyi gemeresik di kepala dan orang lain tidak dapat mendengarnya.

Satu-satunya pelampiasan adalah buku diari. Catatan-catatan di dalamnya membuatku banyak mengenal diriku sendiri. Orang yang banyak tertawa biasanya pintar menyembunyikan luka. Kurasa orang itu adalah aku.

Aku merutuki diriku yang tidak bisa apa-apa. Aku mengutuki diriku yang selalu tak terlihat nyata. Seonggok daging atau setumpuk kotoran masih berhasil mengundang lalat-lalat untuk hinggap. Angin tak tampak tapi masih terasa keberadaannya. Aku selalu gagal membuat orang di sekitarku menetap. Aku berusaha sekuat tenaga, tetapi tetap saja selalu tidak dianggap.

Ada orang yang dilimpahi cinta oleh semua orang. Menjadi favorit banyak orang. Dalam kacamataku mereka tidak sempurna. Mereka juga bisa menjengkelkan. Jauh dari standar kesopanan yang dituntut dari padaku. Mereka berbicara secara sembrono, aku mengatur tutur bahasa untuk menunjukkan rasa hormat. Lalu apa yang kudapatkan?

Aku pasrah diri ketika dimanfaatkan, setidaknya dengan begitu aku dilihat dan dianggap, sekalipun hanya jadi persinggahan. Aku memang tak pandai olahraga. Tak ada yang bisa yang kulakukan selain lari dari kenyataan. Mereka tak menganggapku laki-laki kalau tidak bisa menendang bola, memukul bola ke arah lawan. Seni tak bisa kubanggakan. Menorehkan garis saja aku miring. Harga diriku pernah tercabik hanya karena tidak bisa membawa sepeda motor. Cewek-cewek bahkan menjadikan itu sebagai bahan gunjingan sewaktu aku bersama Binar.

Aku suka menulis. Aku bisa memasak. Aku bisa mencuci pakaian orang rumah. Tapi itu bukan pekerjaan laki-laki. Tamu yang datang ke rumah selalu bilang begitu. Mereka bilang aku si “tante” atau si “anak boru” (anak perempuan) sambil mengunyah lahap makanan yang kusodorkan. Mereka katanya ingin membawa aku ke rumah mereka hanya karena suka merawat bunga di pekarangan rumah. Kata mereka Mamak beruntung punya anak sepertiku. Keberadaanku menambah hitungan anak perempuan bukan anak laki-laki, jadi ketika Kak Tika menikah, Mamak dan Bapak tidak rugi. Masih ada anak perempuan yang bisa mengurus rumah.

“Kau kebanyakan mengeluh.” Koi mendengkus.

“Apa maksudmu?”

“Semua yang kau ucapkan itu adalah bentuk rendah diri yang kau pelihara,” kata Koi. Aku menganggapnya sebagai tudingan.

“Tentu. Semua orang merendahkanku. Kau ingin aku bangga dengan itu?” sanggahku.

“Tentu tidak. Cuma... Kau lupa ada orang yang peduli dengan kamu.”

“Siapa?”

“Bapak?”

“Ah, nggak.” Aku menggeleng. “Bapak tidak pernah ada untukku. Di depan Bapak aku selalu mati kutu. Bapak tidak pernah ingin tahu perasaanku atau apa yang selama ini kualami. Bapak selalu diam bahkan ketika dia tahu aku tidak normal.”

“Firman?”

“Ah, Firman mungkin hanya kasihan. Buktinya kadang-kadang dia dekat sekali, tapi kadang tiba-tiba terasa jauh sekali. Kadang-kadang dia datang lalu di lain waktu tiba-tiba menjaga jarak. Dia adalah orang yang tak bisa kupahami sampai sekarang, dan Aku hanyalah orang yang menyedihkan karena berharap dia mau membalas perasaan,” paparku lesu.

“Teman-teman yang lain?

“Siapa? Daniel, Tere, Safri, Desi?”

Aku masih saja mengingat nama mareka. Padahal pertemanan kami sudah kedaluwarsa. Bukan karena bertengkar lalu musuhan, sama sekali tidak. Kelas kami hanya berbeda saja dan kedekatan kami menguap tanpa sadar. Masih saling menyapa kalau berpapasan di jalan, ramah pula. Main bersama? Sudah tidak pernah. Kalau Risty, kami baru dekat baru-baru ini. Sekalipun menyenangkan, aku belum banyak mengenalnya.

“Nathanael?” Koi berdiri.

Aku tercekat. Aku bergerak gelisah. Koi terkejut. Dia merasa bersalah karena pikirnya mungkin tak seharusnya membawa-bawa nama itu.

“Maaf, maksudku tadi bercanda.” Ia menggesek-gesekkan kepalanya di pangkuanku.

Aku sama sekali tidak tersinggung. Justru omongan Koi menguak fakta bahwa rasa nyaman itu datang darinya. Sejak kedatangannya ke rumah kami dia berlaku lembut, sangat lembut. Tidak ada lawan bersaing, tetapi aku merasa Aku merasa bangga pada diriku karena setidaknya orang yang kukagumi memberikan perhatian. Yang selalu ia cari ketika pulang dari kantor adalah aku. Rio selalu merengek ketika Bang Nael pulang membawa es krim untukku, ia tidak kebagian. Barulah hari berikutnya, Ia ingat membawa es krim untuk Rio, itu pun diam-diam masih membelikan yang lain untukku, buku cerita. Dia tahu aku suka membaca buku cerita. Buku kumpulan cerita rakyat Nusantara dari 34 provinsi itu cukup membuatku melambung. Aku ingat sekali ada total 50 cerita. Aku tidak pernah bosan kalaupun disuruh membaca berulang-ulang. Waktu kulihat buku itu di lemari buku yang ada di ruang utama, aku bukannya membenci, malah rindu.

