Paginya, Bapak dan Emak masih saja berdebat. Saya dan Bang Raka hanya mendengarkan saja. Sampai Bang Raka berangkat bekerja pun mereka belum juga selesai saling memaparkan apa yang akan dihadapi jika melapor ke polisi atau tidak. Bapak begitu paranoid, bahwa hidupnya akan dipandang buruk oleh semua orang. Sementara Emak sangat yakin bahwa mengajak saya ke kepolisian adalah jalan terbaik, kendati saya yakin betul kalau beliau paham konsekuensinya. Saya makin sedih karena merasa jadi aib keluarga, hanya saja aib itu belum diketahui banyak orang.
Akhirnya Bapak kalah. Beliau berangkat bekerja sambil bersungut-sungut. Sebelum benar-benar keluar rumah, Bapak sempat memandang saya dengan sorot mata menyalahkan. Saya tak dapat berbuat apa-apa karena saya memang merasa di pihak yang serbasalah. Bapak yang kadung jengkel kepada saya akan terus menganggap saya sumber masalah, dan beliau tidak akan pernah membenarkan apa yang saya katakan.
Sementara itu, Emak berkali-kali menegaskan dan memberi pengertian, bahwa saya jangan jadi pengecut. Saya tidak boleh melepaskan si pemerkosa begitu saja. Lantaran tak tahan dengan segala masukan yang justru membikin saya bertambah bimbang, akhirnya saya menurut saja ketika Emak mengajak ke kantor polisi.
Kami berangkat menjelang siang karena Emak harus memasak terlebih dahulu. Sebelum berangkat, saya buru-buru menelepon Sandri agar dia tidak menjemput saya. Saya bilang saja padanya kalau saya mau ke dokter karena ternyata masih tidak enak badan. Sandri pun mengerti, tetapi sepulang sekolah dia mau menjenguk saya. Sebenarnya saya merasa tak nyaman mendengarnya mau menemui saya. Namun, karena tak mau menambah beban pikiran saat ini, saya pun mengiakan saja. Bagaimana nanti sajalah menghadapi segala pertanyaan Sandri.
***
Saya dan Emak duduk berhadapan dengan petugas perempuan. Saya tidak terlalu mendengarkan percakapan Emak dan petugas itu karena saya takut dan malu. Sepanjang yang saya dengar, saya akan membuat BAP atau Berita Acara Pemeriksaan. Sebelum saya diwawancarai, Emak langsung mewanti-wanti petugas itu.
“Mbak Polisi,” sapa Emak, “kamu jangan tanya-tanya yang sensitif sama anak saya, loh,” sambungnya dengan wajah mengancam.
Alih-alih marah, petugas itu justru tersenyum memaklumi. “Pertanyaan saya nanti mungkin akan terasa enggak nyaman, Bu, tapi itu harus saya tanyakan supaya memudahkan penyidikan,” timpalnya dengan tenang dan nada bicara yang bersahabat.
Emak terdiam.
“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi sebelum kamu diperkosa?” tanya petugas itu.
Saya menunduk sambil meremas jemari. Saya enggan menatap mata petugas perempuan itu. Sebenarnya saya mau langsung bercerita, tetapi karena di hadapan saya seorang perempuan yang tak saya kenal, jadilah saya begitu cemas. Bukan hanya pertanyaannya yang membikin saya tak nyaman, tetapi juga kehadirannya yang tidak menentramkan.
“Randu,” sapa petugas itu. “Ohh baiklah, saya paham sekarang. Kamu pasti trauma. Kamu akan ditangani oleh rekan saya. Permisi.” Dia berlalu dari hadapan saya.
Tak lama berselang, seorang petugas laki-laki menggantikan petugas perempuan sebelumnya. Pertanyaannya mirip seperti yang diajukan petugas perempuan tadi.
