Aroma tanah basah dan kepulan asap dari dapur tua menjadi saksi bisu bagaimana Damar menghabiskan hari-harinya. Sudah dua tahun ini ia kembali terdampar di kampung halamannya, sebuah desa terpencil yang seolah enggan berubah. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyapa bumi, Damar sudah memanggul kapak setianya. Aktivitasnya kembali seperti dulu: merambah hutan-hutan kecil, mengumpulkan ranting dan kayu kering, lalu mengikatnya untuk dijual ke tetangga atau pasar desa.
Dua tahun yang lalu, Damar pulang dari Surabaya dengan kepala tertunduk. Kota pahlawan itu memuntahkannya kembali ke desa, menyisakan luka batin akibat kegagalan yang bertubi-tubi. Namun, bara di dada Damar belum sepenuhnya padam. Keinginan untuk kembali ke kota besar masih ada, berdenyut pelan di antara rasa trauma. Sering kali, saat terduduk lelah di bawah pohon jati, ia teringat bagaimana Surabaya seolah sangat membencinya. Setiap sudut kota itu seperti berbisik bahwa ia tidak pantas berada di sana. Kegagalan demi kegagalan berulang seakan menjadi kutukan yang melekat pada namanya.
Namun, Damar menolak menyerah pada nasib. Nilai penjualan kayu bakar memang tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari bersama orang tuanya yang makin menua. Tetapi, dari receh yang tersisa, Damar menyisihkan sedikit demi sedikit. Ia tahu, jika hanya mengandalkan kayu bakar, impiannya untuk merantau kembali akan telanjur basi.
Keberuntungan sedikit berpihak ketika sebuah proyek pembangunan balai desa dan beberapa rumah warga dimulai. Damar langsung mengajukan diri menjadi kuli bangunan. Sejak hari itu, ritme hidupnya berubah drastis dan menguras seluruh tenaga yang ia miliki.
Setiap hari, ia bekerja dengan sangat giat tanpa mengenal lelah. Pagi-pagi buta, saat embun masih tebal, ia sudah masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar. Begitu jam menunjukkan pukul delapan pagi, ia bergegas menuju lokasi proyek, mengganti kapaknya dengan sekop dan semen. Mengaduk pasir, mengangkat bata, hingga memanjat perancah bambu dilakoninya di bawah terik matahari yang membakar kulit. Semua keletihan itu ia telan bulat-bulat demi satu tujuan: mengumpulkan modal untuk kembali mengadu nasib di perantauan.
Langkah Baru yang Menjepit
Waktu berjalan merayap. Setelah delapan bulan meniti hari-hari yang melelahkan dari pagi sampai sore, celengan bambu dan dompet kain Damar mulai menebal. Uang tabungannya kini sudah cukup. Memang tidak banyak, ia sadar betul akan hal itu. Jumlahnya hanya sekadar cukup untuk menyewa kamar kontrakan kecil dan bertahan hidup selama beberapa bulan di perantauan sebelum mendapatkan pekerjaan baru.
Malam sebelum keberangkatan, dengan suara yang bergetar namun sarat akan keyakinan, Damar meminta izin kepada ibunya. Di bawah pendar lampu teplok yang temaram, ibunya hanya bisa mengangguk pasrah. Ibunya tahu, menahan Damar di desa sama saja dengan mematikan impian anak lelakinya itu. Kota Surabaya kembali menjadi magnet yang menarik langkah kakinya.
Sesampainya di Surabaya, kenyataan pahit langsung menampar wajah Damar tanpa ampun. Pekerjaan pertama yang berhasil ia dapatkan adalah di sebuah pabrik sandal jepit di pinggiran kota. Damar mengira ia sanggup, namun sistem kerja di sana sangat menyiksa. Ia harus berdiri di depan mesin pencetak panas selama 12 jam penuh setiap hari, dengan udara pabrik yang pengap dan bau karet menyengat yang menusuk paru-paru. Upah yang diterimanya tak sebanding dengan raga yang digerogoti kelelahan luar biasa. Tubuhnya menjerit protes, hingga akhirnya Damar hanya mampu bertahan selama satu bulan saja di pabrik itu.
Setelah keluar, Damar tidak punya waktu untuk menganggur. Melalui informasi seorang kenalan, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah tempat pengumpulan sampah. Tugasnya memilah plastik, kardus, dan besi tua. Secara fisik, pekerjaan ini memang tidak seberat mematung di depan mesin pabrik sandal jepit. Namun, beberapa hari menjalani rutinitas itu, batin Damar bergejolak. Sambil memegang botol plastik kotor di tengah bau busuk yang menyengat, ia termenung.
“Apa bedanya pekerjaan ini dengan apa yang kulakukan di desa?” pikirnya getir. “Di kampung aku memungut kayu kering, di sini aku memungut sampah. Mengapa aku harus merantau sejauh ini hanya untuk melakukan hal yang sama?”
Perasaan hina dan tidak berkembang itu membuatnya mengambil keputusan bulat. Damar kembali mengundurkan diri.