Awalnya, saya pikir saya sudah mati, tapi ternyata saya masih hidup. Berkali-kali saya menyadarkan diri, bahwa saya memang pingsan dan kali ini baru saja siuman. Untuk beberapa saat saya mengerjap-ngerjapkan kedua mata. Pandangan saya ke langit-langit ruangan yang di beberapa bagian bolong-bolong dan ternoda air hujan yang mengering kekuningan. Rupanya saya telentang di lantai keramik putih yang sangat kotor dan bau.
Saya bergerak perlahan untuk duduk. Kedua tangan dan kaki saya tak lagi terikat, dan di pergelangannya ada luka lecet bekas ikatan entah tali apa. Tubuh saya begitu lemas dan agak demam. Kepala saya pening sekali. Tulang-tulang dan persendian terasa ngilu. Perlahan-lahan keseluruhan diri saya seperti tersadarkan, sehingga saya mulai merasa sakit di sekujur badan. Saya akhirnya mengingat sepenuhnya, bahwa saya telah diperkosa. Lantaran itu tubuh saya mendadak agak gemetar. Bayang-bayang kejadian pemerkosaan seakan menikam jantung saya. Ketidakterimaan akan kebusukan itu membuat saya seolah terbunuh.
Ada tas punggung saya di sebelah kiri, di mana di atasnya tergeletak ponsel, kaus kaki, dan sepatu. Sempat terlintas dalam benak saya kenapa si pemerkosa itu membiarkan saya hidup. Namun akhirnya, saya tak memedulikan pikiran itu. Ada sebuah timpalan pikiran bahwa setidaknya saya masih hidup dan harusnya bersyukur akan hal itu. Meski perempuan bedebah itu bisa saja membunuh saya, mungkin dia memang seorang pemerkosa, bukan pembunuh.
Saya meraih ponsel yang ternyata tidak aktif. Saya coba mengaktifkan, tetapi tidak bisa karena kemungkinan besar daya baterainya habis. Saya memeriksa isi tas saya, di mana ada buku-buku pelajaran dan obat batuk cair yang semalam saya beli untuk Bapak. Saya memperhatikan celana dan gesper saya yang sudah terpasang seperti sebelum pemerkosaan. Saya merogoh saku celana, lalu mendapati sejumlah uang.
Setelah itu saya mengenakan kaus kaki dan sepatu yang agak basah. Saat kondisi saya sudah lebih baik dalam artian tak sepenuhnya linglung, saya baru ngeh kalau ternyata saya berada di sebuah bangunan seperti pos jaga yang sudah tidak dipakai. Tempat ini dikelilingi ilalang, di mana di depan ada jalan setapak yang diapit semak.
Siang itu saya mencoba berdiri. Dengan susah payah saya menguatkan pijakan kedua kaki. Saya mulai berjalan dengan gontai menuju jalan setapak itu. Saya ke luar dari pos itu dengan perlahan dan hati-hati, terlebih pandangan saya masih agak berkunang-kunang.
Setibanya di luar pos, saya bertambah bingung. Saya memicingkan mata untuk memfokuskan apa yang saya lihat. Rupanya saya berada di tengah pemakaman. Karena pemakaman itu tampak tidak terawat dengan baik, sehingga banyak ilalang dan tumbuhan perdu yang tumbuh sembarang. Saya sulit menentukan ke arah mana saya harus berjalan untuk menemukan pintu atau gerbang pekuburan itu.
Saya celingak-celinguk seperti anak ayam kehilangan induknya. Saya benar-benar merasa tolol karena terjebak di tempat yang sepi itu. Saya mencoba menajamkan pendengaran, tetapi tak jua menangkap suara yang sekiranya bisa saya terka adalah kehidupan. Telinga saya tidak mendapati suara orang atau kendaraan bermotor yang lalu-lalang, yang bisa menjadi petunjuk untuk saya menentukan arah tujuan.
Saya mengembuskan napas dengan kesal. Saya coba menengadah dan memandang ke segala arah. Saya tidak melihat bangunan apa pun. Saya yang tinggal di kota di sebelah Jakarta berharap melihat gedung, mal, atau bangunan tinggi besar lainnya, tetapi nihil. Mungkin saya berada di titik terjauh dari jangkau penglihatan bangunan-bangunan tinggi. Saya pun frustrasi. Saya mengusap wajah berkali-kali.
Siang bolong yang panas itu, akhirnya saya memutuskan melangkah ke arah kanan. Sambil menahan keletihan, kelaparan, dan dahaga yang serasa mencekik, saya melangkah terhuyung-huyung mencoba ke luar dari pekuburan itu.
