Dalam Pusaran Badai

Ari Keling
Chapter #5

4 - Senin

Belakangan ini saya jadi malas mandi. Membersihkan tubuh dengan air dan sabun membuat saya tersakiti. Bukan karena masih agak demam dan jadi tak enak badan terkena air, tetapi setiap saya menyentuh atau mengusap-ngusap badan yang muncul dalam kepala saya saat terjadinya pemerkosaan. Yang paling menjijikkan ketika saya membersihkan penis saya. Saat-saat seperti saya bisa kembali merasakan bagaimana si perempuan bangsat itu sedang mengisap kemaluan saya dengan nafsu yang begitu lapar. Saya sungguh tersiksa dengan hal demikian.

Pagi ini saya memutuskan hanya mencuci muka. Saya membasahi rambut agar orang lain mengira saya mandi. Saya diam-diam memakai parfum milik Bang Raka yang minggu ini bekerja sif pagi dan sudah berangkat lebih dulu. Minyak wangi itu bisa menutupi bau keringat saya yang mungkin masih menempel. Pokoknya, saya berupaya tampil tanpa ada perubahan. Sebenarnya, sebelum diperkosa dan masih selalu mandi setiap mau ke sekolah, saya kerap kali menggunakan parfum milik Abang saya itu. Hanya saja kali ini pewangi itu jadi memiliki kegunaan lebih.

Setiap hari saya dijemput oleh Sandri, padahal arah rumahnya berlawanan dengan saya. Perlakuan Sandri itu membuat saya makin menyayanginya, meski sejak awal saya malu dijemput oleh seorang cewek seperti itu. Namun, lama-kelamaan saya jadi mengharapkan. Karena dengan begitu, saya tak perlu mengeluarkan ongkos naek angkot atau ojek daring, bahkan Sandri sendiri yang mengatakan hal demikian agar saya jadi punya uang simpanan.

Dalam perjalanan kali ini saya merasa risi ketika kedua tangan Sandri melingkar di pinggang saya. Pasca pemerkosaan itu, tubuh saya seolah menolak disentuh oleh siapa pun, terutama perempuan. Menyoal Sandri, tentu saja raga saya ingin disentuh, tetapi jiwa saya menepis keinginan itu. Saat-saat seperti itu serupa ada perang dalam benak saya, dan yang sering menang adalah jiwa saya. Oleh karena itu, raga saya yang kalah jadi menuruti jiwa saya untuk menampilkan gerakan bahasa tubuh penolakan. Jika tubuh saya sedang bergerak menampik seperti itu, saya tidak tahu apakah Sandri menyadarinya atau tidak.

Tiba di sekolah, saya lantas mengarahkan motor ke parkiran. Kemudian saya dan Sandri berjalan bersebelahan menuju kelas. Saya dan Sandri bertegur sapa dengan beberapa teman—baik yang satu kelas maupun tidak—seperti biasa. Namun, kali itu saya merasa canggung dan tak percaya diri. Setelah pemerkosaan itu, ini kali pertama saya berjumpa dengan teman-teman sekolah, dan keadaan itu membuat saya khawatir. Kendati seluruh teman saya tidak tahu saya baru saja menjadi korban pemerkosaan, tetapi saya takut dipandang sebelah mata atau dilihat dengan sorot mata jijik. Sejak saat itu saya merasa rendah diri.

Saya dan Sandri duduk di bangku dengan meja yang sama. Baru saja saya melepaskan tas punggung dan menaruhnya ke laci, tiba-tiba saja Anton menghampiri.

“San, gue pinjam pacar lu dulu, ya?” Anton menatap Sandri dengan cengiran yang memiliki maksud tertentu.

“Mau pinjam pacar gue atau PR pacar gue?” balas Sandri dengan pertanyaan.

“Cerdas lu, San.” Anton terkekeh.

Sandri tersenyum seraya menoleh ke arah saya.

“Gue belum mengerjakan PR Matematika, Du. Gue—”

“Sudah … sudah,” sela Sandri menghentikan ucapan Anton. “Lagu lama lu! Gak usah melas begitu. Tiap ada PR lu memang menyontek sama Randu. Untung pacar gue baik.”

Anton terkekeh lagi. “Randu memang teman paling baik di kelas ini.”

“Iya, gak ada lawan!” imbuh Bagus yang menghampiri kami. “Randu terbaik, dah.” Dia tersenyum lebar.

“Yang, buruan kasih bukumu, entar keburu bel,” kata Sandri meminta saya memberikan sontekan kepada teman-teman.

Saya menyerahkan PR saya kepada Anton, lalu Anton membawa buku itu ke mejanya. Bersama dengan Bagus dia menyalin tugas yang harusnya mereka kerjakan di rumah. Lantas Jaya, Sisil, dan Cika juga minta izin menyontek PR saya. Keadaan seperti itu sudah biasa karena telah terjadi sejak lama. Sedari SMP dan kelas dua belas SMA seperti sekarang, banyak teman sekelas yang kerap menyalin PR saya.

