Dalam Pusaran Badai

Ari Keling
Chapter #8

7 - Kamis

Sandri belum juga mengabari saya, bahkan WhatsApp dan Facebook-nya tidak online. Dia yang biasanya menghubungi saya sebelum menjemput saya untuk berangkat ke sekolah, kini ponselnya malah tidak bisa dihubungi sama sekali. Saya jadi khawatir telah terjadi apa-apa dengan dirinya.

Hari ini akhirnya saya naik ojek daring. Selain fisik saya sudah terasa cukup beristirahat, saya juga tak mau ketinggalan pelajaran. Setelah apa yang terjadi, saya harus mulai membiasakan diri. Barang tentu hidup tetap bergulir, dan saya harus menjalaninya. Saya perlu bersahabat dengan luka batin saya sambil berupaya pelan-pelan menyembuhkannya.

Setibanya di sekolah, saya langsung melangkah menuju kelas. Saat menyusuri koridor saya mendapati ada yang berbeda dari sorot mata teman-teman. Namun, saya tidak segera paham apa arti pandangan mereka terhadap saya. Memasuki kelas, saya tidak menemukan Sandri. Sementara itu, teman-teman sekelas juga melihat saya dengan tatapan seperti teman-teman di luar kelas. Saya jadi merasa aneh.

Saya duduk dengan perasaan yang gelisah. Setelah memasukkan tas ke laci, Anton menghampiri saya. Dia duduk di kursi Sandri, sementara saya masih tidak mengerti apa yang telah terjadi sejak dua hari lalu semenjak saya tidak masuk sekolah.

“Du, bagaimana rasanya ... hmm.” Anton seperti sengaja tidak meneruskan perkataannya. Dia terlihat sedang menahan tawa.

“Apa?” Saya belum tahu arah pembicaraan yang Anton inginkan.

“Hehehe.”

“Elu kenapa?” tanya saya penasaran dan agak tersinggung dengan tawanya barusan. Entah kenapa air muka seperti merendahkan saya.

Anton menghentikan tawanya, tetapi digantikan dengan senyuman meledek dan tatapan yang juga penasaran terhadap saya.

“Mau menyontek PR? Gue ‘kan dua hari ini enggak masuk masuk sekolah, jadi mana gue tahu kalau ada PR.”

Anton terkekeh lagi.

Dasar sinting! maki saya dalam hati.

“Ini bukan soal PR, Du. Lagian sedang enggak ada PR apa pun.” Anton terkekeh lagi.

“Lalu apa?”

“Bagaimana rasanya ngentot, Du?” tandas Anton dengan suara agak pelan, tetapi terdengar jelas di telinga saya. Bahkan, pertanyaan itu dengan cepat masuk ke hati dan kepala saya sekaligus mengacak-acak ketenangan jiwa saya.

Saya menelan ludah dengan perasaan kian resah.

“Walaupun diperkosa, elu pasti merasakan enak, ‘kan? Gue penasaran bagaimana rasanya entotan, Du.” Anton menatap saya dengan wajah serius, sehingga saya berpikir apakan dia benar-benar sudah gila?

“Apa maksud lu?”

“RA dalam berita online yang dibagikan banyak orang itu elu, ‘kan? RA itu Randu Adriansyah, ‘kan? Kabar itu sudah tersebar ke mana-mana, Du. Semua orang di sekolah ini juga sudah tahu,” tutur Anton lagi-lagi dengan wajah serius.

“Tahu dari mana?” Saya merasa sangat waswas.

“Jadi benar, ya, kalau korban pemerkosaan itu elu?” Anton malah balas bertanya.

Saya memang bodoh. Pertanyaan saya barusan itu bisa dianggap mengiakan dari pertanyaan yang Anton lontarkan sebelumnya. Saya jadi tegang. Mungkin muka saya sudah pucat pasi. Saya akhirnya memilih diam karena takut salah bicara lagi.

“Oh ternyata benar.” Anton mengangguk pelan setelah mengamati muka saya. “Kemarin siang gempar banget, Du. Ada yang bilang, salah satu murid di sekolah ini adalah keponakan si jurnalis, tapi entah bagaimana enggak ada yang buka suara siapa orangnya, kelas berapa, dan dari kelas mana. Sejak siang kemarin cuma nama lu yang disebut-sebut sebagai korban pemerkosaan itu,” sambungnya menuturkan apa yang terjadi saat saya tidak berada di sekolah ini.

