Pagi merayap perlahan, membawa serta cahaya matahari yang mulai menyelinap melalui celah gorden kamar tidur. Udara masih dingin, menguarkan aroma embun yang bertahan di dedaunan. Di luar, suara burung kecil bercampur dengan riuh kendaraan yang mulai memenuhi jalanan kota.
Laila membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih enggan beranjak, tetapi rutinitas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidupnya. Ia melirik jam di dinding—hampir pukul enam. Sudah waktunya bangun. Di sebelahnya, Arfan masih tertidur, napasnya pelan dan teratur. Cahaya matahari yang menelusup ke kamar menerpa wajahnya, tetapi pria itu tetap terlelap, seolah masih menikmati mimpinya.
Dengan hati-hati, Laila bangkit, memastikan tidak mengganggu tidur suaminya. Kakinya menyentuh lantai yang dingin sebelum ia berjalan menuju dapur. Tangannya refleks menyalakan kompor, menuangkan air ke dalam panci kecil untuk membuat teh. Suara gemericik air mengisi keheningan pagi.
Di meja makan, Rayan sudah duduk dengan mata setengah mengantuk. Bocah empat tahun itu mengusap wajahnya sebelum menoleh ke arah ibunya.
“Bunda, aku mau susu,” gumamnya, suaranya serak khas anak-anak yang baru bangun tidur.
Laila tersenyum. “Sebentar ya, sayang. Bunda buatkan.”
Ia menuangkan susu hangat ke dalam gelas kecil, mengaduknya perlahan. Rayan menerimanya dengan tangan mungilnya, meniup permukaan cairan sebelum menyeruputnya pelan. Di sudut ruangan, Rania masih tertidur di dalam boksnya, sesekali menggeliat kecil.
Rutinitas ini terasa begitu familiar. Begitu biasa. Namun, entah mengapa, pagi ini ada sesuatu yang terasa berbeda.
Suara langkah kaki terdengar dari dalam kamar. Arfan akhirnya bangun. Laila tidak menoleh, tetapi ia bisa mendengar bagaimana suaminya berjalan menuju kamar mandi, lalu tak lama kemudian suara air mengalir. Saat Arfan keluar, ia sudah berpakaian rapi—kaus polo berkerah biru muda, favoritnya saat pergi ke toko. Ia duduk di kursi, membuka ponselnya, dan membaca sesuatu di layar dengan raut wajah serius.
“Sarapan, Mas?” tanya Laila, menatapnya.
Arfan mengangkat kepalanya sebentar sebelum kembali fokus ke ponselnya. “Iya, sebentar.”
Jawabannya terdengar biasa. Tidak ada nada yang janggal. Tidak ada ekspresi yang mencurigakan. Semuanya terasa seperti hari-hari sebelumnya. Namun, entah kenapa, ada sesuatu yang mengganggu benak Laila. Samar, tak jelas, seperti bayangan di kejauhan yang belum bisa dikenali.
Arfan masih menatap ponselnya ketika Laila meletakkan piring berisi nasi dan lauk di hadapannya. Ia tidak langsung menyentuhnya, hanya menggeser sendok yang tergeletak di samping piring, sementara jarinya tetap sibuk menggulir layar.
Di seberang meja, Rayan masih sibuk dengan susunya, kakinya bergoyang santai di bawah kursi. Rania mulai terbangun dan menangis pelan, tetapi hanya sebentar sebelum Laila menggendongnya, menepuk punggungnya dengan lembut.
Laila melirik Arfan dari sudut matanya. Ada sesuatu dalam ekspresi suaminya yang sulit ia pahami. Dulu, sarapan selalu menjadi momen berbagi cerita. Arfan akan membahas pekerjaannya di toko, rencana bisnis mereka, atau sekadar membicarakan hal-hal kecil. Tapi kini, hanya ada denting sendok dan desiran jari yang menyentuh layar ponsel.
