Sebagai seorang pria yang sudah lama menjadi yatim piatu di kedua kehidupan ini, Chen Hong sangat tahu bagaimana pahitnya berjuang sejak usia dini hanya untuk memikirkan apa yang bisa dimakan keesokan harinya. Dia tidak memiliki orang tahu atau tempat untuk bersandar, tidak memiliki kerabat kaya untuk meminta bantuan. Kelaparan, hinaan, dan kerja keras adalah makanan sehari-harinya.
Namun kini, melihat saldo bank yang begitu melimpah, setitik kehangatan muncul di sudut hatinya. Chen Hong menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin, tersenyum tipis dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Ia berpikir, mungkin semua ini adalah cara semesta bekerja. Di balik kemalangan luar biasa yang menimpanya di dua kehidupan—menjadi yatim piatu dua kali dan mati tragis saat menolong orang—ada sebuah berkah luar biasa yang dikirimkan sebagai bentuk kompensasi atas penderitaannya. Sistem ini adalah kompensasi dari takdir. Dan Chen Hong bersumpah di dalam hatinya, ia akan mengubah jalan hidupnya secara total mulai dari detik ini. Dia tidak akan lagi menjadi orang lemah yang bisa diinjak-injak oleh kemiskinan.
Perlahan, Chen Hong bangkit dari kasur lantainya. Ia meregangkan badannya hingga terdengar bunyi gemertak dari tulang-tulangnya yang kaku. Rasa bugar segera menjalar ke seluruh tubuh mudanya. Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil handuk kumal yang tergantung di balik pintu dan berjalan menuju kamar mandi umum di luar kontrakan untuk membersihkan diri.
Dua puluh menit kemudian, Chen Hong kembali ke kamar dengan kesegaran baru. Tatapan matanya kini tampak jauh lebih tajam dan penuh rasa percaya diri. Ia segera membuka sebuah tas ransel kain berwarna hitam yang sudah usang dan mulai mengemas semua barang miliknya.
Sebenarnya, tidak banyak barang berharga yang dimiliki oleh pemilik asli tubuh ini. Hanya ada beberapa pasang pakaian rajut yang sudah menipis, beberapa buku catatan, dokumen identitas penting, dan tentu saja, surat panggilan resmi dari Universitas Fudong. Chen Hong melipat pakaiannya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam ransel.
Hari ini adalah hari penting. Dia harus segera pergi meninggalkan kota pinggiran ini dan menuju ke kota megapolitan Zhonghai. Berdasarkan surat pemberitahuan, ia harus segera melakukan registrasi ulang dan melapor awal sebagai mahasiswa baru di Universitas Fudong paling lambat sampai akhir minggu ini. Perjalanan dari kota kecil tempatnya tinggal saat ini menuju Zhonghai membutuhkan waktu beberapa jam menggunakan transportasi modern.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, dan mengunci pintu kamar kontrakan yang akan segera ia tinggalkan selamanya, Chen Hong berjalan keluar menuju stasiun. Ia tidak berniat berpamitan pada siapa pun, karena di kota ini, dia hanyalah sebutir debu yang tidak dipedulikan oleh orang lain.
Satu jam kemudian, Chen Hong sudah berdiri di tengah riuhnya Stasiun Kereta Cepat.