Sekitar tiga puluh menit mencari gerbang pekuburan, saya tak jua menemukan pintu masuk itu. Namun, kini saya berada di sisi pekuburan yang entah seberapa luas itu. Saya melihat pagar besi yang tinggi, di mana tiga jerujinya sudah lepas. Karena hal itu, terdapat celah yang sepertinya cukup untuk saya lalui. Dari situlah akhirnya saya bisa ke luar dari pekuburan.
Di luar pagar, sekarang saya bisa mendengar suara kendaraan-kendaraan bermotor di kejauhan. Saya menapaki jalan tanah untuk lebih mendekat ke jalan raya. Beberapa menit kemudian, saya sampai di ujung jalan itu. Akhirnya saya berada di sisi jalan raya yang banyak dilalui mobil dan motor.
Sambil menelan ludah yang sedikit dan pahit, saya melihat ke kiri dan kanan jalan raya. Saya tidak menemukan apa pun di sisi jalan selain pepohonan. Lagi-lagi saya bingung ke mana saya harus berjalan. Karena sudah didera rasa lapar yang membuat perut saya panas dan dahaga yang membikin tenggorokan saya sakit serta terasa terbakar, akhirnya saya memutuskan menyusuri jalan ke kiri.
Saya menyeret langkah entah ke mana, yang jelas saya berharap segera menemukan warung atau semacamnya, sehingga saya bisa membeli minuman atau makanan. Sesekali kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang mengempaskan debu jalanan, terutama mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Sejauh ini, saya tidak mendapati angkutan umum atau ojek daring. Saya masih bertanya-tanya, kiranya tengah berada di mana?
Sekitar dua puluh menit berjalan, akhirnya saya tiba di sebuah perempatan. Sambil menyeka peluh yang membuat badan terasa leket, saya memperhatikan warung kecil yang terletak di arah kanan jalan. Saya lantas menuju warung itu. Kepala saya rasanya panas sekali karena tersengat cahaya matahari. Setibanya di warung itu, saya langsung membuka kotak minuman. Saya mengambil air mineral kemasan botol dengan kapasitas 600 mililiter. Tanpa membayar terlebih dahulu, saya langsung membuka tutupnya dan menenggak air putih dingin itu.
“Woi! Bayar dulu, dong! Enak aja lu main minum!” sembur pemilik warung yang seorang bapak berkulit hitam kemerahan. Sungguh, kulitnya tak bisa dikatakan sawo matang, tetapi seperti menghitam terbakar sinar matahari. Pria dengan rambut sepenuhnya beruban itu melongok dari dalam warung. Kedua matanya agak memerah dan berair, entah karena lelah atau baru saja mengonsumi minuman keras.
Saya tidak langsung menyahut. Saya duduk di bangku kayu panjang seraya mengembuskan napas lelah. “Ini berapa, Pak?” tanya saya kemudian sambil mengangkat botol yang airnya tinggal setengah.
“Ceban!” jawabnya ketus.
Saya menaruh botol di bangku kayu. “Biasanya goceng, Pak,” timpal saya kemudian.
“Elu ‘kan minum duluan, jadi beda harganya,” sahutnya sambil menunjuk ke arah muka saya.
Karena sedang teramat lelah dan malas berdebat, akhirnya saya merogoh saku celana, lalu menyodorkan uang sepuluh ribu kepada bapak itu. Dia lantas menyambut uang itu dengan kedua mata berbinar ceria. Saya jadi menduga, jangan-jangan sejak pagi buka warung dia baru saja mendapatkan uang. Lantaran terkaan itu saya yang tadinya jengkel, jadi prihatian kepadanya. Memang, orang bisa jadi berengsek seperti barusan karena tekanan keadaan.
Saya kembali meminum air putih sampai tandas. Rasanya lumayan puas. “Pak, punya casan, gak?”
“Apaan, tuh?” Bapak itu mengerutkan dahinya.
“Itu buat mengisi daya baterai hape, Pak.”
“Maksudnya carjeran, ya?”
“Iya, itulah,” sahut saya cepat. “Charger-an atau apa, kek, namanya, pokoknya yang buat mengisi baterai hape. Soalnya hape saya mati, ya kali aja casan Bapak, eh, carjeran Bapak colokannya bisa masuk ke hape saya.”
“Gak punya.” Bapak itu menggeleng tegas. “Boro-boro beli hape, buat makan aja susah,” keluhnya dengan nada yang begitu kesal. Dia tampak jengkel pada kehidupannya, bukan kepada saya yang menanyakan alat pengisi daya baterai ponsel.
“Duh, bagaimana mesan ojek online-nya, nih?” Saya mengusap wajah dengan putus asa.
“Memangnya lu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Maksud gue ke daerah mana?” tanya Bapak itu lagi dengan wajah kesal sekaligus penasaran.
“Harapan Ujung, Pak.”
“Lumayan itu, sih, dari sini. Kalau naek motor bisa sekitar dua puluh menit, dah,” jelasnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.