Aku tertidur di studio. Mungkin karena itu juga Yohan datang kemari. Sudah pukul sepuluh malam dan aku belum kembali ke rumah. Saat kusadar, Yohan sudah duduk di hadapanku dengan laptopnya yang menyala. Ia menggunakan kacamata yang membuatnya lebih tampan daripada biasanya.
“Kamu malam ini mau tidur di sini aja?” Yohan bersuara, tetapi tatapannya tertuju pada laptopnya.
Di lantai dua studio ada kamar yang sengaja aku dan Lana sisipkan supaya bisa tidur jika lembur di studio. Namun, entah mengapa setelah terbangun seperti ini aku tidak ingin tertidur lagi. Aku takut, semakin lama dan larut aku akan melupakan Yohan karena penyakit ikan-ikan ini.
“Yohan.”
Panggilan namanya itu membuat Yohan menatapku sebentar. Tangannya meraih tanganku dan mengelusnya dengan lembut. “Kenapa?”
“Aku takut. Takut kalau aku bakal ngelupain semuanya. Termasuk tentang kamu.”
Yohan menatapku dengan serius. Seolah ia tidak ingin rasa takut itu memelukku lebih erat. “Kalau ada satu hal yang bisa kulakukan, aku cuman mau mengambil rasa takut dan sakit kamu itu. Kamu gak sendiri, kamu punya aku. Saat kamu mulai merasa lupa, kamu bisa cerita ke aku kapan pun.”
“Kalau suatu hari itu adalah di saat kamu sedang sibuk mengajar atau tampil di panggung, bagaimana?”
“Akan kuusahakan semuanya untuk kamu.” Bagi perempuan, kupikir siapa yang tidak ingin diusahakan? Sedikit saja, meskipun hanya kalimat itu saja, aku ingin bergantung selamanya dengan janji itu.
Kami berakhir di studio saja. Tertidur lelap di lantai dua dengan saling memeluk. Sebab besok pagi Yohan akan kembali bekerja dan Lana akan datang, kupikir kami harus bangun lebih pagi. Namun, aku tidak bisa terlelap sedikit pun. Aku tidak bisa tidur dengan tenang. Tidak jika aku telah mengetahui bahwa umurku tinggal sedikit. Aku terperangkap dalam kalimat “Apa yang harus kulakukan.”
Dalam bayang-bayang pikiranku sendiri, kepeluk erat rasa takut tanpa henti. Kupikir pelukan ini dilakukan bersama Yohan, tetapi pada akhirnya aku merasakan sakit ini sendirian. Mungkin aku juga tidak ingin membiarkan Yohan terlibat dalam sakitku. Yohan tidak perlu merasakan sakit.
Kesadaranku dikembalikan pada pukul enam pagi. Aku sudah duduk di sofa studio, dengan cangkir kopi dalam pelukan telapak tanganku. Kutatap keluar jendela, pemukiman sekitar yang tampak sibuk dari sini. Tubuhku menjadi hangat saat kusadari Yohan memelukku. Tangannya melingkar di leherku. Ia menciumi dahiku dengan lembut dan sederhana. Terasa menenangkan dan menyedihkan di saat yang bersamaan. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan umurku akan berakhir dalam penyakit ikan ini.
“Hari ini kamu bakal ngapain?” tanyanya dengan sedikit masih merasa mengantuk. Suaranya terasa sanat berat dan ia seperti masih belum siap untuk mengeluarkan suara.