Hari ini mau tak mau saya harus ke rumah Sandri karena sudah kepalang janji. Kendati saya sudah cukup beristirahat, tetapi tubuh saya masih lumayan lelah. Entah itu raga saya yang capek, atau jiwa saya yang letih, atau mungkin jiwa raga saya yang memang masih butuh rehat. Bagaimanapun, saya wajib menemui Sandri. Karena jika tidak, dia akan rewel dan saya malah bertambah pusing. Sementara itu, saya tak mau Sandri yang datang ke rumah. Saya tidak ingin Bapak melihat Sandri dengan tatapan tak suka. Bukan karena Bapak tak setuju dengan hubungan saya dan Sandri, tetapi kadang Bapak menyalahkan kehadiran Sandri di hati saya akibat saya yang dianggap bandel.
Sampai Minggu siang ini Bang Raka belum juga pulang. Entah dia sedang bersama teman-temannya, atau malah tengah berduaan bersama pacarnya. Saya tak telalu peduli akan hal itu.
Saya menemui Emak yang kebetulan berada di dapur. Beliau sedang membuatkan teh hangat untuk Bapak yang ternyata demam. Saya meminta duit lima belas ribu kepada Emak untuk ongkos ojek daring. Tanpa banyak cakap dan mengomel, Emak langsung saja memberikan apa yang saya minta.
“Memangnya cukup duit segitu buat ongkos pulangnya?” Emak menatap saya dengan kekhawatiran. Beliau hendak memberi saya sejumlah duit lagi, tetapi saya menolak karena merasa sudah terlalu merepotkan.
“Nanti pulangnya Sandri yang mengantar saya kok, Mak.” Saya tersenyum meyakinkan.
“Ya sudah. Salam buat Sandri, juga sama Bapak Ibunya.” Emak membalas senyum saya.
“Iya, Mak.” Saya mengangguk. Setelah berpamitan, saya lantas ke luar rumah.
***
Tiba di rumah Sandri, saya disambut Pak Barko yang sedang duduk santai di kursi di teras depan rumah. Beliau sedang menikmati secangkir kopi sambil merokok. Saya lantas memberi salam dan mencium tangan kanannya yang bau asap rokok.
“Bapak sudah sehat?” tanya saya berbasa-basi.
“Kalau Bapak masih enak merokok seperti ini, itu artinya Bapak gak sakit.” Pak Barko terkekeh.
Saya tersenyum tipis. Bisa-bisanya Pak Barko memiliki indikasi kesehatan dengan merokok. Itu adalah hal lucu, tapi juga miris.
“Nah, malah kamu yang sepertinya sedang sakit.” Pak Barko menunjuk muka saya.
“Kemarin saya jatuh dari ojek, Pak,” jawab saya.
“Untung kamu cuma lecet-lecet begitu.” Pak Barko kembali menunjuk muka saya.
“Iya, Pak.” Saya mengangguk. Mendengar saya kecelakaan seperti itu masih saja dibilang untung. Huh!
“Tumben kamu ke sini gak bawa apa-apa. Kemarin bawa pisang.”
Saya langsung gelagapan. “Eh, anu, Pak. Itu—”
“Bercanda, Nak Randu,” sela Pak Barko, “tapi kalau—”
“Tapi kalau dianggap serius juga gak apa-apa,” potong saya spontan. Entah karena saya kesal merasa disindir, atau memang saya ingin ikut bergurau. Kendati sudah mengenal lama Pak Barko, sampai sejauh ini saya benar-benar tidak sepenuhnya paham dengan guyonannya. Namun, karena saya menyela seperti itu, beliau refleks tertawa, sementara saya hanya tersenyum tipis.
Saya masuk ke ruang tamu dan bertemu dengan Bu Tini. Beliau juga bertanya perihal muka saya yang lebam dan lecet, dan saya mengaku kalau luka-luka itu lantaran jatuh dari ojek. Beliau juga sempat menawari saya makan siang sebelum saya menemui Sandri yang berada di kamar, tetapi saya menolak karena sudah mengisi perut di rumah.
Saya ke kamar Sandri dan mendapatinya sedang mengganti sarung bantal. Saya masuk dan menutup pintu, lalu mendekatinya yang duduk di tepi tempat tidur. Dia menyapa dengan gembira ketika saya duduk di sebelahnya.
“Loh, kok muka kamu sampai lebam dan lecet-lecet begitu?” tanya Sandri. Air mukanya yang tadi ceria, kini digantikan kekhawatiran. Dia menaruh bantal ke ujung ranjang.
“Namanya juga jatuh dari motor, terus terlibat tawuran, lalu ditangkap polisi,” sahut saya dengan harapan Sandri mau memercayai cerita itu.
“Terus kamu jadi gak enak badan, ya?” Sandri menyentuh pipi saya yang lebam dengan lembut.
Saya mengangguk pelan. “Iya, ‘kan sudah saya ceritakan.” Sementara hati saya jadi tak enak lantaran kebohongan yang kembali saya ciptakan. Di hari-hari sebelumnya, saya tak pernah membohongi Sandri. Saya jadi merasa bersalah.
“Makanya kalau aku antarkan pulang tuh mau. Kamu, sih, kemarin malah menolak. Pokoknya, entar pulang aku yang mengantarkan.” Sandri menatap saya dengan wajah agak mengancam, tetapi sekaligus menggemaskan.
Saya tersenyum tipis. “Iya … iya.”
Tiba-tiba saja Sandri memajukan tubuhnya. Dia memeluk saya yang terpaku. Saking terkejutnya, saya bahkan tidak membalas dekapannya. Saya tidak tahu Sandri sadar akan hal itu atau tidak. Saya juga tidak paham kenapa saya seperti itu. Saya merasa ada yang berbeda dengan diri saya. Ada ketakutan yang mendadak hadir dalam benak saya. Ada kekelaman yang membikin tubuh saya membeku dan seakan-akan enggan menerima pelukan itu. Saya benar-benar bingung ketika menyadari bahwa saya tidak dapat merasakan kehangatan yang Sandri berikan. Saya tidak mampu merasakan kenyamanan yang Sandri hadirkan.
Masih dalam pelukan Sandri, lantas muncul dalam kepala saya bayang-bayang si pemerkosa. Saya kembali bisa merasakan bagaimana kuluman nafsu si pemerkosa terhadap penis saya. Karena hal itu saya menjadi jijik. Saya akhirnya menggerakkan tubuh saya dan Sandri melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” Sandri memperhatikan wajah saya. Entah apa yang dia tangkap dari kegelisahan yang mungkin terpancar dari muka saya itu.
“Badan saya masih agak sakit.” Saya terkekeh agar Sandri memaklumi saya yang sebenarnya enggan dipeluk. Saya kesal pada diri saya sendiri, bisa-bisanya saya tidak mau didekap Sandri. Biasanya, pelukan Sandri mampu menentramkan kegelisahan dan kelelahan saya.