“Mas, nanti pulang jam berapa?” tanyanya, mencoba terdengar biasa.
Arfan tidak langsung menjawab. Ia masih fokus pada ponselnya, lalu, seolah baru menyadari istrinya berbicara, ia mengangkat wajah sedikit. “Hah?”
Laila tersenyum kecil, meneliti ekspresi suaminya. “Nanti pulangnya jam berapa?”
Arfan menaruh ponselnya di meja, meski tetap menggenggamnya. “Seperti biasa. Mungkin agak malam. Ada beberapa hal yang harus dibereskan di toko.”
Dulu, Laila tidak akan berpikir panjang mendengar jawaban seperti itu. Dulu, Arfan memang sering sibuk, terutama saat ada pengiriman barang atau laporan keuangan yang perlu dibereskan. Namun kini, jawaban itu terdengar terlalu datar. Terlalu umum. Seperti sesuatu yang telah disiapkan agar terdengar masuk akal.
“Kalau terlalu malam, jangan lupa kasih kabar.”
Arfan hanya mengangguk kecil sebelum kembali tenggelam dalam layar ponselnya.
Laila menghela napas, menatap ke luar jendela dapur. Matahari telah naik lebih tinggi. Pagi mulai bergeser ke siang. Rutinitas tetap berjalan, seperti biasa.
Namun, di dalam hatinya, sesuatu mulai berubah. Perasaan yang tumbuh perlahan, menguat, membentuk pusaran yang semakin besar.
Seperti gelombang yang awalnya tenang, tapi perlahan menyeret segala sesuatu ke dalamnya.
Laila menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri. Mungkin ia hanya terlalu sensitif, membiarkan pikirannya berlarian ke tempat yang tidak perlu. Mungkin ini hanya perasaan sesaat yang muncul karena kelelahan atau kejenuhan rutinitas yang terus berulang. Tetapi semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat perasaan itu tumbuh. Ada sesuatu dalam sikap Arfan yang berubah—sesuatu yang sulit dijelaskan, tetapi perlahan-lahan menjadi nyata. Seperti lapisan tipis kabut yang mulai menyingkapkan sesuatu di baliknya.
Arfan beranjak dari kursinya, mengambil tas kerja yang telah disiapkan di atas meja samping. Tangannya masih menggenggam ponsel, sesekali mengetik sesuatu di layar, seakan lebih tertarik pada dunia di balik layar itu dibandingkan dengan kehadiran istrinya yang berdiri tidak jauh darinya. Biasanya, sebelum berangkat, ia akan berbicara lebih lama—tentang urusan toko, rencana bisnis, atau sekadar mengingatkan Laila untuk tidak lupa melakukan sesuatu di rumah. Tapi pagi ini, semuanya terasa terburu-buru. Seolah ia ingin segera pergi tanpa banyak bicara.
Laila memperhatikan semua itu dalam diam. Matanya menangkap gerakan kecil yang aneh—bagaimana Arfan memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan gerakan sedikit tergesa, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya.
Di dekat pintu, Rayan berlari kecil, tangannya terangkat ke udara. “Dadah, Ayah!”
Arfan tersenyum tipis, membungkuk sebentar untuk mengusap kepala putranya. “Jangan nakal di rumah, ya.”
Laila berdiri di ambang pintu, melihat suaminya mengenakan sepatu. Biasanya, ia akan membantu mengulurkan tas atau merapikan kerah baju Arfan sebelum melepasnya pergi. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang menahannya.
“Hati-hati di jalan, Mas,” ucapnya akhirnya.
Arfan menoleh, mengangguk singkat sebelum melangkah keluar.
Laila tetap berdiri di ambang pintu, matanya mengikuti langkah suaminya yang menuju motor yang terparkir di depan rumah. Arfan menaiki kendaraan itu, menyalakan mesin. Tapi sebelum beranjak, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik sesuatu dengan cepat.
Laila mengerutkan kening.