Saya tetap diam.

“Awalnya gue enggak percaya kalau korban itu elu, Du, tapi setelah melihat reaksi lu kayak sekarang, gue jadi yakin kalau remaja laki-laki yang dimaksud di berita itu memang elu.”

Saya mengusap wajah. Cemas sekali rasanya mengetahui apa yang diketahui teman-teman di sekolah. Kalau memang benar Daman membocorkan nama asli saya kepada keponakannya yang bersekolah di sini, itu tindakan yang kurang ajar sekali. Saya bisa saja mencari kebenarannya dengan mendatangi kantor media tempat Daman bekerja. Namun, kalau ternyata itu tidak benar, saya malu terhadap Daman. Lagi pula, benar atau tidaknya, bila saya mendatangi Daman boleh jadi malah menambah masalah. Benar apa yang dikatakan Bapak waktu itu. Sekarang saja saya semakin diterpa banyak masalah. Saya tak mau dihantam persoalan lain lagi yang akan memperburuk keadaan.

“Gue cuma penasaran, bagaimana rasanya entotan, Du, soalnya gue belum pernah.” Anton terkekeh lagi, tetapi kali ini sambil menggaruk kepalanya dan tampak malu-malu. Dia jadi terlihat lebih tolol, polos, dan sangat menyebalkan.

Rupanya, sejak tiba di sekolah, saya bukan tidak mengerti pandangan teman-teman terhadap saya, tetapi saya tidak mau memercayai apa yang ada di dalam benak saya, bahwa mereka melihat saya dengan beragam tatapan. Memang ada yang tampak prihatin dengan apa yang saya alami, tetapi lebih banyak tatapan jijik yang menelanjangi. Mungkin dalam hati mereka mengatakan saya tolol, bisa-bisanya diperkosa oleh seorang perempuan. Mungkin dalam diri mereka mencerca, bahwa saya hanya pandai dalam pelajaran, tetapi tak pintar menjaga diri dan kehormatan.

“Lu mau tahu rasanya entotan?” tanya saya kemudian dengan hati terbakar.

Anton mengangguk sambil tersenyum senang.

“Lu entotan aja sana sama pacar lu!” kata saya dengan suara keras, sampai-sampai seluruh teman satu kelas melihat ke arah saya. Saking jengkelnya dengan sikap dan semua pertanyaan Anton, saya sampai tak sadar terbawa emosi yang bisa jadi malah memperburuk pandangan teman-teman terhadap saya.

“Lah, kok elu jadi sewot, Du?” Anton terkejut mungkin karena tak mengira saya akan semarah itu. Kini sorot matanya menjadi kesal.

“Oh iya, gue lupa kalau elu gak punya pacar.” Saya terkekeh mengejek. “Jelas aja gak ada cewek yang mau sama elu. Sudah gak ganteng, goblok pula. PR aja menyontek terus sama gue,” sambung saya memuntahkan kejengkelan.

“Lah, elu kok jadi mengejek gue?! Bangsat lu!” Anton berdiri.

“Hampir sebangsat elu!” Saya berdiri.

“Gue memang gak seganteng dan sepintar elu, Du, tapi gue bisa jaga diri dan gak jadi aib keluarga dan aib satu sekolah!”

“Anjing lu!” Saya mencengkeram kerah seragam Anton.

“Hampir seanjing elu!” balas Anton dengan tatapan menantang.

Tak banyak cakap lagi saya langsung menonjok mukanya, sehingga Anton mundur satu langkah. Dengan cepat dia juga meninju saya, sehingga saya pun mundur satu langkah. Kami sama-sama menerima pukulan.

Bagus dan Jaya langsung melerai kami, tetapi hanya Anton yang dipegangi mereka. Sementara teman-teman yang lain hanya menonton, seolah-olah mereka tidak ingin meyentuh saya yang sudah dianggap kotor.

