Laila berjalan pulang dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Angin malam menyapu wajahnya, tetapi tak ada kesejukan yang mampu meredakan kekacauan dalam pikirannya. Percakapannya dengan Rahma terus menggema di kepalanya—kata-kata yang menyuruhnya bertindak, mendesaknya untuk mengambil keputusan. Namun, bagaimana mungkin ia bertindak jika bahkan untuk berpikir saja dadanya terasa sesak?
Setibanya di rumah, suasana begitu sunyi. Rania tertidur pulas, tubuh mungilnya terbungkus selimut, sementara di sampingnya, Rayan bergerak sedikit dalam tidurnya sebelum kembali terlelap. Laila berdiri di ambang pintu cukup lama, membiarkan wajah polos kedua anaknya menjadi satu-satunya hal yang memberinya ketenangan.
Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
Ia melangkah keluar dari kamar anak-anak, kembali ke kamarnya sendiri. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada meja kecil di samping ranjang. Kosong. Biasanya, ponsel Arfan akan tergeletak begitu saja di sana. Malam ini, benda itu tak ada di tempatnya.
Arfan belum pulang.
Laila menekan tombol daya pada ponselnya sendiri, memeriksa layar. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Tak ada alasan baginya untuk berpura-pura bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Tangannya melemas. Sejak kapan Arfan berhenti peduli bahkan untuk sekadar memberi kabar? Sejak kapan lelaki itu merasa tak perlu lagi mencari alasan?
Ia mendekati tempat tidur, duduk di tepinya, lalu memejamkan mata. Ia ingin tidur. Ingin membiarkan pikirannya beristirahat walau hanya sebentar. Namun, setiap kali ia mencoba, bayangan kata-kata di layar ponsel Arfan kembali muncul, mengingatkannya bahwa ini bukan sekadar mimpi buruk. Ini kenyataan yang harus ia hadapi.
Laila tak tahu sudah berapa lama ia duduk tanpa bergerak. Dadanya masih sesak, pikirannya terus berputar, namun ia tak menemukan jawaban untuk kegelisahannya. Arfan belum pulang. Dan ini bukan pertama kalinya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda—tak ada pesan, tak ada telepon, tak ada upaya untuk membuat alasan seperti biasanya.
Ia menatap layar ponselnya yang redup. Seharusnya, ia mengirim pesan lebih dulu. Menanyakan keberadaan Arfan, seperti seorang istri yang peduli. Seharusnya, ia bertanya di mana suaminya sekarang, apa yang sedang ia lakukan.
Tapi ia tak bisa.
Apa gunanya bertanya jika ia sudah tahu jawabannya?
Tangannya menggenggam erat ponsel di pangkuannya. Ia bisa saja mencoba menelepon Arfan, tapi ia tak ingin mendengar suaminya mencari alasan. Tak ingin mendengar kebohongan lain yang akan semakin membuatnya sesak.
Suara jarum jam terdengar begitu nyaring di antara keheningan. Malam semakin larut, tapi Arfan masih belum kembali. Laila menarik napas panjang, menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Jika ia terus menunggu seperti ini, ia hanya akan semakin terjebak dalam pikirannya sendiri.
Perlahan, ia bangkit, melangkah keluar dari kamar, lalu menuju dapur. Tangannya secara otomatis mengambil gelas, mengisi air, namun sebelum sempat menyesapnya, sesuatu di luar rumah menarik perhatiannya.
Suara motor berhenti di depan pagar.
Jantungnya mencelos.
Arfan.
Ia meletakkan gelas di meja, lalu berjalan menuju jendela ruang tamu. Dari balik tirai, ia melihat suaminya turun dari motor, membuka pagar dengan gerakan lambat. Arfan tak tampak terburu-buru. Tak ada raut bersalah, tak ada ketakutan akan ketahuan. Seakan-akan ia tak perlu lagi memberi alasan.
Laila menggigit bibirnya. Ia bisa saja langsung membukakan pintu, berdiri di ambangnya, menunggu Arfan masuk, lalu menanyakan semuanya. Tetapi ia tahu, berbicara dengan emosi yang masih meluap-luap hanya akan membuatnya kehilangan kendali.
Ia menarik napas dalam, menekan gejolak di dadanya, lalu berbalik kembali ke kamarnya.
Beberapa detik kemudian, suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki yang menggema di lorong. Laila berbaring, menutup matanya rapat, berpura-pura tertidur meskipun tubuhnya masih terasa tegang. Ia tidak ingin berbicara malam ini. Bukan karena ia tak ingin tahu jawabannya, tetapi karena ia ingin Arfan berpikir bahwa ia belum tahu apa-apa.
Ia tetap diam, berusaha mengatur napasnya agar terdengar setenang mungkin. Dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki Arfan memasuki kamar, mendengar desahan napasnya yang berat, lalu suara benda yang diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang.
Lama sekali, tak ada suara lain selain desiran halus kipas angin.
Laila ingin membuka mata, ingin menatap wajah suaminya, ingin mencari jawaban di sana. Tetapi ia menahan diri.