“Arga Sahata Siburian lahir pada hari Rabu, 28 Juli 1999 pukul 05.50, meninggal 28 Juli 2017 pukul 17.27 tepat pada usia 18 tahun, menurut perhitungan waktu manusia.
Aku membuka mata. “Bang, Koi?” ujarku.
Sosok putih itu mengangguk. Aku agak linglung. Mataku menyapu sekitar. Aku meraba kasur putih yang terasa lembut di ujung jari.
“Tidak ingin kabur lagi?” ledek Koi.
Aku memutar bola mata. Koi kembali lagi pada sifat menjengkelnya. Aku turun dari tempat tidur. Kujejakkan kakiku pada lantai yang tidak kutahu terbuat dari bahan apa. Aku meyakininya sebagai es—atau mungkin kristal—yang sangat bersih mengilat. Aku menarik pakaian yang lebih cocok disebut jubah itu. kupandangi kaki yang mulus lalu menggerakkan jarinya. Aku tidak menemukan lautan es atau tempat duduk yang kemarin. Hanya ada kasur putih, sisanya seperti lautan tiada ujung.
“Kali ini aku beneran mati?” Aku mendelik.
“Ya,” jawab Bang Koi. “Tapi belum selesai,” katanya kemudian.
Aku membalik badan. Dahiku mengerut menunggu Bang Koi melanjutkan kata-katanya.
Koi menjawabnya dengan menggambar sebuah lingkaran yang mengelilingi tubuhnya. Lingkaran dengan peraturan khusus yang membuatku mengulang kehidupanku dan membuatku mengalami kematian untuk yang kedua kalinya. Aku tersenyum melihat simbol kucing yang sudah terlukis secara sempurna. Koi mengulurkan tangannya, mengajakku masuk ke dalamnya. Lingkaran itu bercahaya. Aku melihatnya dengan takzim padahal kami sudah menggunakannya berulang kali. Entah ini pertanda semuanya akan berakhir, secara otomatis aku ingin menikmati setiap detiknya, termasuk ketika sensasi dingin itu merayap di tubuhku. Aku mencoba menikmatinya. Tidak panik lagi ketika setiap bagian tubuh kami terurai menjadi partikel-partikel kecil yang melayang-layang di udara dan meliuk-liuk.
“Bukannya kita sudah selesai?” tanyaku ketika aku tahu Koi membawaku kembali ke Konservasi Memori.
“Sudah. Tapi aku perlu menunjukkan sesuatu yang tidak ada di dalam memorimu.”
Dahiku mengernyit. Tanpa menunggu aba-aba dari Bang Koi, aku mengikutinya seperti orang yang terkena hipnotis. Dia berhenti pada pohon berbatang warna kuning pucat. Aku ingat aku pernah memperhatikan pohon ini karena memiliki simbol yang sama denganku, tetapi kenapa?
Koi tertegun di depan pohon itu. Tampak ragu. Meski aku tidak melihat bola matanya, tapi kuyakin ia sedang menatapku. Agak lama. Sehingga aku semakin bertanya-tanya.
Koi mengulurkan tangannya ke batang pohon. Ia menempelkan telapak tangannya, menyentuh tepat pada simbol kucing itu. Warna emas pada garis simbol itu menyala, mengeluarkan cahaya emas yang berkilauan dan bertemu dengan cahaya putih Koi. Cahaya emas itu merayap menyelimuti tubuh Koi dari tangan yang menempel pada pohon kemudian menjalar ke bagian dada lalu akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Rasa kagum dan terkejut seperti arus pendek yang menyebabkan lonjakan arus listrik yang besar. Untuk sesaat aku tidak bisa memproses apa yang sekarang terjadi di hadapanku.
Aku menarik napas pendek. Mencoba melangkah mundur meski dengan langkah yang sangat kecil. Ketakutan menggerayangi seluruh badan. Suaraku tercekat akibat saliva surut tak berbekas.
“Arga. Tenang!” Koi bergerak mendekat.
“Jangan!” pekikku.
Aku mencoba membalikkan badan. Otakku memerintahku untuk lari meski tidak tahu harus ke mana. Yang pasti, aku harus menjauh dari laki-laki itu meski ternyata pergerakanku tidak secepat yang kuharapkan. Tangan laki-laki itu telah lebih dahulu menangkap tanganku lalu berusaha menarikku. Aku meronta. Berusaha mengempas tangan yang mencengkeramku lebih kuat lagi. Kemungkinan lepas darinya menjadi sangat kecil dia telah merengkuhku dengan kuat.
“Arga. Tolong tenang dulu. Dengar dulu penjelasan Abang.”
“Tidak!” jeritku.
Sontak air mataku mengalir deras. Aku merengek dalam rengkuhannya. Aku masih ingin lepas dari laki-laki itu, tetapi aku tidak punya tenaga. Tubuhku tidak berdaya. Dilumpuhkan oleh emosi yang tak bisa diluapkan sepenuhnya. Aku limbung dan menjatuhkan diri. Koi menahan tubuhku sehingga tidak membentur tanah.
“Tolong. Berikan aku kesempatan menjelaskan.” Koi memohon. Nadanya memelas.
Aku merasakan sesuatu berdesir di dalam dada. Ia menyerukan agar aku memberi kesempatan kepada laki-laki ini. Aku tak menyahut. Tapi aku yakin Koi bisa cukup memahami saat aku semakin luruh di dadanya. Aku telah melonggarkan perlawanan dan isak mulai kutahan. Aku menenengkan diri. Beginikah cara Tuhan bermain-main denganku? Batinku.
***