Damar dan Hana

Azis Sulaeman
Chapter #1

Rantai panjang itu adalah takdir

Kabut pagi masih menggantung di atas perbukitan kecil di pinggir kampung ketika Damar memanggul kapaknya dan berjalan keluar rumah. Embun membasahi ujung rumput, sementara ayam-ayam mulai berkokok bersahutan. Langkah Damar pelan namun pasti, sebuah rute yang sudah sangat terbiasa ia lalui. Jalan tanah itu bahkan terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri karena sudah bertahun-tahun hidupnya berjalan dengan cara yang sama.

Rumahnya kecil, berdinding papan tua dengan atap seng berkarat. Ketika hujan turun deras, air sering menetes dari beberapa lubang kecil di langit-langit. Di rumah sederhana itulah Damar tinggal bersama ibunya yang sering sakit-sakitan dan adik perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Setiap hari, Damar berjalan sejauh dua kilometer menuju hutan demi mencari kayu bakar. Hutan itu berada di balik bukit kecil yang memisahkan kampung mereka dengan sungai panjang berair cokelat. Perjalanan pergi dan pulang sangat menguras tenaga, apalagi kayu yang ia bawa tidaklah ringan. Namun, hidup tidak pernah memberinya pilihan lain.

Dengan kapak tua peninggalan almarhum ayahnya, Damar memotong ranting-ranting kering lalu mengikatnya menjadi tiga ikatan besar. Setiap ikatan dijual seharga lima belas ribu rupiah kepada warga kampung atau warung makan kecil di pasar kecamatan. Tiga ikat kayu berarti empat puluh lima ribu rupiah sehari , jumlah yang sering kali jauh dari kata cukup.

Kadang Damar hanya makan nasi dengan taburan garam. Di lain hari, ibunya berpura-pura kenyang agar jatah makan Damar dan adiknya tidak berkurang. Semua kesederhanaan dan jepitan ekonomi itu diam-diam menumpuk menjadi beban besar di dada Damar. Ia lelah hidup miskin.

Di malam hari, Damar sering duduk di depan rumah sambil memandangi jalan raya kecil di ujung kampung. Sesekali ada bus antarkota melintas, membawa cahaya lampu yang terang benderang. Setiap kali melihatnya, hati Damar selalu dipenuhi angan-angan tentang sebuah tempat bernama kota. Baginya, kota adalah sebuah harapan dan tempat orang-orang bisa bekerja, memiliki banyak uang, dan mengubah nasib keluarga.

“Aku ingin merantau, Bu,” kata Damar pada suatu malam.

Ibunya terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan lirih, “Kalau itu bisa membuat hidupmu lebih baik, pergilah.” Kalimat itu terus terngiang dan membakar semangat di kepala Damar.

 

Merantau: Tahun Pertama

 

Akhirnya, pada usia dua puluh tahun, Damar pergi meninggalkan kampung halaman untuk pertama kalinya. Ia hanya membawa pakaian seadanya, uang tabungan hasil menjual kayu bakar, dan harapan yang terlampau besar.

Kota menyambut Damar dengan hawa panas, kebisingan, dan wajah-wajah asing yang dingin. Awalnya, ia bekerja sebagai penjual kopi keliling. Sambil memikul termos besar berisi air panas, ia berjalan mengitari terminal dan pasar dari pagi hingga malam. Ia menawarkan kopi kepada para sopir angkot, buruh pasar, dan pedagang kaki lima.

“Ngopi, Bang… kopi panas…” Suara Damar selalu berakhir serak di penghujung hari.

Penghasilannya sebenarnya lumayan, namun biaya hidup di kota jauh lebih mahal daripada yang ia bayangkan. Harga kontrakan, makanan, dan biaya harian perlahan mengikis modalnya. Malapetaka datang suatu malam ketika termos dagangannya hilang dicuri orang. Damar panik, modalnya telah habis tak bersisa.

Ia mencoba bertahan beberapa minggu lagi, tetapi keadaan tidak kunjung membaik. Pada akhirnya, ia hanya bisa terduduk sendiri di sudut terminal sambil menatap selembar tiket bus menuju kampung halaman. Matanya terasa panas. Baru beberapa bulan merantau, ia sudah harus menelan kekalahan. Ketika bus memasuki kampungnya kembali, Damar merasa seperti seorang pecundang. Ia turun dengan kepala tertunduk, dan ibunya menyambutnya hangat tanpa banyak bicara. Besok paginya, Damar kembali berjalan menuju hutan. Seolah-olah hidupnya tidak pernah berubah.

 

Lihat selengkapnya