Pagi datang dengan langit yang masih mendung, meninggalkan sisa hujan semalam yang membuat udara lebih dingin dari biasanya. Laila menarik selimut lebih rapat ke tubuh Rania sebelum beranjak dari tempat tidur, membiarkan putrinya tetap terlelap. Matanya kemudian melirik ke sisi ranjang. Arfan masih tertidur, tetapi ada sesuatu yang berbeda pagi ini.
Ponselnya.
Benda itu tidak lagi tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur, seperti biasanya. Kali ini, ponselnya terselip di bawah bantalnya, seakan disembunyikan.
Laila terdiam, tatapannya tertuju pada ponsel itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Selama ini, Arfan tidak pernah mempermasalahkan di mana ponselnya diletakkan—terkadang di meja, terkadang di atas nakas, tetapi tidak pernah seperti ini. Ia ingin percaya bahwa itu bukan sesuatu yang perlu dicurigai. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin Arfan hanya ingin ponselnya lebih dekat karena urusan pekerjaan.
Tapi tetap saja, hatinya berbisik lain.
Semakin hari, semakin banyak kebiasaan kecil yang berubah.
Laila menarik napas pelan, berusaha mengabaikan pikirannya sendiri, lalu beranjak keluar kamar. Di dapur, ia mulai menyiapkan sarapan. Aroma teh hangat menyebar, bercampur dengan suara televisi dari ruang tengah yang sengaja dinyalakan untuk menemani kesunyian pagi. Sesekali, matanya melirik jam dinding.
Arfan biasanya bangun lebih awal. Tetapi akhir-akhir ini, ia selalu bangun paling terakhir.
Dulu, ia yang lebih dulu membangunkan Laila untuk salat Subuh bersama. Dulu, ia yang lebih dulu duduk di meja makan, membuka koran atau sekadar menggulir ponselnya tanpa tergesa-gesa. Kini, rutinitas-rutinitas kecil itu perlahan memudar, dan Laila tidak tahu kapan tepatnya ia mulai menyadari semua perubahan itu.
Namun pagi ini, semuanya terasa lebih jelas daripada sebelumnya.
Suara pintu kamar yang terbuka menarik perhatiannya. Arfan keluar dengan langkah sedikit terburu-buru. Kaus polonya belum sepenuhnya rapi, rambutnya masih berantakan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menuju meja makan. Laila memperhatikannya dari dapur, menyusun piring sambil sesekali melirik ke arahnya.
Dulu, mereka akan saling menyapa sebelum memulai hari. Kini, hanya ada keheningan yang menggantung di antara mereka.
"Mas mau teh atau kopi?" Laila akhirnya membuka suara, mencoba memberi sedikit kehangatan di pagi yang terasa semakin dingin.
Arfan menatapnya sekilas sebelum kembali fokus pada ponselnya. "Kopi saja."
Laila mengangguk pelan, menuangkan kopi ke dalam cangkir, lalu meletakkannya di hadapan suaminya. Ia duduk di seberangnya, memperhatikan bagaimana Arfan tetap tenggelam dalam layar ponselnya—bahkan saat tangannya meraih cangkir kopi itu.
"Mas."
Arfan mendongak, sedikit terkejut, seolah baru menyadari bahwa Laila sedang menatapnya.
"Hm?"
Laila menghela napas pelan. "Hari ini pulang jam berapa?"
Arfan menyesap kopinya sebelum menjawab. "Mungkin agak malam. Aku ada urusan di luar setelah toko tutup."
"Urusan apa?"
Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka. Arfan meletakkan cangkirnya, lalu menjawab dengan nada datar, "Biasa, pekerjaan. Ada beberapa hal yang harus diurus dengan supplier."
Laila tidak langsung menanggapi. Tatapannya bertahan lebih lama dari seharusnya, mencoba mencari sesuatu di wajah Arfan yang mungkin bisa menjelaskan lebih dari kata-katanya. Dulu, jika Arfan harus lembur atau ada urusan mendadak, ia akan memberi tahu lebih dulu—tanpa harus ditanya seperti ini. Sekarang, segalanya terasa seperti jawaban yang harus dipancing lebih dulu.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Arfan tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali menatap ponselnya, ibu jarinya menggeser layar dengan ekspresi serius.
Laila menatap benda itu. Semakin hari, jarak di antara mereka terasa semakin sempit, tetapi bukan dalam cara yang seharusnya. Bukan mereka yang semakin dekat satu sama lain, melainkan sesuatu yang tumbuh di antara mereka—sesuatu yang dingin dan menyesakkan. Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya, dan ia mulai yakin, jawabannya ada di ponsel itu.
~~~
Siang beranjak ketika Laila akhirnya memutuskan untuk keluar rumah. Langit masih mendung sejak pagi, tetapi tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Setelah memastikan anak-anak dalam pengawasan Bi Imah, ia melangkah menuju rumah Rahma, yang letaknya tidak terlalu jauh.
Begitu tiba, Rahma menyambutnya dengan senyum lembut, seperti biasa.
"Laila? Tumben datang siang-siang begini."