Dalam Diam Kita Tenggelam

Adnareth
Chapter #3

Jarak Semakin Terasa

Udara masih dingin ketika Laila terbangun lebih awal dari biasanya. Kegelapan masih menyelimuti sebagian besar ruangan, hanya cahaya remang dari lampu jalan yang menembus jendela kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sosok suaminya yang masih terlelap di sampingnya.

Dulu, sebelum azan Subuh berkumandang, Arfan selalu bangun lebih dulu. Dengan suara lembut, ia akan membangunkan Laila, mengajaknya salat bersama sebelum mereka memulai hari. Tapi kini, rutinitas itu perlahan berubah. Sudah beberapa waktu belakangan, justru Laila yang harus membangunkan suaminya, sementara Arfan semakin sering terlelap dalam tidurnya.

Ia menoleh ke jam dinding. Sudah waktunya.

Pelan-pelan, ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Arfan. “Mas, bangun. Sudah Subuh.”

Arfan bergeming sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. Matanya terbuka perlahan, tetapi tatapannya kosong, masih terjebak di antara sisa kantuk dan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih. “Iya,” gumamnya pelan, namun tak langsung bergerak.

Laila bangkit lebih dulu, mengambil mukena, lalu berjalan keluar kamar menuju tempat wudu. Ia tidak ingin memaksanya, tetapi ada sesuatu yang mulai tumbuh dalam benaknya—sebuah perasaan asing yang enggan diakui. Sesuatu telah berubah dalam diri suaminya.

Saat kembali ke kamar setelah salat, ia mendapati Arfan masih di tempatnya, matanya terpejam lagi, napasnya pelan seolah tak benar-benar berniat untuk bangun. Laila hanya diam menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya beranjak ke dapur, membiarkan segala kegelisahan itu mengendap dalam pikirannya.

Di ruang tengah, suara kecil Rayan mulai terdengar. Bocah itu memang selalu bangun lebih awal, seperti biasanya. Laila melangkah ke dapur, menyiapkan sarapan, mencoba menenangkan pikirannya dengan rutinitas yang tetap berjalan seperti biasa.

Tapi sesuatu terasa berbeda.

Bukan karena suasana di rumah ini, melainkan karena sesuatu yang kini memenuhi pikirannya.

Dulu, pagi-pagi seperti ini terasa lebih hangat. Arfan akan bangun lebih dulu, menemani Laila salat, lalu membantunya menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke toko. Namun, perlahan-lahan semua itu menghilang. Pagi-pagi mereka kini semakin sunyi.

Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Arfan akhirnya bangun, tetapi tanpa banyak bicara. Ia berjalan menuju meja makan, duduk di kursinya, tetapi alih-alih mengambil air wudu, tangannya justru meraih ponsel.

Laila menuangkan teh ke dalam cangkir dan meletakkannya di hadapan Arfan.“Mas mau sarapan sekarang?” tanyanya lembut.

Arfan mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Iya, sebentar.”

Namun, jemarinya tetap sibuk menari di layar ponsel.

Laila mengamati itu—bagaimana benda kecil itu kini lebih sering mengisi waktu suaminya dibandingkan apa pun yang lain. Dulu, pagi mereka dipenuhi percakapan ringan sebelum Arfan berangkat kerja. Namun kini, semuanya terasa lebih sunyi.

Ia duduk di seberang meja, menyesap tehnya perlahan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak kata yang ingin ia ucapkan, tetapi ia tak tahu harus mulai dari mana. Karena setiap kata yang keluar dari mulutnya mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang tak bisa ia hentikan.

Setelah selesai salat Subuh, Arfan tak langsung kembali ke kamar seperti biasanya. Ia hanya mengambil handuk, berjalan ke kamar mandi, lalu keluar dengan ekspresi yang tetap sama—datar, tanpa banyak bicara.

Laila memperhatikannya, menghafal setiap perubahan kecil yang terjadi.

Dulu, Arfan akan menatapnya penuh kelembutan setiap pagi. Kini, tatapan itu semakin jarang ia temukan.

Dulu, Arfan akan membangunkannya dengan suara lembut. Kini, justru ia yang selalu mendahuluinya.

Dulu, mereka akan salat bersama, berbagi cerita di meja makan, dan tertawa kecil sebelum beraktivitas. Kini, semua berubah.

Bukan hanya rutinitas mereka yang bergeser, tapi juga jarak di antara mereka yang semakin terasa.

Suasana meja makan tetap terasa sepi. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang sesekali terdengar. Sinar matahari mulai merayap lebih tinggi ketika Arfan menyelesaikan sarapannya. Ia tidak banyak bicara, hanya menjawab singkat setiap pertanyaan yang diajukan Laila, sebelum kembali menatap layar ponselnya.

Laila menyelesaikan pekerjaannya di dapur, sesekali melirik ke arah suaminya yang masih duduk di meja makan. Dulu, di waktu seperti ini, mereka akan berbicara lebih banyak—tentang pekerjaan, tentang anak-anak, atau sekadar hal-hal kecil yang terjadi di sekitar mereka. Sekarang, obrolan itu semakin jarang, nyaris hilang sama sekali.

Ia melangkah ke meja makan, mengumpulkan piring-piring kotor dan membawanya ke bak cuci. Saat ia kembali, Arfan sudah berdiri, bersiap untuk pergi.

“Hari ini pulang jam berapa, Mas?” tanyanya, mencoba terdengar biasa saja.

Arfan menyandang tas di bahunya, merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor. “Mungkin agak malam. Ada beberapa barang yang harus dibereskan di toko.”

Laila mengangguk pelan. “Oh… baiklah. Hati-hati di jalan.”

Arfan menatapnya sekilas sebelum berjalan keluar rumah.

Laila tetap berdiri di tempatnya, mendengar suara motor suaminya yang perlahan menjauh.

Ada jeda di antara mereka. Jeda yang tidak mereka ciptakan, tetapi perlahan tumbuh dengan sendirinya.

Dulu, sebelum berangkat kerja, Arfan akan menyempatkan waktu lebih lama di rumah. Bahkan dalam keadaan terburu-buru, ia masih sempat bercanda dengan Rayan atau sekadar mengingatkan Laila tentang hal-hal kecil. Kini, semuanya serba singkat, serba terburu-buru—seolah ada sesuatu yang lebih penting yang harus segera ia lakukan.

Laila menghela napas pelan, lalu melangkah ke ruang tengah. Ia duduk di sofa, menatap kosong ke luar jendela.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang perlahan berubah dalam rumah tangga mereka? Ataukah ini hanya perasaannya saja?

Ia ingin percaya bahwa semuanya masih baik-baik saja. Tetapi semakin hari, semakin sulit baginya untuk mengabaikan tanda-tanda yang perlahan muncul satu per satu.

~~~

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Laila memutuskan untuk pergi ke musala lebih awal dari biasanya. Ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, dan tempat itu selalu memberinya ketenangan yang tak bisa ia dapatkan di rumah.

Rayan dan Rania sudah dititipkan sebentar pada Bi Imah, tetangga yang sering membantu menjaga anak-anak. Wanita paruh baya itu selalu dengan senang hati mengawasi mereka, terutama sejak Laila semakin jarang meminta bantuan Umayah, ibu mertuanya, yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan pengajian dan urusan keluarga lainnya.

Saat tiba di musala, udara masih segar. Angin berembus lembut dari halaman kecil di depan bangunan sederhana itu. Beberapa perempuan baru saja menyelesaikan wirid mereka setelah salat Duha, sementara yang lain masih duduk di serambi, menikmati teh hangat yang disuguhkan ibu-ibu pengajian.

Lihat selengkapnya