Usia Damar kini tepat menginjak tiga puluh tahun. Di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis kedewasaan, terpancar ketenangan yang sangat berbeda dari lima tahun lalu. Lima tahun yang lalu, ia melangkah gontai meninggalkan gemerlap palsu Kota Surabaya. Ia pulang ke kampung halaman membawa koper yang terasa sangat berat, bukan karena isinya yang melimpah, melainkan karena beban kegagalan yang bertubi-tubi menghantam dirinya hingga runtuh. Surabaya telah menjadi saksi bisu bagaimana mimpi-mimpinya hancur berkeping-keping, meninggalkannya dalam kehampaan yang nyaris mematikan semangat hidupnya.
Kepulangannya ke desa kecil itu awalnya terasa seperti sebuah kekalahan total bagi Damar. Namun, ia tidak punya pilihan selain terus melanjutkan hidup. Segera setelah menata kembali hatinya, Damar kembali kepada aktivitas hariannya yang dulu, yaitu mencari kayu bakar di hutan dekat desanya. Setiap pagi, ia memanggul kapak dan tali, menyusuri jalan setapak demi mengumpulkan ranting dan batang pohon kering. Rutinitas itu ia jalani dengan diam, membungkus sisa luka hatinya dalam peluh dan deru angin hutan.
Satu tahun setelah kepulangannya dari Surabaya, sebuah titik terang mulai menghampiri hidupnya. Ketua RT di tempatnya tinggal, seorang pria paruh baya yang memperhatikan kegigihan Damar, datang membawa sebuah penawaran pekerjaan. Pak RT menawarkan Damar untuk menjadi pengurus ternak sapi miliknya yang berjumlah lima ekor sapi dewasa dan dua anak sapi. Dalam kesepakatan itu, Ketua RT tersebut berjanji kepada Damar bahwa apabila sapi-sapinya beranak nanti, maka anak pertama yang lahir akan diberikan sepenuhnya kepada Damar sebagai hak milik.
Kesempatan itu disambut Damar dengan penuh rasa syukur. Sejak hari itu, Damar menjadi sangat giat dalam bekerja. Ia mengatur waktunya dengan disiplin yang ketat, Damar tetap konsisten menjalankan pekerjaan lamanya mencari kayu bakar di pagi hari, dan setelah menyelesaikan urusan kayu bakar tersebut, barulah Damar pergi ke ladang dan tepi hutan untuk mencari rumput segar demi memberi makan sapi-sapi Pak RT. Ia tidak pernah mengeluh meski tenaganya terkuras habis setiap hari.
Kini, tak terasa Damar telah empat tahun bekerja sebagai pengurus ternak milik Pak RT. Selama empat tahun dedikasi dan kerja keras tersebut, keberuntungan dan berkah mulai berpihak kepadanya. Damar telah diberikan dua ekor anak sapi, masing-masing jantan dan betina, oleh Pak RT. Hadiah ini diberikan sesuai dengan perjanjian awal mereka serta sebagai bentuk penghargaan atas sikap giat dan jujurnya Damar selama bekerja.