Sandri tak pernah mengomeli serius si penyontek atau mencegah agar PR saya tidak disalin. Awalnya, Sandri juga bagian dari tukang sontek. Sampai akhirnya kami dekat, jadian, lalu dia pelan-pelan saya dampingi untuk belajar lebih baik lagi. Sampai saat ini, kadang Sandri juga masih menjadi pelaku sontek PR yang saya kerjakan. Itulah kenapa dia merasa bahwa sontek-menyontek adalah hal biasa, bahkan disebut tolong-menolong.

Sementara dalam benak saya sering muncul penolakan, tetapi saya tak berani menyampaikan itu kepada Sandri dan teman-teman. Tak bisa saya bohongi, bahwa hati saya terlukai karena buah pikiran saya yang disalin seperti itu. Bagaimanapun, PR yang saya selesaikan itu menguras tenaga dan pikiran, kendati saya tidak sampai kelelahan. Saya juga meluangkan waktu santai saya di rumah untuk mengerjakan PR, sementara mereka yang menyontek mungkin sedang asyik bermain. Saya sering merasa dibodoh-bodohi, dicurangi, dan dimanfaatkan. Namun, saya tak mau perkara sontek-menyontek menjadikan saya dimusuhi oleh teman-teman. Oleh karena itu, akhirnya saya memberikan apa yang seharusnya tidak saya berikan. Berulang kali. Hampir setiap hari.

Sesudah teman-teman saya selesai menyalin PR, seperti biasa juga mereka memuji-muji saya. Bacotan-bacotan mereka pasca mencuri jawaban dari PR itu membangga-banggakan saya, padahal saya bisa mendengar apa yang mereka sampaikan itu tidaklah tulus dan jujur. Ada yang bilang saya teman terbaik, teman terpintar, teman yang tidak pelit, dan lain sebagainya. Pokoknya, mereka seakan-akan membayar sontekan dengan sanjungan yang mereka lontarkan. Sementara itu, saya merasa apa yang mereka ucapkan itu hanya basa-basi, atau sekadar tambahan setelah mengucapkan terima kasih. Namun, saya lebih sering merasa itu hanyalah bualan atau omong kosong. Meski merasa begitu, akhirnya saya terpaksa ikut dalam lingkaran ketidakbenaran perihal PR dan sontekan. Lagi dan lagi, alasannya karena saya tak mau dijauhi atau dimusuhi teman-teman sekelas, yang mungkin juga berimbas kepada Sandri yang boleh jadi tak lagi ditemani.

Akan tetapi, meski begitu, tetap ada sikap dan sifat baik pada diri teman-teman saya, baik yang nama-namanya saya sebutkan tadi maupun yang tidak. Dalam pertemanan mereka memang tulus, hanya soal sontekan itu mereka terlihat sisi buruknya. Kadang mereka menawari saya minuman atau makanan ringan. Atau, mereka mengajak saya bercengkerama saat jam istirahat dan sikap persahabatan lainnya.

Saya tidak ingin seperti Arum, teman satu kelas yang sering masuk tiga besar bersama saya, tetapi tidak diakrabi oleh teman-teman karena tak mau PR-nya disalin. Tentu saja Arum pernah dikata-katai medit, pelit, kikir, dan lain sebagainya. Akhirnya Arum beraktivitas seorang diri, atau paling-paling terlihat dekat dengan teman semeja yang pernah mengaku terpaksa karena iba. Arum mungkin sadar diri, bahwa sebenarnya tidak ada yang mau berkawan dengannya. Akhirnya Arum lebih sering terlihat sendirian. Arum seperti hantu di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Sungguh kehidupan yang mengerikan.

Dalam kegiatan belajar, kali ini saya lebih banyak diam. Saya sulit berkonsentrasi dalam menyimak penyampaian para guru. Pasca pemerkosaan itu, ternyata juga berdampak pada cara saya dalam menyerap ilmu pengetahuan atau mengganggu kegiatan saya belajar. Bagaimana tidak? Kadang saya berupaya keras memunculkan wajah si pemerkosa, padahal saya tidak meminta otak saya untuk berbuat demikian. Saya tidak tahu kenapa saya jadi sulit mengontrol kendali atas diri saya.

Selain itu, saya juga kadang tak sadar melamun saat sedang bercakap-cakap dengan Sandri. Apa yang jadi pokok pembicaraan jadi tidak begitu saya dengarkan. Kadang saya hanya menanggapi Sandri dengan singkat saja, seperti masuk kuping kanan, lalu keluar kuping kiri. Saya tidak tahu apakah Sandri menyadari perubahan saya itu atau tidak.

