Dalam Pusaran Badai

Ari Keling
Chapter #11

Epilog

Kemarin saya dan Bang Raka tiba di rumah Nenek menjelang magrib. Perjalanan yang cukup melelahkan itu membikin pantat saya panas dan badan pegal-pegal. Kendati demikian, saya berharap di lingkungan baru ini tak lagi saya temukan pandangan-pandangan dan segala ucapan yang mengecewakan.

Saya dan Bang Raka diterima dengan baik oleh Nenek, Pakde, dan Bude. Saking gembiranya dengan kedatangan kami, Nenek meminta Pakde untuk mengambil ikan di tambak kebun belakang. Di pematang untuk menahan air itulah ada ikan peliharaan Pakde. Selain itu, Nenek juga meminta Bude mengambil sayuran di kebun. Lantas Nenek dan Bude memasak di dapur menggunakan kompor tungku dan kayu bakar.

Kami makan malam dengan hidangan yang segar dan penuh keakraban. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung kasus yang menimpa saya. Entah karena mereka tidak tahu, atau mungkin sudah diwanti-wanti Bapak atau Bang Raka agar tidak menanyakan perihal pemerkosaan.

Nenek adalah ibu dari Bapak saya. Beliau perempuan yang tetap terlihat segar dan kuat di usianya yang semakin menua. Kadang-kadang beliau membantu Pakde di tambak ikan dan tak jarang pula ke kebun sayuran membantu Bude. Tadinya, Pakde juga merantau seperti Bapak. Namun, setelah Kakek saya meninggal, Pakde memutuskan kembali ke kampung halaman untuk meneruskan usaha keluarga dan menjaga Nenek. Bude adalah istri Pakde. Anak-anak mereka sudah besar dan bekerja di luar kota.

Pagi tadi Bang Raka pulang karena besok harus kembali bekerja. Dia menasehati saya agar tetap semangat dan jangan pernah berpikir yang tidak-tidak atau membahayakan diri sendiri. Dia menegaskan bahwa saya harus menghargai persetujuan Bapak dengan tidak membuat keluarga di kampung mendapat masalah lain. Saya pun mengiakan dan berjanji tidak akan kembali berupaya membunuh diri.

Siangnya, Pakde dan Bude sedang di kebun, sementara Nenek beristirahat di kamarnya. Saya yang mulai merasa bosan akhirnya menyetel televisi. Siarannya bertepat dengan berita tengah hari, di mana lagi-lagi ada berita pemerkosaan di kota tempat tinggal saya kemarin. Saya pikir itu berita siaran ulang, ternyata bukan. Kabar terbaru itu mencengangkan saya. Pasalnya, ada delapan remaja SMA dan SMK yang menjadi korban pemerkosaan. Tiga laki-laki dan lima gadis. Saya gemetar menyaksikan tayangan itu. Saya semakin yakin mereka diperkosa oleh pelaku yang sama, terlebih dengan cara yang sangat mirip, yakni diculik, disekap, diperkosa, dibuang ke tempat yang sepi. Mengerikan sekali.

Sorenya, berita pemerkosan di kota tempat tinggal saya itu menjadi sangat gempar, bahkan sudah disiarkan di hampir semua stasiun televisi. Berita pemerkosaan terhadap anak-anak remaja itu jadi berita nasional. Barangkali pula kabar buruk itu telah sampai di luar negeri.

Lihat selengkapnya