20 Juli 2017
Untuk Firman,
Akhir-akhir ini aku merasa dibayang-bayangi oleh kematian. Entah karena khawatir atau justru sebagai bentuk persiapan diri. Ya, kutahu kematian adalah sesuatu yang pasti dan digariskan untuk terjadi. Tapi, aku merasa kematianku akan berakhir dalam tragedi.
Jika sesuatu terjadi, tolong beritahu kepada Mamak dan Bapak sebab aku melihatnya dengan jelas dalam mimpi. Kupastikan tidak akan yang percaya jika aku menceritakan mimpiku kepada orang-orang, kecuali kamu. Aku berharap kau percaya. Aku sengaja menuliskan di kertas dan kupastikan akan kufotokan dan kukirimkan. Mungkin jika waktunya tiba, surat ini akan bermanfaat. Tolong simpan dengan baik ya.
Awalnya aku hanya melihat diriku terkapar di tempat tidur dengan kondisi menyedihkan. Seperti layaknya luka bakar, beberapa di bagian tubuh terlihat mengelupas dan meninggalkan bekas berwarna putih keabuan-abuan. Aku refleks mengusap-usap area mulutku ketika menyaksikan area mulutku mengalami kerusakan yang parah. Aku pasti sangat kesakitan di dalam detik-detik meregang nyawa. Tempat tidur tampak acak-acakan. Selimut, bantal bahkan seprai berselarakan. Semuanya itu tetap luput untuk menyamarkan botol hijau yang sangat familier karena Bapak menggunakannya untuk mematikan tanaman liar di ladang.
Mimpi setelahnya lebih menyiksa lagi. Aku benar-benar merasakan bagaimana cairan itu mengalir dalam kerongkongan, memberikan rasa panas luar biasa dan membakar. Tiba-tiba gerakan menelan pun jadi penderitaan. Aku meraung kesakitan dan tidak bisa kuhentikan saat aku merasakan saluran pencernaanku semuanya terkoyak-koyak dengan brutal. Aku menggelepar-gelepar seperti ikan terpisah dari air. Napas semakin berat. Saluran pernapasan tersumpal. Sekuat tenaga aku mencoba menghirup udara dengan hidung dan mulut pun selalu gagal.
Mimpi itu terulang lagi dan lagi. Bahkan dalam keadaan sadar pun terkadang bayangan kematian yang mengenaskan itu terputar di dalam otak dan itu sangat menyiksa.
Aku pernah berpikir untuk mati tapi bukan dengan cara merenggut nyawa sendiri. Aku tidak akan berani.
Hati kecilku tidak bisa mengelak. Ada bagian diriku yang sepakat bahwa mimpi itu semacam pertanda. Maaf, kalau aku membebanimu dengan menceritakan semua ini. tapi, aku hanya percaya sama kamu.
“Kau yakin?” Koi terduduk di depanku.
Aku mengangguk. “Aku tahu ini cukup egois. Tapi aku ingin egois untuk yang terakhir kalinya. Lagi pula aku tidak bisa mengingkari kematian kan?” kataku lemah.
Koi memiringkan kepala ke kiri. Mata cokelatnya seperti ingin sesuatu. Aku tidak bertanya. Kalaupun Koi ingin menyampaikan sesuatu, itu bukan style-nya. Dia akan langsung mengatakannya.
Aku mengambil HP. Kupastikan gambar yang kuambil terlihat dengan jelas. Setelahnya, aku mencari kontak Firman. Aku menatap kontak itu lamat-lamat. Memori tentang kebersamaan kami bergerak cepat di dalam pikiranku. Kemudian rasa sedih menyelinap perlahan di antara senang yang kurasakan. Meskipun terasa singkat, aku bisa memahami kenapa diriku yang sebelumnya jatuh hati padanya.
“Setelah ini apa yang akan kau lakukan?” Koi mengembalikan fokusku.