Dalam Pusaran Badai

Ari Keling
Chapter #7

6 - Rabu

Saya kembali ke kamar setelah beres makan siang. Sedari pagi saya lebih banyak beraktivitas di dalam kamar. Sambil memulihkan kondisi jiwa dan raga yang sangat lelah, saya bersantai saja dengan membaca buku-buku di luar buku pelajaran sekolah. Saya beranjak ke luar kamar paling-paling kalau mau kencing.

Tadi saya sempat melihat keluar rumah, di mana siang ini tampak mendung. Berarak awan kelabu menggantung di ketinggian sejauh mata memandang. Sementara itu, sesekali angin berembus lebih kencang daripada hari-hari sebelumnya. Mendapati keadaan seperti itu, tentu saja saya berharap Sandri tiba di rumah saya sebelum hujan membasahinya. Saya sungguh tak ingin Sandri kehujanan yang bisa saja mengakibatkan dia sakit.

Saya kembali melanjutkan bacaan sambil merebahkan diri di kasur. Saya tidak begitu yakin bisa menikmati saat-saat seperti ini. Saya memang tidak mampu lagi merasakan asyiknya bersantai dengan cara membaca buku atau bermalas-malasan—jika kegiatan seperti itu layak disebut malas. Saya hanya merasa agak tenang, meski tentu saja luka batin saya akibat pemerkosaan tetap terasa masih menganga. Paling tidak, sekarang saya bisa bernapas lumayan lega. Mungkin karena saya belum lama ini melewati bagian paling mendebarkan, yakni kebingungan antara melaporkan kasus yang saya alami itu ke polisi atau tidak. Karena kini pilihan sudah ditentukan, sepertinya hal itu yang membuat saya setidaknya berharap langkah yang saya tempuh adalah jalan terbaik.

Hujan mulai turun dengan intensitas yang langsung tinggi. Titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan itu menghantam keras genting. Suara-suara itu membikin saya gelisah. Tak lama kemudian petir menggelegar di ketinggian, dan seketika menyadarkan saya bahwa mungkin saja Sandri masih dalam perjalanan untuk menemui saya. Karena keterkejutan itu saya refleks menutup buku dan beringsut meraih ponsel di atas bantal sebelah. Saya lantas menelepon Sandri, tetapi dia tidak menjawab. Entah Sandri tidak mendengar karena sedang mengendarai motor, atau dia tengah berteduh dan telinganya tidak menangkap suara deringan ponselnya karena hujan yang begitu lebat dan berisik.

Kekhawatiran saya akan Sandri makin bertambah. Berkali-kali saya menghubunginya, tetapi tetap saja tidak diangkat. Akhirnya saya mengirim pesan, bahwa sebaiknya dia berteduh jika dirasa hujan terlampau lebat dan tidak memungkinkan untuk mengendarai motor.

Saya juga memperhatikan bahwa Sandri terakhir online di WhatsApp sekitar satu jam lalu. Karena kembali didera kekhawatiran, saya kembali mengiriminya pesan untuk memintanya jangan memaksakan diri untuk menembus hujan lebat. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sandri. Mengendarai motor dalam keadaan hujan lebat sangatlah berbahaya. Saya tidak siap kehilangan Sandri. Saya tidak mau kehilangan dia.

Karena sampai lima belas menit kemudian tidak ada kabar dari Sandri, saya jadi termenung. Lantaran melamun itu saya jadi teringat bahwa kasus yang menimpa saya beritanya tayang siang ini. Saya pun lantas masuk ke fanpage Facebook media daring tempat Daman bekerja. Di halaman atas saya menemukan berita tentang pemerkosaan yang saya alami. Rupanya berita itu sudah tayang sejak dua jam lalu. Saya lantas masuk ke tautannya untuk membaca berita tersebut.

Seperti yang dijelaskan Emak, berita yang ditulis oleh Daman cukup jelas dimengerti pembaca. Dalam berita itu, Daman menjelaskan saya yang berinisial RA berusia 17 tahun didampingi orang tua saya melaporkan pemerkosaan yang saya alami. Daman juga menyertai keterangan yang disampaikan oleh Kasat Reskim, yang membenarkan apa yang saya laporkan itu dan menjelaskan kasus saya sedang ditangani oleh Unit 3 Satreskrim. Daman juga menuliskan kronologinya, yakni saat saya berjalan sendirian di gang menuju rumah ketika hujan, lantas dipukul, diculik, disekap, diperkosa, lalu dibuang ke Pemakaman Tanah Ujung. Di bagian akhir, Daman menyertakan ucapan Emak: Saya ingin pelakunya segera ditangkap. Saya gak terima anak saya dirusak seperti itu. Begitulah. Daman menghilangkan ‘Perempuan setan’ yang sempat Emak ucapkan di kalimat kedua itu.

Setelah ke luar dari tautan, saya masuk ke kolom komentar. Meski ada kepercayaan diri bahwa saya akan mendapat banyak dukungan dan rasa simpati, tetap saja saya harap-harap cemas. Begitu banyak warganet yang berkomentar, bahkan lebih banyak daripada berita tentang AU. Namun, apa yang saya dapati di luar ekspetasi saya. Tubuh saya mendadak kaku. Saya begitu tercengang. Semakin lama saya melihat, komentar netizen yang didominasi laki-laki makin menggetarkan seisi dada saya. Sungguh, tak sanggup saya membaca semuanya. Sebanyak yang saya lihat, tak ada satu pun yang berpihak kepada saya. Mungkin ada beberapa orang yang memberikan saya kekuatan atau dukungan, tetapi saya tidak mendapatinya karena boleh jadi tenggelam oleh banyaknya tanggapan negatif. Alih-alih komentar-komentar buruk itu ditujukan kepada si pemerkosa, justru diperuntukan kepada saya yang sebagai korban.


Gugun : Kenapa gak gue aja yang diperkosa? Gue gak bakal lapor polisi. Hahaha.

Mamad Peyang : Kalau aku malah minta nambah terus. Kalau perlu sampai 12 ronde. Uhuy!

Didi Yantoro : Dunia sudah terbalik. Cewek perkosa cowok. Jadi pengin! Ayo, cewek, perkosa aku! Hihihi.

Juandro : Dapat memek gratisan malah marah. Aku kalau mau ngentot kudu jajan dulu.

Anang : Dasar bocah gak ada akhlak, lu! Sudah menang banyak malah playing victim!

Cucu : Bocah ini harus ditempeleng kepalanya biar bisa merasakan enaknya diperkosa. Hahaha.

Lihat selengkapnya