Hal lainnya yang mengganggu adalah ketika ada seorang perempuan yang tidak terlalu saya kenal, atau bahkan tidak saya kenal sama sekali tengah memandang saya. Sorot mata perempuan yang jarang sekali berbicara atau bahkan belum pernah mengobrol dengan saya menjadikan saya pengecut. Saya takut dengan tatapan perempuan mana pun, seperti guru, penjual makanan di kantin, atau perempuan lain di luar gedung sekolah atau di tempat umum lainnya. Saya jadi curiga pada banyak perempuan yang selintas melihat saya, jangan-jangan salah satu dari mereka adalah si pemerkosa yang tengah memperhatikan saya.

Sungguh, saya kesal pada diri saya yang seperti itu. Sebelumnya, saya tak pernah menaruh pikiran buruk kepada perempuan mana pun, dan saya tidak pernah merasa kehilangan nyali saat bersirobok dengan seorang perempuan dewasa. Pasalnya, saya merasa ditelanjangi oleh semua pandangan perempuan dewasa dengan kriteria yang tadi saya sebutkan. Saya sungguh kesal kenapa bisa seperti itu. Saya sedih, risi, dan jengkel. Rupanya, yang paling menyakitkan sekaligus menjengkelkan adalah akibat atau efek setelah pemerkosaan. Kalau begini terus, bisa-bisa saya tak kuat menjalani hidup.

***

Sore hari saya merasa gerah. Bukan lantaran cuaca panas, tetapi karena saya belum juga mandi. Saya masih jijik jika memegang penis saya, seolah-olah kemaluan saya itu kembali disentuh tangan si pemerkosa. Saya sungguh tersiksa jika sedang kencing, seakan-akan tangan saya itu adalah tangan si perempuan lacur. Saya benci jika harus menghadapi keadaan seperti itu, sampai-sampai saya mengurangi minum.

Sepertinya saya butuh teman bicara. Saya perlu pendamping yang mau mendengar apa yang telah saya alami, dan orang itu tidak menghakimi saya sebagai laki-laki goblok yang bisa-bisanya diperkosa oleh seorang perempuan. Intinya, saya membutuhkan pertolongan dari orang yang bisa saya percaya dalam menghadapi kondisi saya yang telah jadi korban pemerkosaan. Namun, siapa orang itu?

Karena badan terasa makin lengket, akhirnya saya mandi. Anehnya, terlintas dalam benak saya untuk membersihkan diri sebersih-bersihnya. Tujuannya supaya saya bisa menghilangkan semua kotoran, sehingga rasa jijik dan kotor pada diri saya raib. Saya menggosok-gosokkan sabun batangan dengan cepat dan lama. Saya terus mengusap seluruh anggota tubuh seperti orang gila. Busa sabun merata di sekujur tubuh. Namun, ketika saya menyentuh penis saya, bayang-bayang pemerkosaan itu kembali mengganggu. Rupanya, apa yang tadi saya pikirkan tidak berhasil. Saya kesal sekali. Saya berteriak, tetapi sambil menahan seruan itu agar tidak terdengar oleh siapa pun. Sembari memaki-maki dalam hati, saya memukul-mukul badan saya sendiri.

Setelah mandi, saya masuk ke kamar dan berdiri di depan cermin lemari baju. Tubuh saya sudah kering dari air, tetapi masih telanjang bulat. Saya terpikir untuk memotong penis saya. Pasalnya, setiap menyentuh kemaluan, sekujur tubuh saya gemetar. Gara-gara penis itulah semuanya bermula. Mungkin, jika tidak memiliki kemaluan, pemerkosaan itu tidak akan pernah terjadi. Namun, sudah kepalang tanggung. Lantaran penis itu sumber masalah, bahkan pasca pemerkosaan, terlintas dalam pikiran saya untuk memotong kemaluan saya itu.

Saya mengamati secara saksama penis saya yang tengah mengkeret itu. Tampak mengerut lemah, tetapi benar-benar telah jadi musibah. Kalau penis saya dipotong, mungkin segala resah hati dan semua bayangan perkosaan itu lenyap. Hilangnya kemaluan itu akan menghilangkan pula rasa jijik saya terhadap seluruh tubuh saya. Barangkali selama ini yang kotor dan tidak suci lagi hanyalah penis saya itu. Namun, saya jadi bertanya, jikalau kemaluan saya itu saya potong, apakah saya akan mati? Saya tidak tahu. Saya belum mencobanya. Memikirkan kemungkinan tewas lantaran kehilangan penis itu membuat saya merasa goblok. Saya tidak mau mati. Saya takut mati. Saya jadi makin kesal sendiri.

“Woi! Pakai baju! Kayak orang tolol lu ngelihatin kontol kayak begitu!” sembur Bang Raka yang ternyata sudah berada di kamar. Dia terkekeh melihat saya yang kaget akan kehadirannya.

Tanpa banyak cakap saya langsung mengambil pakaian dan mengenakannya.

Lihat selengkapnya