“Sebelum diperkosa, saya dipukul, diculik, terus disekap, Pak.” Saya terdiam sesaat karena bayang-bayang kejadian itu kembali menyakiti diri saya. “Setelah diperkosa, saya dibius, lalu dibuang ke Pemakaman Tanah Ujung.” Saya memperlihatkan luka lecet dan lebam di pergelangan tangan dan muka, kendati luka-luka itu sudah tidak terlalu kentara.
Petugas laki-laki itu menggeleng-geleng bukan karena tak percaya dengan penuturan saya, tetapi dia terlihat syok. “Polanya sama, nih,” cetusnya dengan wajah seperti kaget dengan ucapannya barusan. Tampaknya dia spontan berkata demikian karena keterkejutan.
“Pola apa, Pak?” tanya Emak yang penasaran.
“Tadi pagi ada remaja cewek. Dia diperkosa juga, tapi kejadiannya sudah dua minggu lalu. Polanya sama, dipukul, diculik, disekap, diperkosa, dibius, lalu dibuang ke rumah kosong pinggir jalan raya,” sahut petugas itu.
Saya dan Emak terkejut. Saya langsung berpikir itu pelaku yang sama.
“Kamu nanti akan saya rekomendasikan mendapat pendampingan psikolog, ya.” Petugas itu menatap saya dengan sorot mata prihatin, sementara wajah dan nada bicaranya terdengar berupaya menguatkan saya. “Nanti sekalian saya buatkan pengantar visum, layanan medis, dan rujukan pendampingan psikologis. Untuk konsultasi dengan psikolog selama tiga bulan, ya. Soal jadwal konsulnya nanti diberitahukan.”
“Bayar gak, Pak?” sambar Emak dengan waswas.
“Biayanya ditanggung negara, Bu.”
“Maksudnya gratis. ‘kan?”
“Iya, Bu.” Petugas itu mengangguk tegas.
Emak tampak lega.
“Baiklah, kita lanjutkan, ya.” Petugas itu menatap saya.
Saya mengangguk. Tak bisa saya mungkiri, bahwa saya beberapa kali tak nyaman saat menceritakan apa yang saya alami. Sesungguhnya, saya enggan kembali mengingat seluruh kejadian busuk itu. Saya tahu, petugas di depan saya juga pasti bisa membaca bahasa tubuh saya yang gelisah. Saya meremas jemari, saya menunduk, saya mengusap wajah, saya mengembuskan napas panjang, sampai tak sadar air mata saya pun tumpah. Namun, saya harus menguatkan diri karena semua keterangan saya diperlukan untuk penyidik lebih lanjut. Sudah kepalang tanggung, saya ingin pelakunya segera ditangkap.
Setelah beres, saya agak lega. Entah bagaimana rasanya separuh beban buruk saya hilang. Mungkin karena saya telah berkisah kepada pihak yang tepat. Mungkin juga karena Emak terus mendampingi dan menguatkan saya. Sungguh, saya juga tak tahu, apakah sebagian beban busuk itu hanya hilang di sini, kemudian kembali lagi saat saya ada di rumah? Saya bertanya-tanya.
Karena hari itu juga akan dilakukan pemeriksaan visum, saya dan Emak menunggu petugas polisi yang akan mengantar saya ke rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh penyidik. Saya minta menunggu di luar gedung karena di ruangan itu terasa pengap. Bukan karena ruangan itu sirkulasi udaranya tak bagus, tetapi kemungkinan besar lantaran batin saya yang masih agak sesak karena baru saja menceritakan semua yang saya alami.
Emak bicara pada petugas polisi agar diberi izin menunggu di bangku taman depan. Setelah disetujui, kami pun ke luar gedung kepolisian. Emak menuntun saya. Barangkali Emak tahu kalau saya lemas. Beliau mungkin khawatir saya pingsan.
“Mau langsung pulang aja, Du?” Emak menatap saya dengan sorot mata waswas. “Emak bisa, kok, bilang ke petugas agar pemeriksaan visumnya besok aja.”