Aku menatap mata Koi yang justru melongo. Matanya cokelatnya membuatku teringat mata laki-laki itu, warna cokelat gelap. Tatapannya tegas tetapi terasa menenangkan mungkin karena kelopak matanya yang sayu dan agak sipit. Siapa pun akan merasa nyaman apa lagi bibirnya tipis tersenyum. Ia harusnya bangga dengan dekik di pipinya. Itu membuat dia tambah menawan.

Seragamnya yang ketat menampilkan garis-garis tubuhnya yang menjadi idaman banyak orang baik laki-laki maupun perempuan. Postur tubuh Bang Nael adalah perwujudan kewibawaan. Siapa pun akan langsung percaya kalau dia adalah polisi yang sungguh-sungguh mengerjakan baktinya. Itu yang membuatku bangga ketika dia memboncengku ke sekolah. Sekalipun pandangan takzim dari orang-orang sekitar bukan untukku, setidaknya aku bisa bangga dengan sesuatu kepunyaanku—orang-orang tahu dia abangku, orang yang dekat denganku... dan kuharap memilikiku.

“Woi.” Koi menyentak. Aku baru sadar bahwa Koi mencakar-cakar selimut sampai rontok. “Malah melamun,” protesnya.

“Aku tidak melamun. Aku hanya baru sadar kalau Bang Nael adalah orang pertama yang membuatku merasa berharga, merasa diterima bahkan ketika tahu aku suka laki-laki,” ujarku.

“Nael? Maksudmu? Serius?” Koi tampak bersemangat.

“Tapi... sudahlah,” tepisku. Orang yang paling kita kasihi juga orang yang paling membuat kita kecewa, kan?

“Kau tahu, Arga. Kali ini aku jujur dan serius.” Kami bertemu tatap. “Sudah waktunya kamu belajar mengasihi dirimu sendiri. Mengasihani dirimu tidak akan mengubah apa-apa. Kalau kamu berharap untuk diterima semua orang, itu sia-sia dan melelahkan. Setidaknya kamu masih punya keluarga.”

Aku mengernyit. “Mereka tidak menerimaku,” keluhku lesu.

“Oh, iya? Yang kutahu kau masih bersama-sama dengan sampai mereka sampai sekarang. Mereka tidak mengusirmu sekalipun kau berbeda.”

“Tapi mereka tidak mengakuiku.” Aku membantah.

“Karena kau tidak mau mengakui usaha mereka. Kau hanya melihat dirimu sendiri. Kau tidak mau melihat tekanan orang-orang sekitar yang harus mereka tanggung. Kau pikir hanya kau yang menderita karena dikucilkan orang-orang tapi kau tidak melihat bagaimana orang tuamu menghadapi gunjingan orang-orang. Tapi lihat, mereka masih memperlakukanmu dengan baik. Kadang-kadang mereka dingin. Tapi, aku yakin mereka sedang berusaha.”

Aku tertegun.

“Kau sudah bergumul dengan dirimu sejauh ini, dan kamu bahkan belum sepenuhnya menerima dirimu. Mereka menerimamu sampai sekarang. Hanya karena mereka terkejut dengan orientasi seksualmu, kamu jadinya tidak mau memberi mereka kesempatan? Siapa yang egois kalau begitu?’

Aku duduk kembali. Pembahasan ini mulai tidak menyenangkan. “Lalu kau berharap aku harus bagaimana?”

“Kau tahu, kau punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh kakak-kakakmu dan Rio.” Aku menunggu. “Kau tidak reaktif. Kau bisa menahan diri dan menahan perkataan. Kau lembut dan pandai mendengarkan. Setidaknya itu yang kuamati dari Arga di masa lalu sampai yang sekarang.”

“Bagiku itu kelemahan.”

“Karena kau percaya itu kelemahan.”

Koi kemudian mengingatkanku tentang Kak Mora yang berani mendebat Mamak. Semakin didebat, semakin meledak. Keras kepala mereka berbenturan dan ledakan itu berhasil melemparkan Kak Mora dari rumah dan tidak jelas keberadaannya. Kak Tika sebagaimana anak pertama yang dituntut sempurna tidak jauh berbeda. Dia bisa temperamen dan paling berkuasa sebagai anak pertama, ujung-ujungnya kikuk juga di depan Mamak. Aku yakin, sesudah ia menikah ia merasa lega karena bisa keluar dari rumah. Bukan berarti kubilang ia tidak baik, tetapi bisa jadi ia lelah untuk selalu terlihat benar dan memastikan adik-adiknya aman juga.

Karena aku lebih lama dengan Rio, maka aku setuju dengan Koi ketika dia bilang adikku itu masih kekanak-kanakan sekali. Duduk di bangku SMA tidak mengubah sifatnya yang manja. Kemauannya harus dituruti sehingga aku harus mengalah. Mamak menyuruhku begitu.

Lihat selengkapnya