Paginya saya berdiri di balik pintu untuk menguping pembicaraan Bapak, Emak, dan Bang Raka yang sedang sarapan bersama di ruang tengah. Sebelumnya, Emak mengajak saya untuk turut serta, tetapi saya menolak dengan mengatakan belum lapar dan masih mengantuk. Emak pasti tahu saya berbohong, tetapi beliau tak mau memaksa saya yang dipikirnya mungkin masih ingin sendiri. Tentu saja saya lapar, tetapi memang saya masih ingin berada di kamar. Sebenarnya, sedari tadi saya menimbang-nimbang sebuah rencana, tetapi saya masih ragu untuk mengatakannya pada mereka.
Tampaknya mereka sudah selesai sarapan, sehingga memulai obrolan yang lancar tanpa diselingi jeda waktu untuk menyuap, mengunyah, atau menelan makanan. Paling-paling mereka sedang menikmati teh manis hangat seperti biasanya.
“Sebaiknya kamu menelepon atau datang lagi ke kantor polisi, tanyakan sama pihak kepolisian kapan dimulainya pendampingan psikolog. Begitu.”
“Iya, Pak,” sahut Emak. “Nanti saya ke kantor polisi aja, lebih enak ngomong langsung di sana.”
“Kalau perlu ceritakan aja kondisi Randu sama polisi biar lekas dimulai konselingnya.”
“Iya, nanti setelah masak saya ke sana.”
“Mak, kalau bisa Randu jangan dibiarkan terlalu lama sendirian,” imbuh Bang Raka. “Sesekali kita harus melongoknya di kamar. Takutnya dia mau bunuh diri lagi.”
“Iya, kamu ‘kan hari ini libur, jadi kamu yang menemani Randu di rumah, biar Emak yang ke kantor polisi sendirian.”
Saya harus menyampaikan apa yang saya rencanakan sejak tengah malam. Saya sudah terlalu lama merenung dan menimbang baik buruknya. Karena sudah yakin, saya pun membuka pintu dan menghampiri mereka.
Emak melihat saya agak terkejut. “Eh, kamu sudah bangun. Ayo sarapan.” Beliau hendak bangkit mungkin mau membuatkan saya teh manis hangat.
“Nanti aja, Mak,” sahut saya seraya duduk. “Ada yang mau saya sampaikan.” Saya menyandarkan punggung pada sandaran kursi agar duduk lebih nyaman. “Sebelumnya, saya minta maaf sama Bapak, Emak, dan Bang Raka. Gara-gara saya semuanya jadi susah. Gara-gara saya semuanya jadi ikut-ikutan malu.”
“Jangan bicara seperti itu.”
“Tapi memang itu yang terjadi, Mak.”
“Sudahlah, yang penting lu nanti mau mengikuti konseling sama psikolog,” kata Bang Raka.