Bang Raka dan Bapak sudah berangkat bekerja pagi-pagi. Bukan karena mereka diminta bekerja lebih awal, tetapi saya yang bisa dibilang menghindar. Entah bagaimana saya jadi enggan bercakap-cakap dengan mereka, terutama Bapak yang semalam sempat berdebat dengan Emak. Saya berpura-pura bangun tidur lebih lambat daripada biasanya. Di kamar kecil pun saya tidak mandi, lebih memilih bengong sambil mengulur waktu. Saya sengaja tidak menemui Bapak tersebab saya enggan dipandang dengan tatapan menyalahkan. Anggapan saya itu memang belum tentu terjadi, tetapi tak ada jaminan kalau saya sarapan bersama Bapak akan ada obrolan yang menenangkan saya.
Emak sempat mewanti-wanti saya untuk tidak terlambat sampai di sekolah. Saya menjelaskan paling-paling terlambat lima sampai sepuluh menit bisa dimaklumi dan gerbang sekolah belum sepenuhnya ditutup. Setelah sarapan yang saya paksakan lantaran tak ada nafsu makan, saya pun berangkat. Alih-alih ke sekolah, saya justru ke Warung Kopi.
Saya mendapati mobil Bang Ndang di sisi jalan raya dengan kondisi mesin menyala. Sepertinya dia hendak pergi dan Mbak Nyong sudah berada di dalam mobil itu. Karena melihat Warung Kopi tutup, saya menghampiri Bang Ndang yang baru saja menutup gerbang rumah. Saya bertanya pada Bang Ndang karena jaraknya yang paling dekat dengan saya ketimbang Mbak Nyong, “Mau ke mana, Bang?”
“Mudik dulu, Puk,” sahut Bang Ndang. “Ibu saya sakit. Kata Kakak saya kondisinya sudah memburuk, makanya saya diminta lekas pulang kampung,” lanjutnya menjelaskan.
Saya hanya mengangguk-angguk paham.
“Mari, Puk.” Bang Ndang berlalu dari hadapan saya. Dia langsung masuk ke mobilnya dan pergi.
Lantaran tidak ada tempat persembunyian yang sekiranya aman, saya memutuskan menuju gubuk di kebun milik Pak RT. Sebenarnya saya khawatir bertemu dengan teman-teman saya di sana, yang kemungkinan besar malah membikin saya kesal lagi. Namun, tersebab tak tahu harus menuju ke mana, akhirnya saya terpaksa ke sana. Kalau memang Panjul, Boncel, Uban, dan Curut menyebalkan seperti kemarin, saya memilih pulang saja dan berterus terang kepada Emak kalau saya enggan ke sekolah. Saya pasrah bila nanti Emak marah.
Di dalam gubuk rupanya tidak ada siapa-siapa. Saya lantas berbaring dengan berbantal tas punggung. Saya terpikir untuk menemui Sandri yang menjadi pengharapan besar saya. Sandri satu-satunya yang saya rasa mampu menentramkan kegelisahan saya. Namun, saya tidak bisa memastikan Sandri ada di rumahnya. Bisa jadi Sandri sedang berada di sekolah. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bertandang ke rumahnya setelah jam sekolah berakhir.
Beberapa saat kemudian saya mendengar langkah orang melangkah mendekat. Saya bergerak untuk duduk sambil menajamkan pendengaran. Saya berpikir itu pasti teman-teman saya, tetapi ternyata saya salah.
“Loh, jadi kamu yang sejak kemarin membolos sekolah dan malah bersantai di sini?” tegur Pak RT yang kemudian masuk ke gubuk dan duduk di balai-balai.
“Bukan cuma saya, Pak,” jawab saya spontan.
“Ada warga yang melapor sama saya, katanya ada anak sekolahan yang membolos sekolah dan mabuk-mabukan di sini.” Pak RT menatap saya dengan sorot mata menyelidik.
“Tapi, Pak. Saya—”
“Ya sudah, enggak apa-apa. Saya mengerti keadaanmu,” Pak RT menyela dengan nada bicara yang santai.
Kini saya yang bingung. “Maksudnya, Pak?”
