Waktu terus bergerak, membawa hari-hari berlalu tanpa banyak yang terlihat berubah. Matahari masih terbit dan tenggelam dengan cara yang sama, rutinitas masih berjalan sebagaimana mestinya. Namun, di antara itu semua, Laila mulai menyadari sesuatu yang sulit dijelaskan. Perubahan kecil, nyaris tak kasatmata, tetapi perlahan terasa semakin nyata.
Arfan masih menjalankan kewajibannya di rumah. Ia masih pulang setiap malam, masih menghabiskan waktu bersama anak-anak—meski tidak lama. Namun, ada sesuatu yang mulai memudar, sesuatu yang menciptakan jarak di antara mereka.
Sore itu, Laila duduk di ruang tengah, menemani Rayan yang sibuk menggambar di atas kertas dengan pensil warna berserakan di lantai. Sesekali, ia melirik Rania yang berbaring di boksnya, menggerakkan tangan mungilnya dengan riang, tertawa kecil saat melihat bayangan dirinya sendiri di mainan gantung di atasnya.
Seharusnya, ini adalah momen yang tenang, hangat, dan penuh kebahagiaan. Tetapi pikirannya terus berkelana, mengusik ketenangan yang seharusnya ia rasakan.
Arfan belum pulang.
Biasanya, suaminya akan memberi kabar sebelum terlalu larut. Tetapi hari ini, tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan yang diterima. Laila melirik ponselnya yang tergeletak di meja, layar hitam tanpa tanda-tanda aktivitas.
Ia menunggu sebentar sebelum akhirnya membuka aplikasi perpesanan. Tidak ada pesan baru dari Arfan. Jarinya sempat mengetik sesuatu, namun ia menghapusnya lagi.
Ia tidak ingin terlihat terlalu curiga.
Beberapa menit kemudian, suara motor terdengar dari luar. Laila mengangkat kepalanya, mengintip dari balik tirai jendela. Arfan baru saja memarkirkan kendaraannya, lalu turun dengan gerakan yang sedikit terburu-buru.
Saat pintu terbuka, Laila tetap duduk di tempatnya, menunggu suaminya masuk. Arfan melangkah ke dalam rumah, melepas sepatu dengan cepat sebelum meletakkan tasnya di meja. Ia mengusap wajahnya sebentar, seperti seseorang yang sedang berusaha mengusir kelelahan.
"Sudah makan, Mas?" Laila akhirnya bertanya, mencoba mengisi kesunyian yang tiba-tiba terasa begitu jelas.
Arfan menoleh sekilas. "Sudah. Tadi makan di luar."
Jawaban itu terdengar biasa saja. Tetapi ada sesuatu dalam suaranya—sesuatu yang membuat Laila ingin bertanya lebih lanjut. Namun, ia menahan diri.
Ia hanya mengangguk pelan. "Rayan menunggumu tadi. Dia ingin menunjukkan gambar barunya."
Arfan tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati putranya yang masih sibuk dengan kertas dan pensil warna. "Apa yang Rayan gambar hari ini?"
Bocah kecil itu langsung mengangkat kertasnya dengan penuh semangat. "Ini Ayah, Bunda, aku, dan Rania!"
Arfan menatap gambar itu, tersenyum samar, tetapi tak banyak berkata-kata. Hanya mengusap kepala putranya sebelum duduk di sofa dan mengambil ponselnya. Jarinya segera bergerak di layar, mengetik sesuatu.
Laila memperhatikannya. Ia melihat bagaimana ponsel kembali menjadi hal pertama yang menarik perhatian Arfan—lebih dari apa pun di sekitarnya.
Ia tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini mulai mengganggunya. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar tak bisa menahan perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Sore berlalu dengan lambat. Arfan tetap di rumah, tetapi kehadirannya terasa seperti bayangan—sekadar ada tanpa benar-benar ada. Sesekali ia berbicara dengan Rayan, sesekali menjawab pertanyaan Laila, tetapi di antara itu semua, ada jeda-jeda panjang. Seperti ada sesuatu di pikirannya yang jauh lebih menarik daripada rumah ini.
Laila mencoba mengabaikannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin ini hanya perasaannya saja. Tetapi ketika malam tiba dan rumah mulai sunyi, pikirannya kembali berkelana, menelusuri apa yang sejak tadi ia coba lupakan.
Malam telah larut, tetapi Laila masih terjaga.
Di sampingnya, Arfan sudah tertidur, napasnya teratur, tubuhnya sedikit membelakangi. Tidak ada yang aneh dalam caranya tidur, tidak ada perubahan mencolok yang bisa menjadi alasan bagi Laila untuk merasa seperti ini. Tetapi ada sesuatu dalam keheningan malam ini yang terasa berbeda—sepi yang lebih berat daripada biasanya, seolah ada jarak yang perlahan tumbuh di antara mereka tanpa ia sadari sejak kapan mulainya.
Ia mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar, matanya menatap kosong ke atas. Biasanya, saat Arfan sudah tidur, ia pun akan ikut tertidur tanpa banyak berpikir. Tetapi tidak malam ini. Ada perasaan yang belum selesai, sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami tetapi terus mengganggu.
Laila memiringkan tubuhnya, menatap punggung suaminya dalam gelap. Apakah ini hanya ada di dalam pikirannya? Apakah ia yang terlalu peka, terlalu mencari-cari sesuatu yang sebenarnya tidak ada?
Tangannya bergerak perlahan, ingin menyentuh lengan Arfan, tetapi ia mengurungkan niatnya. Tidak ada alasan bagi dirinya untuk membangunkan suaminya hanya karena kegelisahan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan jelas.
Ia menghela napas pelan, menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, mencoba memejamkan mata, mencoba berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang mulai berubah. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin perasaan itu tumbuh tanpa bisa ia hentikan.
~~~
Pagi datang dengan cara yang sama seperti biasanya. Matahari mulai naik perlahan, menyinari jalanan kota kecil yang mulai ramai. Laila menyibukkan diri dengan rutinitasnya—menyiapkan sarapan, mengurus anak-anak, memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Ia ingin mengisi harinya dengan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya, tetapi tidak semudah itu. Pikiran yang sejak tadi malam menghantuinya masih ada, tidak pergi ke mana-mana, tetap melekat seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun ia melangkah.
Ia sedang melipat pakaian ketika suara ketukan di pintu terdengar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengenali siapa yang datang. Rahma, seperti biasa, muncul di depan pintu dengan senyum hangat, membawa tas kecil di tangannya.
"Kau sibuk?" Rahma bertanya sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
Laila menggeleng kecil, tersenyum tipis. "Tidak juga. Aku baru selesai membereskan pakaian anak-anak."
Rahma duduk di sofa, menatap sahabatnya dengan ekspresi lembut. Ia tidak langsung bicara, hanya mengamati sejenak, seolah menunggu Laila sendiri yang memulai percakapan. Dan Laila tahu, Rahma bisa merasakan ada sesuatu yang sedang mengganggunya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Laila duduk di sampingnya, menghela napas pelan. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Rahma tetap diam, memberi ruang bagi Laila untuk mengumpulkan pikirannya.
"Aku merasa Arfan mulai berubah," Laila akhirnya berkata, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku tahu dia masih melakukan tanggung jawabnya di rumah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Aku bisa merasakannya."
Rahma menatapnya lekat. "Sejak kapan kau merasa seperti ini?"
Laila terdiam sejenak, mencoba mengingat. "Beberapa minggu terakhir. Atau mungkin lebih lama, aku tidak tahu pasti. Dulu aku tidak begitu memikirkan, tetapi sekarang... rasanya semakin jelas."