Siang itu saya ke luar gedung sekolah tidak langsung pulang ke rumah, tapi ke kediaman Sandri terlebih dahulu. Saya ingin menjenguk Pak Barko yang kata Sandri sedang sakit. Sebagai pacarnya Sandri, tentu saja ada baiknya saya segera mengunjungi orang tuanya itu. Saya ingin mendapat kesan baik di mata Pak Barko, bahwa saya adalah laki-laki yang cocok untuk anaknya, atau setidaknya dia berpikir kalau saya adalah anak yang hormat dan mengasihi orang tua, sehingga ke depan Pak Barko semakin percaya untuk menyerahkan putrinya hidup bersama saya.
Saya membonceng Sandri menggunakan sepeda motornya. Saya memang tak punya kendaraan beroda dua seperti itu. Pernah suatu hari saya minta dibelikan, tapi Bapak dan Emak saya tidak mengizinkan, padahal saya mengerti kalau bisa memiliki motor dengan cara kredit, bahkan saya dengar dari tetangga DP-nya ada yang nol rupiah. Namun, mereka tetap beralasan saya belum boleh mengendarai sepeda motor lantaran saya tidak mempunyai SIM. Kata mereka, jika nanti saya ditilang polantas tersebab ketiadaan SIM, mereka akan malu karena dicap menjadi orang tua yang tidak bijak dalam memberi izin kepada anak yang belum cukup umur untuk berkendara. Belum lagi jika harus ada sejumlah biaya yang dikeluarkan tersebab tilang, itu bisa jadi menambah masalah baru. Setelah tahu alasan mereka begitu, saya akhirnya merengek minta duit untuk membuat SIM saat usia saya 17 tahun, tapi tetap saja Bapak dan Emak enggan mengabulkan permohonan saya itu. Kini, Bapak dan Emak tahu saya sering mengendarai motor milik Sandri, mereka tetap saja tidak membelikan apa yang saya minta itu. Akhirnya saya sadar, bahwa mereka bukan tidak mengizinkan saya mengendarai motor, tapi saya tidak diperbolehkan memiliki motor, terlebih dari duit mereka. Kemudian saya harus lebih tahu diri, apalagi Bapak bekerja sebagai penjaga gudang di sebuah pabrik kecil dengan gaji jauh di bawah upah minimum kota. Setelah benar-benar paham akan hal itu, saya tak lagi menyinggung soal motor.
Setibanya di rumah Sandri, saya langsung disambut baik oleh Bu Tini. Ibunda Sandri itu memang tahu kalau saya dan anaknya berpacaran. Bu Tini dan Pak Barko sejauh ini tampak senang terhadap saya. Pernah suatu hari saya bertanya kepada Sandri, apa yang membuat Bapak dan Ibunya setuju kalau kami berpacaran? Lantas Sandri menjawab, karena saya termasuk murid yang pintar, dan lantaran hal itu mereka berharap kepandaian saya dalam pelajaran bisa menular ke anak mereka. Ya, di sekolah saya memang beberapa kali juara kelas, biasanya masuk tiga besar.
Setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kanan Bu Tini, beliau yang sedang berada di teras depan lantas mengajak saya ke dalam rumah. “Bagaimana sekolah hari ini?” tanyanya kemudian.
“Baik, Bu,” jawab saya disudahi dengan senyuman. “Oh iya, Bu, ini buat Bapak. Katanya Bapak sakit.” Saya menyerahkan kantong plastik berisi sesisir pisang. Buah itu saya beli tadi di tukang buah pinggir jalan. Sebenarnya, Sandri melarang saya membelikan buah tersebut untuk Pak Barko, tapi saya bersikeras menggunakan duit simpanan saya dari sisa uang sekolah. Sandri tak mau merepotkan saya, tapi saya ingin terus memperoleh anggapan baik dari kedua orang tuanya.
“Repot-repot segala, Nak Randu.” Bu Tini menyambut kantong plastik hitam itu. Perempuan berkulit sawo matang ini tampak penasaran. Dilihatnya buah pisang dengan kulit berwarna kuning di dalam kantong tersebut. “Bapak cuma sakit flu.” Dia terkekeh pelan, seakan-akan menertawai kebodohan saya membawakan sesisir pisang untuk Pak Barko karena menganggap penyakit suaminya itu tergolong ringan, dan tak perlulah dibawakan buah seperti itu. Namun, saya tidak mau memedulikan apa yang saya pikirkan itu, yang penting saya datang tidak dengan tangan kosong, terlebih saat Pak Barko sedang kurang sehat.
“Aku ke kamar dulu, ya, mau mengganti baju.” Sandri tersenyum pada saya, lalu berlalu ke lantai atas. Sementara saya diajak Bu Tini ke ruang tengah, di mana ada Pak Barko yang sedang duduk di sofa sambil menyaksikan sebuah tayangan berita di televisi.
“Nih, si Randu bawakan Bapak pisang.” Bu Tini duduk di sofa seraya menaruh sesisir pisang ke meja di depan Pak Barko.
“Makasih, Nak Randu. Kamu ini kalau dengar Bapak atau Ibu sakit, langsung aja menjenguk bebawaan segala. Bagaimana kalau nanti kamu sudah menikah sama Sandri, Bapak dan Ibu dibawakan apa, ya? Jadi penasaran.” Pak Barko melepaskan kacamatanya yang kemudian beliau taruh ke meja.
Saya tidak tahu harus menanggapi ucapan Pak Barko seperti apa. Saya jadi bingung dan khawatir salah bicara.
“Bercanda, Nak Randu. Bapak bercanda barusan. Jangan terlalu serius.” Pak Barko tertawa.
