Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #21

Usut

Suara Bapak dan Mamak terdengar samar dari pintu depan. Suara mereka lirih hampir berbisik. Mereka seperti sedang berusaha menahan suara. Kadang suara Mamak terdengar agak lebih tinggi kemudian Bapak akan mencoba untuk menenangkan.

Rasa penasaran yang bercokol di dalam hati mendesakku untuk masuk ke dalam rumah. Aku mengendap-endap seperti pencuri padahal di rumah sendiri. Rumah dalam keadaan gelap. Hanya cahaya dari ventilasi yang membuatku tidak tersandung teve saat dekat lorong menuju ruang makan.

Mereka tampaknya baru kembali dari ladang. Masih sama-sama menggunakan pakaian kumal. Bercak lumpur yang mengering di badan Bapak dan bedak dingin di muka Mamak masih belum luntur. Mereka berdiskusi dengan alot hingga tidak menyadari sama sekali bahwa aku sudah berdiri di situ sejak tadi.

“Kita mau lapor bagaimana, Pak? Kita tidak punya bukti untuk di bawa ke kantor polisi.” Mamak terlihat geram, mencondongkan mukanya ke arah Bapak.

“Dia sudah mengaku waktu itu, apa itu nggak cukup?”

“Kau bisa jamin dia akan langsung mengaku kalau kita melapor?” Mamak mengangkat bahu meremehkan. Agaknya Mamak sudah mulai jengah berdiskusi dengan Bapak.

“Harusnya kau tidak perlu membabi buta waktu itu. Kita bisa berpikir tenang atau mungkin akan berpikir untuk merekam si brengsek itu.”

Baru kali ini aku mendengar bapak mengumpat. Nadanya terdengar putus asa. Tetapi Mamak merasa disalahkan. Ia melakukan pembelaan, “Tenang, tenang? Makan itu tenangmu. Itu yang bikin kau nggak bisa diharapkan. Apa-apa tenang, diam. Diinjak-injak kan kau. Di rumahmu sendiri pula?”

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan pelan. Aku masih berusaha menahan diri. Aku tidak mau gegabah dan memperkeruh keadaan.

Lihat selengkapnya