Dalam Pelukan Ikan

Diva Aelah
Chapter #1

Bab 1 #Maria

Aku menyambut aroma petrikor dengan lembut. Tubuh yang halus memelukku dengan erat. Suara hujan kurasa sejak tadi akan terus membasahi kota. Hawa yang sangat berbeda dari tadi malam yang panas. Kubenamkan kepalaku di dada suamiku. Ia masih tertidur dengan lelap, tak peduli jika berangkat kerja akan terlambat, mungkin ia sudah mengantisipasi dengan mengambil cuti. Aku menggesekkan wajahku ke kulitnya, mencari kehangatan di antara udara yang dingin ini.

“Bukannya kamu bilang hari ini anak teater ada latihan?” tanyaku pelan. Tanganku sudah beralih untuk mengusap wajahnya perlahan, ingin membangunkannya selembut mungkin.

Yohan dengan sengaja mengelus wajahnya ke tanganku dengan manja, seolah tidak ingin melepaskan suasana saat ini dan pergi memenuhi janjinya dengan para murid. Ia kemudian menghela napas panjang dan membuka matanya perlahan. Tatapannya yang hangat dan lembut itu membuatku tenang seketika.

“Terus pergi dan ninggalin istriku?”

Aku tertawa pelan dan mengangguk. “Kita udah kembali ke realita. Ayo kembali bekerja.”

Ia meregangkan tubuhnya sejenak, hingga akhirnya duduk dan menatapku. Ia mendekatkan diri ke pipiku dan menciumnya. “Hari ini kamu ada agenda apa?” Yohan turun dari kasur, mengecek ponsel pintarnya sebelum akhirnya mengambil handuk di gantungan.

“Aku ada janji wawancara di beberapa coffeeshop sama Lana. Mungkin setelah itu kita bakal ngedit di studio. Kamu mau mampir?”

Yohan mengangguk. “Sehabis ngajar aku ke sana.” Lantas ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya dari noda duniawi.

Kehidupan kami begitu sederhana. Setelah berpacaran selama enam bulan, kami memutuskan untuk menikah dengan sederhana. Hanya keluarga inti yang datang, tak perlu ada tetangga atau keluarga yang entah dari mana garis keturunannya yang datang. Sejak kami menyadari jika pendapatan kami tidak terlalu banyak, kami telah memutuskan banyak hal untuk di masa depan. Sekarang, meksipun dunia tengah beejalan lambat, kami menjalaninya dengan senang hati. Kupikir kami hanya akan berdua hingga akhir nanti.

Aku hanya bekerja di industri kreatif, membuat majalah yang disebarkan di beberapa toko kopi. Sedangkan Yohan bekerja sebagai dosen teater di institut seni dan sesekali mengambil pekerjaan sebagai pengajar di les atau komunitas. Intinya kehidupannya penuh dengan emosi di atas panggung.

“Sayang.”

Kualihkan pandanganku pada Yohan yang baru saja selesai dari ritual pembersihan tubuhnya itu.

“Kayaknya aku enggak jadi mampir ke studio. Aku baru ingat ada rapat untuk pameran sama orang komunitas. Enggak apa-apa, kan?”

Aku tersenyum dengan lembut dan mengangguk. “Gak apa-apa. Tenang aja.” Aku turun dari kasur dan mencium pipinya saat ia menggunakan kemejanya.

“Kamu mau ngopi sebelum pergi?”

Yohan menatapku sebentar, selayaknya orang yang berpikir akan waktunya, kemudian ia mengangguk. Melihat jawabannya itu, aku berlalu keluar dari kamar dan menuju dapaur untuk membuat kopi. Dimulai dengan menghancurkan biji kopi favorit Yohan, biji kopi yang berasal dari jawa barat, sebab selalu ada sedikit rasa manis dan buah-buahannya. Mesin grinder kecil berbunyi kasar, memenuhi seluruh ruangan dengan sauranya dan aroma kopi yang menyeruak. Aku memanaskan mesin kopi, hingga akhirnya seluruh biji kopi telah menjadi bubuk. Aku memasukkan semua bubuk kopi itu ke dalam portafilter dan menggantungnya di grouphead mesin. Setelah kutekan tombol untuk dua gelas, dan kuletakkan gelas-gelas itu di tray, mesin mulai berbunyi dan meriintikkan espresso secara perlahan. Kusiapkan sedikit air hangat di cangkir-cangkir dan menunggu hingga mesin merintikkan seluruh airya ke dalam gelas kecil itu. Setelah usai, kucampur espresso itu ke dalam cangkir yang berisi air hangat. Satu gelas kopi pahit sudah siap untuk diminum. Yohan biasanya akan menyukai kopi pekat seperti long black atau Americano, tetapi untuk suasana tertentu ia akan memilih kopi filter dan membuatnya sendiri.

Tepat setelah kopi siap disajikan, Yohan duduk di depan meja pantry dan menikmati kopinya dengan tenang. Sejak kami berdua sangat menyukai kopi, dan di studioku sudah memiliki kopi untuk berjualan, Yohan memutuskan untuk membeli satu untuk di rumah, supaya hingga di saat seperti apa pun kami tetap bisa menikmati kopi.

Lihat selengkapnya