Darah Di Atas Bunga Anyelir

chewysour
Chapter #1

Viella Lorienclad

[Kejadian 1 tahun yang lalu]


Suara anak panah yang ditembakkan itu memekakan telinga setiap prajurit. Perisai baja itu berjejer rapi menutup tubuh para prajurit yang berbalut baju zirah.


Duarrrr!!!


Suara meriam yang jatuh telak di atas permukaan laut. Ledakan dahsyat di dalam air itu membuat gelombang besar, dengan asap putih tebal yang membumbung tinggi di atas permukaan air laut.


Saat ini di perbatasan selatan antara Brimtstone dan Arhcanis tengah dalam kondisi yang sengit dan mencekam.


Kubu dari Brimtstone yang terus menembakkan ribuan anak panah dan meriam ke arah kubu Arhcanis. Perperangan mereka di pisahkan oleh garis laut sejauh 3000 langkah kaki di atas permukaan laut.


Dengan teropongnya Pangeran Andreas melihat dengan jelas bagaimana jenderal dari Brimtstone itu berdiri tenang dengan mata kucingnya yang mengintimidasi.


Benteng pertahaan prajurit Arhcanis disebelah utara berhasil dilumpuhkan oleh Brimtstone. Beruntung Andreas datang tepat waktu dan dapat melempar kembali serangan pada Brimtstone.


"Siapkan culverin! Tahan!!" Andres berteriak berusaha agar suaranya tidak kalah dari berisiknya medan. Tangan Andreas terangkat ke udara dan dalam satu komando pihak Arhcanis menembakkan puluhan bola meriam ke arah Brimtstone.


Namun, Brimtstone yang dikenal dengan kerajaan dengan militer terkuat tentu bukan hal yang sulit untuk menangkis serangan jarak jauh dari Arhcanis.


Bola-bola meriam itu saling beradu. Suara ledakan yang terdengar dahsyat semakin membuat suasana medan semakin mencekam dengan asap putih tebal yang membuat pandangan menjadi kabur.


Dari pihak Brimtstone, Jenderal militer wilayah selatan itu memicingkan mata gelapnya. Dari pandangannya ia melihat bagaimana sosok Pangeran dari Arhcanis itu sudah bersiap dengan busur dan tiga anak panahnya sekaligus.


"Yang Mulia, pihak Arhcanis selalu bisa menangkis serangan kita. Benteng utara yang sempat melemah justru menyerang umpan balik."


Mendengar itu, mata kucing Pangeran Elion semakin menyempit dengan urat-urat di pelipisnya yang menonjol. "Kali ini Putra Mahkota Arhcanis yang mengambil alih komando."


Sat...!!!


Dua dari tiga anak panah yang Pangeran Andreas tembakan mendarat tepat di depan kaki sang Jenderal dari Brimtstone tersebut. Bukan hanya anak panah tapi ada gulungan surat yang terikat disana.


Elion tersenyum miring. "Disaat seperti ini apa negosiasi dalam pembacaan surat masih bisa diperlukan?"


Bukannya membuka surat tersebut Elion justru semakin lantang untuk terus memborbardir Arhcanis. Baginya panah dengan gulungan surat dari Arhcanis itu tidak penting.


"Tetap pertahankan posisi! Tembak meriamnya!" Elion berteriak memberi komando pada seluruh prajuritnya.


"Siap!!!"


Dengan semangat yang membara para prajurit Brimtstone itu terus menyerang tanpa henti.


Boom! Boom!


Bola besi api itu melesat menghancurkan sisi kiri pertahaan Arhcanis. Pangeran Andreas dan beberapa jenderal panik kelimpungan.


"Tahan posisi! Barikade perisai!" Teriak salah satu Jenderal di dekat Andreas.


Andreas tidak bergeming, dia berlari menuju pertahanan kiri yang jebol. Mendapati prajurit Arhcanis yang kewalahan dan terluka parah.

Lihat selengkapnya