Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #22

Kesempatan Kedua

“Man, habis ini aku pulang sendiri, ya.” Aku merapikan berkas-berkas administrasi kampus yang baru saja kufotokopi.

“Loh, kenapa?” Raut wajah Firman tampak tidak setuju.

 “Aku nunggu Bang Nael. Katanya mau sekalian ke rumah.”

           Firman tidak merespons. Untuk sesaat, dia seperti sibuk dengan pikirannya sendiri. “Terus kau tunggu di mana? Masih lama nggak? Kalau harus nungguin lagi ya lebih baik aku antar kau dululah.”

           Aku mulai merasa gugup. Harusnya aku mempersiapkan jawaban dulu sebelum membalas ajakan Bang Nael. Firman tidak tahu apa-apa tentang aku dan Bang Nael dan aku tidak berencana menceritakan sebelum masalah ini diselesaikan dengan baik. Itu yang menjadi maksud dan tujuan Bang Nael bertemu denganku sebelum bertemu dengan Bapak dan Mamak. Aku bertekad untuk memberinya kesempatan terakhir, bukan untuk melupakan perbuatannya, melainkan untuk pamit dengan cara baik-baik.

           Melalui pesan WhatsApp aku mengirimkan pesan kepada Bang Nael, menanyakan pukul berapa ia datang.

           “Nggak papa kau pulang duluan. Dia sudah mau jalan, kok.”

           “Oh kalau begitu, kita tunggu saja,” jawab Firman santai. Aku mati kutu. Semakin bingung.

 

15.35

Kawanku katanya mau nemenin tunggu Abang. Abang sudah jalan?

15.37

Ini sudah mau jalan.

           

Aku menunggu dengan sedikit gelisah sekaligus merasa bersalah karena tidak berkata jujur kepada Firman, padahal kami sudah membuat janji dengan teman-teman yang lain untuk nongkrong bersama buat yang terakhir kalinya sebelum pergi mengejar mimpi masing-masing.

           “Nanti kalau sempat aku menyusul ya.”

Lihat selengkapnya