“Kasihan Sandri, punya pacar goblok kayak elu!” teriak Anton. “Bagaimana bisa lu menjaga Sandri, sementara menjaga diri lu sendiri aja lu kagak mampu!”

Pukulan Anton memang sakit, tetapi lebih sakit perkatannya barusan. Sementara itu, teman-teman melihat saya dengan air muka yang menyetujui ucapan Anton tadi. Saya merasa tidak ada satu pun teman yang berdiri membela saya. Sisil dan Cika menghampiri dan berdiri di dekat Anton. Saya masih ingat betul bagaimana mereka berlima memuji-muji saya lantaran sering saya berikan sontekan PR, dan kali ini segala sanjungan itu berubah menjadi tatapan jijik dan permusuhan.

“Kami semua prihatin sama kamu, Du,” ujar Sisil.

“Kenapa kamu malah marah seperti itu?” tanya Cika.

“Sampai mukul segala,” tambah Bagus.

Sementara Jaya hanya menggeleng-geleng, seperti tidak percaya dengan sikap saya yang kasar terhadap Anton.

Saya sulit memercayai apa yang dikatakan teman-teman saya itu. Andai saja mereka tahu apa yang tadi ditanyakan oleh Anton, mungkin mereka akan memihak saya. Namun, saya malas menjelaskan itu. Saya juga tidak tahu apakah mereka tulus atau hanya sekadar berbasa-basi karena label pertemanan. Saya sungguh tidak paham apakah mereka benar-benar ingin menguatkan saya, atau jangan-jangan semua kata dan sikap mereka muncul karena rasa tak enak hati karena sering saya bantu dalam menyalin PR. Saya tak bisa berpikir jernih. Saya tak sanggup menerka dengan baik. Dunia saya serasa terbalik.

“Makanya, punya kontol itu dijaga, biar enggak dientot sama memek orang!” seru Anton yang masih kesal kepada saya. “Kalau perlu lepasin dulu kontol lu dan simpan di rumah sebelum bepergian, biar aman! Punya kontol, kok, cuma jadi aib!” Dia terkekeh mengejek.

Karena tak tahu harus berkata dan bersikap seperti apa, saya memutuskan meraih tas di laci meja dengan gegas, lalu ke luar dari kelas dengan kedua mata memanas. Saya menangis sambil buru-buru menuju gerbang sekolah yang hendak ditutup oleh sekuriti. Saya terus berlari pergi.

***

Saya tidak tahu harus ke mana. Kepergian saya dari sekolah memang tak memiliki tujuan yang jelas. Saya hanya ingin menghindar dari semua perkataan dan sikap teman-teman yang saya rasa makin tidak mengenakkan. Karena tak mungkin langsung kembali ke rumah, saya memilih masuk ke Warung Kopi milik Mbak Nyong.

Warung tidak ramai, hanya ada seorang sopir truk yang sedang mengopi. Setelah melepaskan tas dan menaruhnya di balai-balai, saya pun merebahkan diri di tempat itu berbantal sebelah lengan. Perkataan Anton masih saja teriang-ngiang dalam kepala saya. Benar kata Anton. Saya yang tidak bisa menjaga diri, bagaimana bisa menjaga Sandri? Saya yang tak mampu melindungi diri, bagaimana mampu melindungi Sandri? Anton seperti baru saja menunjukkan kekurangan sekaligus ketololan saya.

Kemungkinan besar Sandri sudah tahu kalau saya korban pemerkosaan. Tersebab itu kemarin dia tidak jadi menemui saya, dan hari ini dia enggan menjemput saya. Karena saya, dia juga pasti merasa malu di hadapan teman-teman, sehingga tak masuk sekolah. Astaga! Saya benar-benar telah menyusahkannya. Saya harus berbuat apa? Saya harus mengatakan apa di depan Sandri? Tunggu! Apakah Sandri juga enggan bertemu dengan saya lagi? Kenapa bisa sampai sekacau ini?

“Puk, Kapuk, kamu enggak sekolah?” Mbak Nyong duduk di balai-balai. Dia menaruh secangkir kopi hitam di dekat saya.

“Enggak, Mbak.” Saya mengembuskan napas berat dan panjang.

“Tumben.”

Lihat selengkapnya