Dalam Diam Kita Tenggelam

Adnareth
Chapter #5

Mencari Celah

Laila tidak tahu kapan tepatnya ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Tetapi pagi ini, setelah malam yang panjang tanpa banyak tidur, ada sesuatu yang menarik perhatiannya—bagaimana Arfan membuka ponselnya. Suaminya masih setengah mengantuk saat bangun, berjalan ke kamar mandi tanpa menyadari bahwa Laila sudah lebih dulu terjaga. Dari tempatnya di tempat tidur, ia melihat Arfan kembali, mengambil ponselnya dari meja, lalu menyalakan layar. Ada jeda sejenak, sebelum jari-jarinya bergerak cepat di atas layar.

Itu dia. Kode sandi.

Laila hanya melihat sekilas, tapi itu cukup untuk membuatnya yakin bahwa ia bisa mengetahuinya jika cukup sabar. Setiap orang memiliki kebiasaan saat mengetikkan sesuatu secara berulang, dan Arfan tidak terkecuali. Sesuatu yang dulu tidak pernah ia perhatikan, kini menjadi hal yang paling ingin ia ketahui.

Di meja makan, Arfan menyesap kopinya tanpa banyak bicara. Matanya sesekali melirik layar ponsel, jemarinya mengetik cepat, ekspresinya datar tetapi penuh fokus. Laila memperhatikannya dari seberang meja, menyadari bagaimana benda itu kini lebih sering berada di genggaman Arfan dibanding sebelumnya. Ia tidak bertanya. Tidak sekarang. Untuk saat ini, ia hanya perlu mengamati.

Setelah Arfan berangkat, Laila tetap duduk di meja makan, membiarkan piring-piring kosong tetap di tempatnya. Pikirannya masih tertuju pada satu hal—kode sandi ponsel Arfan. Pola itu terus terulang di benaknya, seolah-olah jari-jari Arfan masih bergerak di layar. Ia menarik napas panjang, lalu menghela pelan.

Apa yang sedang ia lakukan? Ini bukan dirinya. Bukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang istri. Namun, perasaan curiga itu semakin kuat, membesar tanpa bisa ia kendalikan.

Ia bangkit, membawa piring-piring ke dapur dan mulai mencuci, berharap dapat mengalihkan pikirannya. Tetapi tetap saja, bayangan Arfan dengan ponselnya kembali mengusik benaknya. Dulu, mereka berbagi segalanya. Tidak ada rahasia. Tapi kini, ada batasan yang tidak pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang menyesakkan dadanya. Ia menepis perasaan itu cepat-cepat. Ia tidak akan menuduh tanpa bukti. Tidak akan berasumsi hanya karena perasaan yang belum tentu benar.

Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan tinggal diam. Jika Arfan menyembunyikan sesuatu, maka ia akan mencari tahu. Dengan caranya sendiri.

Sepanjang pagi, Laila berusaha menyibukkan diri dengan membereskan rumah, tetapi pikirannya tetap melayang-layang di tempat lain. Setiap kali ia mencoba mengabaikan kecurigaannya, semakin kuat pula dorongan dalam dirinya untuk mencari tahu. Tanpa sadar, sebelum tengah hari, ia sudah melangkah keluar rumah menuju tempat yang selalu ia datangi saat pikirannya penuh dengan hal-hal yang tak bisa ia pahami sendiri—rumah Rahma.

Laila mengetuk pintu dua kali. Suara langkah terdengar dari dalam sebelum akhirnya Rahma membukakan pintu. Senyum hangatnya menyiratkan sedikit keheranan. “Laila? Tumben datang siang-siang begini. Masuklah.”

Laila tersenyum kecil, melangkah masuk ke ruang tamu yang sudah familiar baginya. Ia duduk, merasakan kehangatan rumah Rahma yang selalu terasa nyaman. “Aku tidak tahu, Rahma… Aku hanya merasa ada sesuatu yang menggangguku akhir-akhir ini.”

Rahma menuangkan teh ke dalam cangkir di hadapan mereka, lalu menatap Laila dengan penuh perhatian. “Masih tentang Arfan?”

Laila mengangguk pelan. Jemarinya menggenggam cangkir teh, membiarkan kehangatannya menyebar di telapak tangannya, tetapi tetap tak bisa mengusir dingin yang menjalar di dalam hatinya. “Aku mulai memperhatikan kebiasaannya, Rahma. Ponselnya selalu ada di tangannya. Aku bahkan mulai mengingat bagaimana ia membuka layarnya. Aku merasa… aku sedang mencari sesuatu yang tidak ingin kutemukan.”

Rahma terdiam sesaat, menatap Laila dengan sorot mata lembut namun penuh kehati-hatian. “Laila, kau tahu aku selalu mendukungmu, tapi… apakah ini cara yang kau inginkan untuk mencari tahu?”

Laila menatap sahabatnya, sesuatu dalam kata-kata itu membuatnya tersadar. Ia tidak pernah ingin menjadi seseorang yang hidup dalam kecurigaan. Tetapi bagaimana mungkin ia mengabaikan semua tanda-tanda yang sudah begitu jelas?

Rahma menghela napas, menatap Laila dengan sorot mata penuh kehati-hatian. "Aku hanya ingin kau berpikir baik-baik sebelum bertindak. Jika kau menemukan sesuatu, apakah kau siap untuk menerimanya?"

Laila tidak langsung menjawab. Kata-kata Rahma menggantung di udara, membekas di pikirannya. Jika ia terus berjalan di jalur ini, tidak ada jalan kembali. Namun, yang lebih menakutkan dari menemukan sesuatu yang menyakitkan… adalah tetap berada dalam ketidaktahuan.

Ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Udara sore terasa lembap, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang di sepanjang jalan. Percakapannya dengan Rahma masih terngiang-ngiang di kepalanya.

"Jika kau menemukan sesuatu, apakah kau siap untuk menerimanya?"

Lihat selengkapnya