Saya ikut terkekeh, sementara dalam benak saya membayangkan perut buncit Pak Barko sampai terguncang-guncang karena ledakan sensasi lucu yang dia hadirkan, padahal buat saya itu tidaklah lucu. Saya menyertai tawa bukan karena perkataannya tadi saya anggap guyonan, tapi lebih kepada saya mau menghormati gaya candaannya saja.
“Tapi kalau kamu menganggap serius ya gak apa-apa.” Pak Barko tertawa lebih keras, bahkan tawanya mengundang tawa Bu Tini. Mereka jadi seperti menertawakan kepolosan atau ketidakmengertian saya. Namun, saya tak mau terlalu memusingkan perkara itu. Saya pun kembali ikut terkekeh.
Pak Barko lantas mengambil satu pisang. Pria berkulit sawo matang dengan tubuh gemuk ini kemudian memakan buah tersebut.
Setelah itu, Sandri turun dari lantai atas. Dia sudah mengganti seragam sekolahnya. Kini dia memakai kaus putih polos dan celana pendek di atas lutut. Kulitnya yang sawo matang terlihat bersih, sementara senyumnya begitu menawan. Sandri tidak bisa dikatakan cantik, tapi juga tidak jelek. Bagi saya, dia adalah gadis manis. Lagi pula saya yakin, di matanya, saya juga tidak dianggap ganteng, tapi juga tidak jelek-jelek amat.
Saya dan Sandri menjadi lebih dekat karena perdebatan. Waktu itu pernah ada pesta olahraga Asia, dan negeri ini menjadi tuan rumahnya. Banyak cabang olahraga yang dimainkan, salah satunya bulu tangkis. Ada seorang atlet laki-laki pebulu tangkis Indonesia yang memang rupawan. Dia yang memenangkan pertandingan melepaskan bajunya, sehingga tubuhnya yang bagus dan tampak ideal itu terpampang nyata. Apa yang dia lakukan itu sontak membuat para penonton, khususnya yang perempuan menjerit gembira, bukan hanya karena kemenangan, tetapi juga terkait badannya yang sixpack itu. Yang kemudian terjadi, fotonya yang telanjang setengah badan itu viral di media sosial. Banyak perempuan yang membicarakannya setelah melihat foto tersebut, sampai-sampai ada komentar ‘rahim menghangat’, ‘hamil online’, ‘roti sobek’, ‘ovarium meledak’, ‘bikin basah’, ‘tuba falopi bergetar’, ‘serviks melebar’, dan lain sebagainya. Saya yang sebagai laki-laki merasa mual dan jijik membaca komentar-komentar itu. Saya merasa dipertontonkan bahwa si pebulu tangkis tersebut sedang dilecehkan banyak perempuan, khususnya yang menonton pertandingan bulu tangkis itu yang juga disiarkan secara langsung di televisi. Saya tahu, tidak semua perempuan yang menoton pertandingan itu kemudian ikut-ikutan membikin komentar-komentar sejenis tadi. Tentu banyak juga perempuan yang tidak lantas terfokus pada ‘roti sobek’ di badan si pebulu tangkis, apalagi lantas merasakan ‘rahim menghangat’, ‘ovarium meledak’, ‘bikin basah’, ‘tuba falopi bergetar’, ‘serviks melebar’, serta mendadak ‘hamil online’. Saya juga tahu, pebulu tangkis itu tidak ada niatan apa pun dalam melepas baju. Itu hanya ekspresi kegembiaraan si atlet karena memenangkan pertandingan.
Di sekolah, Sandri menjadi salah satu yang membikin komentar ‘roti sobek’ perihal foto si pebulu tangkis itu. Sebagai laki-laki, saya benar-benar jijik dan muak, terlebih di media sosial ada komentar ‘Kenapa cuma kausnya doang yang dibuka? Gemes, deh, pengin merosotin celananya. Hahaha.’, ‘Ah, badannya bagus banget! Rahim gue hangat!’, dan sejenis lainnya. Kemudian saya menyindir Sandri karena saya terganggu dengan fenomena itu.
“Kenapa badan bagian bawah si atlet itu kamu bilang ‘roti sobek’?” tanya saya memulai perdebatan.
“Karena memang mirip roti sobek,” jawab Sandri.
“Ya, kenapa disamakan dengan roti sobek?” tanya saya lagi yang masih belum puas dengan penjelasannya. Lantaran dia tak langsung menjawab, saya kembali bicara, “Karena menggemaskan, ya? Roti itu ‘kan makanan, jadi badannya seakan-akan mau kamu jilat, celup, putar, emut, gigit, lalu telan. Begitu, ‘kan?”
“Apaan, sih, kamu? Itu namanya pelecehan!” tegas Sandri.
“Kemarin aku juga melihat pertandingan voli pantai. Wow! Atletnya perempuan. Mereka cuma pakai beha dan kancut! Belahan tetek dan pantatnya kelihatan loh, tapi aku enggak punya pikiran buah dadanya itu seperti bakpao yang enak diemut atau dimakan sekalian. Kenapa? Karena mereka sedang bertanding. Mereka sedang berolahraga. Mereka bukan sedang di ranjang dengan pose menantang! Paham maksudku?”
Alih-alih memahami poin yang saya sampaikan, Sandri justru menimpali dengan kekesalan, “Jangan merendahkan dan melecehkan perempuan, dong!”
“Giliran aku, yang laki-laki ini bicara belahan tetek dan pantat atlet voli pantai yang perempuan, kamu sebagai perempuan langsung tersinggung, marah, dan mengatakan aku melecehkan mereka, seolah-olah apa yang baru saja kamu lakukan terhadap si pebulu tangkis laki-laki itu bukanlah pelecehan. Lucu sekali.” Saya terkekeh mengejek.
“Pebulu tangkis itu memang seksi, kok,” cetus Sandri kemudian.