Darah Di Belakang Sekolah

Nabilla Shafira
Chapter #4

4. Mari Kenalan

Baru kemarin Bagas resmi menjadi penghuni baru kelas Nafsha, pada keesokan harinya pemuda itu menjadi siswa paling populer disekolah. Memiliki postur tubuh tinggi dan berkulit kuning langsat serta rambut hitam legam disisir rapi sedikit kesamping, selain itu alis sedikit tebal juga rahangnya yang tegas menambah poin sosoknya. Disaat para cewek berebut narik perhatian Bagas hanya Nafsha yang tidak merasa tertarik dan memilih menjalani aktivitas seperti biasanya. Saat jam istirahat tiba Nafsha langsung menyeret Salsa pergi ke kantin sebelum meja favorit mereka diambil siswa lain.

"Nafsha!" Panggil Salsa,"kabar jenazah kemarin kok belum disiarkan ya?" Setelah memesan Salsa membuka topik.

"Harusnya sih udah disiarkan berita tadi pagi? Mungkin masih diperiksa?" Jawab Nafsha santai.

"Pelakunya juga belum ditangkap ya? Jadi takut." Salsa bergidik membayangkan wajah pelaku yang masih misteri.

"Kalau begitu kau harus jalan bareng, jangan sendirian!" Ucap Nafsha memberi saran. Tepat sampai diujung kalimat perhatian mereka segera teralihkan oleh kedatangan Laura dan dua temannya juga Bagas dibelakang mereka.

"Kalian bisa pindah nggak? Kami mau duduk disitu!" Ucap Laura dengan nada angkuh. Salsa memandang tidak suka sedangkan Nafsha tanpa pikir panjang mengangguk lalu mengajak Salsa pergi.

"Tapi makanan kita bagaimana?" Tanya Salsa.

"Kita makan dikelas saja. Ayo kita ambil pesanan kita!" Ajak Nafsha lengkap nyeret Salsa menjauh dari Laura dan dua temannya namun tidak sadar dirinya diperhatikan oleh Bagas. Setelah mengambil pesanan mereka berdua kembali ke kelas.

"Enak bener jadi anak kepala sekolah. Suka seenaknya sendiri!" Gerutu Salsa, membawa nampan berisi mangkuk soto ayam dan teh hangat.

"Sudahlah jangan dibahas!" Kata Nafsha. Setibanya dikelas Nafsha terkejut mendapati sebuah surat yang berada didalam loker mejanya, meletakkan nampannya lalu mengambil surat tersebut.

"Wah surat siapa itu? Ciee... rupanya ada yang naksir kamu nih," goda Salsa.

"Idih, ayahku kalau tahu bakal ceramahin aku selama delapan jam jika aku ketahuan pacaran!" Sahut Nafsha sembari lihat ke sekitarnya. Didalam kelas hanya mereka berdua.

"Ayo dibuka. Aku penasaran dengan isinya!"

Nafsha ragu namun akhirnya membuka amplop lalu mengeluarkan sebuah kertas berwarna biru dan membacanya.

"Maukah kau jadi pendampingku?"

Lihat selengkapnya