Dalam Diam Kita Tenggelam

Adnareth
Chapter #6

Kebenaran di Balik Layar

Laila menahan napas, menatap layar ponsel yang kini terbuka di tangannya. Jari-jarinya gemetar, sementara jantungnya berdebar kencang, lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya seolah memberi peringatan bahwa apa yang akan ia temukan bukanlah sesuatu yang ingin ia lihat.

Layar utama ponsel menampilkan aplikasi-aplikasi yang sudah familiar—tidak ada yang tampak aneh atau mencurigakan. Namun, Laila tahu, jika Arfan memang menyembunyikan sesuatu, maka itu tidak akan terlihat di permukaan.

Dengan tangan yang terasa berat, ia membuka aplikasi pesan. Matanya bergerak cepat, menelusuri daftar percakapan, mencari sesuatu—sesuatu yang bisa membuktikan bahwa firasatnya selama ini bukan sekadar kecemasan tak beralasan.

Kemudian, satu nama menarik perhatiannya.

Safina.

Dada Laila terasa sesak. Jemarinya membeku di atas layar. Ada dorongan untuk menutup ponsel dan berpura-pura tidak pernah melihatnya, tetapi ia tahu itu bukan pilihan. Dengan napas yang semakin memburu, ia membuka percakapan itu.

Pesan-pesan itu muncul di layar.

“Hati-hati, Mas. Jangan sampai ada yang tahu.”

“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun, tetapi aku juga tidak bisa menghindari ini.”

“Aku rindu…”

Jari-jarinya mencengkeram ponsel lebih erat. Dadanya naik turun, seakan udara di ruangan ini mendadak terlalu berat untuk dihirup.

Ini nyata.

Bukan sekadar ketakutan dalam pikirannya. Bukan sekadar firasat tanpa bukti.

Arfan dan Safina.

Dunia Laila seakan berputar, tetapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar. Jemarinya terus menggulir pesan-pesan itu, membaca kata demi kata, menelusuri jejak yang selama ini tak pernah ia duga benar-benar ada. Semakin jauh ia membaca, semakin jelas kenyataan yang menghantamnya—kepercayaannya telah dikhianati dengan cara yang paling menyakitkan.

Ia tidak tahu sudah berapa lama duduk di tepi ranjang dengan ponsel Arfan di tangannya. Waktu terasa beku. Udara di ruangan ini mendadak berat, menyisakan hanya dirinya dan layar yang terus menampilkan kepedihan yang tak ingin ia hadapi.

Pesan-pesan itu terus berlanjut. Kata-kata yang tertulis terlalu akrab, terlalu lembut untuk sekadar percakapan biasa antara rekan kerja. Laila menggulir lebih jauh, mencari akhir dari semua ini, tapi yang ia temukan justru lebih dalam.

“Aku ingin lebih banyak waktu denganmu.”

“Aku juga, tapi kita harus hati-hati.”

“Aku takut ketahuan, tapi aku juga tidak bisa berhenti.”

Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat, tetapi tubuhnya terasa begitu lemah. Setiap kata yang terbaca bagaikan belati yang menembus dadanya, meninggalkan luka yang tak terlihat tetapi nyata.

Sejak kapan? Sejak kapan Arfan dan Safina memiliki hubungan seperti ini? Sejak kapan ia hidup dalam kebohongan tanpa menyadarinya?

Laila menggigit bibir, mencoba menahan air mata yang menggenang. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin melempar ponsel itu hingga hancur. Namun yang paling menyakitkan bukanlah pesan-pesan itu sendiri, melainkan fakta bahwa ia telah mencurigai ini sejak lama, tetapi tetap berharap dirinya salah.

Tapi ia tidak salah. Bukti ada di tangannya. Dan tidak ada cara untuk menghapusnya.

Laila menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri meski kepalanya berdenyut hebat. Arfan masih di kamar mandi. Ia tidak punya banyak waktu. Dengan gerakan cepat, ia mengambil beberapa tangkapan layar, menyimpannya di ponselnya sendiri, lalu menghapus riwayat terakhir di ponsel Arfan. Tidak boleh ada jejak.

Lalu, pintu kamar mandi terbuka.

Laila buru-buru meletakkan ponsel Arfan kembali ke tempat semula dan menoleh ke arah lain, berpura-pura terlihat biasa. Jantungnya masih berdegup kencang, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Arfan keluar, mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum meraih ponselnya dari meja. Laila melirik sekilas, memperhatikan bagaimana suaminya mengetuk layar tanpa sedikit pun kecurigaan bahwa seseorang baru saja masuk ke dalam rahasia yang selama ini ia jaga.

Laila mengepalkan tangan di balik selimut. Ia tahu sekarang. Ia tahu semuanya.

Tapi apa yang harus ia lakukan dengan kebenaran ini?

Tak Ada Jalan Kembali

Lihat selengkapnya