Perempuan itu memerkosa saya. Namun, banyak orang yang tidak percaya hal itu karena saya seorang laki-laki. Saya malah mendapat perundungan dari sebagian masyarakat, seakan-akan seorang laki-laki tak bisa menjadi korban dan seorang perempuan tak mungkin atau tak mampu menjadi pelaku.
Beberapa laki-laki yang berkomentar membuat jantung saya berdebar-debar, sementara guncangan dalam diri saya membikin tubuh saya gemetar. Saya yang berstatus korban malah mendapat penindasan. Saya seperti dipukuli habis-habisan. Alih-alih mendapat dukungan atau kekuatan dari sesama laki-laki, saya malah seolah-olah dibuat mati.
“Kalau aku malah minta nambah terus. Kalau perlu sampai 12 ronde. Uhuy!”
“Dunia sudah terbalik. Cewek perkosa cowok. Jadi pengin! Ayo, cewek, perkosa aku! Hihihi.”