“Kemarin sore pihak kepolisian mendatangi saya. Ada dua polisi yang mau melakukan penyidikan terkait laporan pemerkosaan yang dialami salah satu warga di sini, yaitu kamu. Mereka meminta data semua warga dan banyak bertanya soal keluargamu. Mereka juga sempat memeriksa gang depan dan mewawancarai beberapa warga di depan sana.” Pak RT menunjuk ke arah jalan raya. “Oh ya, tapi saya enggak bercerita kepada warga perihal kamu yang jadi korban pemerkosaan,” sambungnya. Barangkali Pak RT tahu kalau warga sudah tahu kasus yang menimpa saya dan beliau tak mau saya salahkan.
Saya sungguh kaget mendengar penuturan Pak RT. Mungkin karena itu semalam Emak bertutur kalau kemarin sore ibu-ibu di warung bertanya-tanya soal saya. Inilah risikonya melapor ke kepolisian, akan ada penyidikan. Kendati sebisa mungkin polisi menutupi identitas saya dari warga, toh tetap saja masyarakat pintar bergunjing sekaligus menebak.
Semakin hari, apa yang Bapak khawatirkan kian terbukti. Sesungguhnya saya tidak tahu betul apa yang Bapak waswaskan. Benarkah Bapak begitu khawatir kepada saya? Atau, jangan-jangan beliau yang tak mau menanggung malu dari aib yang saya timbulkan? Entahlah.
“Daripada kamu membolos di sini, lebih baik kamu beristirahat di rumah. Kamu jujur aja sama orang tuamu kalau kamu belum siap ke sekolah. Mereka pasti mengerti, kok, yang penting kamu jujur,” Pak RT tersenyum berupaya menenangkan saya.
Pak RT gampang berkata seperti itu lantaran tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarga saya. Sementara saya tak mau menceritakan masalah yang muncul di rumah. Saya tak ingin beliau berpikir kalau orang tua saya tidak bisa merangkul dan membesarkan saya dengan baik, terlebih setelah saya menjadi korban pemerkosaan.
Lantaran saya masih diam, Pak RT kembali bicara, “Kamu juga sebaiknya ke psikolog atau psikiater, jadi kamu—”
“Sudah, Pak,” sela saya yang ingin sekali menghentikan percakapan ini. “Pihak kepolisian juga sudah menyediakan pendampingan psikolog untuk saya,” jelas saya berbohong karena pendampingan psikolog yang dijanjikan kepolisian belum dimulai.
“Baguslah kalau begitu.” Pak RT mengangguk-angguk paham.
Saya kembali diam.
“Ya sudah, kalau memang masih ingin berada di sini silakan aja, tapi jangan mabuk-mabuk, ya?” Pak RT tersenyum.
“Iya, Pak.”
“Nanti kalau sudah siang kamu pulang aja, ya?”
“Iya, Pak.”
“Tenang, saya enggak akan memberi tahu orang tuamu kalau kamu membolos sekolah dan bersantai di sini.”
“Iya, Pak.”
Pak RT pun berlalu. Sementara saya memilih kembali berbaring dengan kepala bertambah pening.
***
Saya terbangun dengan badan pegal-pegal. Entah lantaran permukaan balai-balai yang keras, ataukah memang kondisi saya yang belum juga pulih dari kelelahan. Saya sempat kaget karena mengira terjaga saat pagi. Sampai beberapa detik kemudian kesadaran saya kembali normal. Sambil memijat tengkuk yang agak nyeri, saya sepenuhnya siuman dari kebingungan. Ya, saya berada di dalam gubuk di kebun Pak RT dan hari sudah siang.
Kesendirian mengembalikan keterpurukan yang saya rasakan. Ingin bertukar pikiran dengan Mbak Nyong, tetapi dia sedang mudik bersama Bang Ndang. Ingin kembali ke rumah, tetapi Emak pun tidak bisa diajak bicara. Emak pasti diam-diam malah murung tersebab para tetangga sudah mengetahui saya yang jadi korban pemerkosaan. Sedangkan bercakap-cakap dengan Bang Raka dan Bapak pun rasanya tidak bisa, justru keduanya makin sulit diajak berdiskusi. Satu-satunya yang terpikirkan oleh saya adalah Sandri. Ya, Sandri-lah harapan saya untuk berbagai segala perasaan dengan nyaman. Lantaran pemikiran itu, akhirnya saya memberanikan diri menuju rumah Sandri.
