Daily Sign-In System: Kehidupan Kampus Sang Miliarder Tersembunyi

Recyclebin_13
Chapter #3

Bab 3

Pemandangan stasiun megah Kota Hangcheng yang modern perlahan melambat.

Hangcheng adalah kota metropolitan yang terkenal dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan distrik bisnisnya yang berkilauan.

Sesuai perkiraan, beberapa penumpang kelas bisnis yang turun mulai merapikan barang mereka, sementara beberapa penumpang baru bersiap untuk naik.

Pintu gerbong kembali terbuka.

Langkah kaki pertama yang terdengar adalah ketukan sepatu hak tinggi yang berirama konstan.

Seorang wanita muda melangkah masuk ke dalam gerbong.

Ia mengenakan jaket trench coat panjang berwarna krem yang dipadukan dengan celana kain pinstripe hitam yang pas di tubuh tingginya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai indah, membingkai wajah oval dengan fitur yang sangat proporsional. Wanita muda ini bernama Su Ling.

Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas tangan desainer kecil yang elegan. Aura elegan dan berkelas terpancar kuat dari dirinya, menandakan bahwa ia lahir dan tumbuh dari keluarga yang memiliki pengaruh serta kekayaan yang cukup di Kota Hangcheng.

Su Ling berjalan menyusuri lorong dan berhenti tepat di baris ketiga. Matanya melirik nomor kursi, lalu beralih pada pemuda yang sedang bersandar di dekat jendela.

Meskipun melihat Chen Hong mengenakan kaus putih pudar yang sangat biasa dan jauh dari standar kemewahan gerbong tersebut, tidak ada kilatan penghinaan atau kerutan tidak suka di wajah Su Ling. Ekspresinya tetap tenang dan netral. Sebagai seorang wanita terdidik dari keluarga terpandang, ia tahu betul bahwa menghakimi seseorang dari pakaian di tempat umum adalah tindakan yang dangkal. Ia hanya mengangguk tipis sebagai kesopanan dasar sesama penumpang, lalu duduk di Kursi C, tepat di sebelah lorong, menyisakan ruang kosong di antara kursi mereka.

Namun, ketenangan di baris ketiga itu tidak bertahan lama.

Seorang pria muda berpakaian necis dengan kemeja bermerek yang kancing atasnya dibuka sengaja mengekor masuk di belakang Su Ling. Pria itu tampak berusia pertengahan dua puluh tahunan, dengan jam tangan emas yang berkilau di pergelangan tangannya. Sejak di peron Stasiun Hangcheng tadi, mata pria ini sudah terpaku pada kecantikan Su Ling yang menonjol. Menggunakan kedok sebagai sesama penumpang kelas bisnis, ia langsung melancarkan taktik pendekatannya.

"Hei, Nona, sungguh kebetulan yang luar biasa," pria itu berujar dengan suara yang sengaja dibuat berat dan penuh percaya diri, mengambil posisi berdiri di lorong tepat di samping kursi Su Ling.

Lihat selengkapnya