Sesampainya di kediaman Sandri, saya disambut oleh Pak Barko. Namun, kali ini Pak Barko menerima kedatangan saya tanpa senyum dan candaan seperti biasanya. Beliau bahkan tetap asyik duduk di kursi tanpa mempersilakan saya turut duduk di sebelahnya. Beliau sangat terlihat tidak bersahabat.
“Sandri sedang enggak enak badan, Nak Randu. Dia baru aja minum obat dan tidur.” Pak Barko melihat saya dengan tatapan yang belum pernah saya lihat, yakni jijik dan benci. Begitulah apa yang saya tangkap juga dari air mukanya.
Saya spontan menelan ludah lantaran kecewa. Saya menduga apa yang dikatakan Pak Barko barusan adalah kebohongan. “Kalau begitu saya tunggu Sandri sampai bangun ya, Pak?” kata saya kemudian meminta izin sambil melihat bangku di sebelah Pak Barko yang kosong dan bisa saya tempati.
“Jangan, Nak Randu,” sahut Pak Barko cepat. “Lebih baik kamu pulang aja. Sandri kalau tidur bisa sampai malam karena pengaruh obat.”
Saya tersentak. Saya tidak percaya Sandri terlelap sampai malam kendati mengonsumsi obat. Ini jelas penolakan. Saya benar-benar tidak diinginkan di sini. “Sebentar aja, Pak. Saya benar-benar mau ketemu Sandri,” pinta saya.
“Jangan. Kamu pulang aja,” Pak Barko menimpali sambil mengibaskan tangannya.
Saya mengangguk-angguk pelan karena semakin paham. “Pak, tolong izinkan saya ketemu Sandri untuk yang terakhir kali,” kata saya mengiba. Sesungguhnya saya tidak senang melakukan ini, tetapi saya tak tahu harus berkata atau berbuat apa lagi.
Pak Barko tersenyum tipis. Tampangnya makin terlihat jengkel. “Baiklah, kita blak-blakan aja,” katanya, lalu diam sejenak untuk menyulut rokok. “Begini, Nak Randu, kami sudah tahu kalau kamu korban pemerkosaan. Gara-gara kamu, Sandri menanggung malu di sekolah. Dia jadi rendah diri di depan teman-temannya, makanya dia enggak mau masuk sekolah karena mendapat tekanan itu. Karena hal tersebut, saya memilih untuk memindahkannya ke sekolah lain. Bila perlu dia sekolah di kota lain aja biar enggak ada orang yang mengetahui kalau dia bekas pacar korban pemerkosaan.”
Bekas pacar korban pemerkosaan …? batin saya bersuara dengan keterkejutan yang luar biasa. Mendengar itu hati saya terasa remuk lagi. Itu artinya Pak Barko sudah tidak menginginkan saya kelak menikahi Sandri. Cita-cita saya itu telah sirna.
“Gara-gara kasus yang kamu alami, bukan cuma Sandri yang kena imbasnya,” lanjut Pak Barko dengan mulut mengepulkan asap tembakau, “tapi saya dan istri saya juga kena, Nak Randu. Kami jadi malu sama tetangga yang pernah melihatmu sering datang ke sini. Saya juga enggak tahu dari mana mereka tahu.” Beliau menggeleng-geleng pelan. “Kamu tahu sendirilah. Kehidupan ini sudah semakin canggih, ibaratnya kita bisa tahu sesuatu cuma tinggal satu kali klik aja,” sambungnya sambil menggerakkan telunjuk tangannya seolah-olah sedang menekan tombol tetikus.
Saya terus berusaha tenang, padahal batin saya sedang dihantam badai. “Saya paham, Pak. Maafkan saya, Pak, gara-gara saya Bapak sekeluarga jadi ikutan susah.” Saya diam. Sungguh, saya benci pada diri saya sendiri yang bisa-bisanya malah berkata seperti itu.
“Baguslah kalau kamu lekas mengerti. Kamu memang cerdas,” cetus Pak Barko dengan nada yang terdengar menyindir.
“Tapi, Pak, sekali ini aja saya ketemu Sandri. Lima menit aja, Pak,” pinta saya lagi yang tetap mau berusaha. “Setelah itu saya janji enggak akan menemuinya lagi,” sambung saya sembari mati-matian menahan air mata agar tidak tumpah, sementara kedua kaki saya mulai terasa pegal.