Darah Emas untuk Putri Gangster

Niexora Grey
Chapter #1

Mencari sang golden Blood

"Aku meminta kalian mencari satu dari lima puluh itu!"


Bentakan Alistair Laurent Beaumont mengguncang ruangan rapat yang dipenuhi pria-pria berjas hitam. Wajah mereka menegang. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.


"Maaf, Tuan. Beberapa pemilik Golden Blood sudah meninggal. Ada yang sedang sakit parah, ada pula yang menghilang tanpa jejak. Kami masih terus mencari keberadaan sisanya."


Brak!


Alistair menghantam meja kayu ek hingga gelas kristal di atasnya bergetar.


"Aku tidak mau tahu!"


Dalam sekejap, dia mencengkeram kerah salah seorang anak buahnya. Tubuh pria itu terangkat sebelum lehernya dicekik kuat.


"W—Waah ... Tuan ...."


Urat di leher Alistair menegang. Tatapannya dipenuhi amarah yang nyaris tak terkendali. "Nyawa putriku lebih berharga daripada nyawa siapa pun di dunia ini!"


Anak buah itu meronta, wajahnya mulai membiru.


"Kalau perlu ..." Suara Alistair berubah pelan, tetapi justru terdengar lebih mengerikan, "culik mereka. Beli mereka. Bunuh siapa pun yang menghalangi. Aku tidak peduli.


Dia melepaskan cekikannya begitu saja.


Buk!


Pria itu terjatuh sambil terbatuk-batuk, berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Seluruh ruangan seketika senyap. Tak seorang pun berani membela. Tak seorang pun berani menatap mata sang kepala mafia di hadapan mereka.


Alistair berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan langit Eropa yang mendung. "Sudah dua puluh lima tahun Alice bertahan dengan penyakit itu." Dia mengepalkan tangan. "Dan aku tidak akan membiarkannya mati."


Salah satu anak buah memberanikan diri melangkah maju.


"Kami baru menerima informasi, Tuan."


Alistair menoleh perlahan. "Apa?"


"Kemungkinan masih ada satu pemilik Golden Blood yang belum pernah terdata oleh organisasi mana pun."


Tatapan Alistair langsung berubah tajam. "Di mana?"


"Asia."


Semua orang saling tatap.


"Kami belum mengetahui identitasnya. Namun berdasarkan informasi yang kami peroleh, pria itu berusia sekitar dua puluh lima tahun."


Sudut bibir Alistair terangkat tipis.


"Sebelum siapa pun menemukannya." Tatapannya berubah dingin. "Bawa dia kepadaku."


***


Langit sore menggantung kelabu di atas proyek pembangunan itu.


Debu semen beterbangan setiap kali truk pengangkut material melintas. Di antara suara mesin, teriakan mandor, dan bunyi besi yang beradu, seorang pria mengangkat karung semen ke atas pundaknya.


Daniel Adjidra Wangsa berjalan dengan langkah berat.


Kausnya sudah basah oleh keringat. Debu menempel di rambut, leher, dan kedua lengannya. Telapak tangannya kasar, penuh kapalan. Di dekat pergelangan tangan kirinya, ada luka lama yang belum sepenuhnya pulih.


Dari dalam mobil hitam yang terparkir di seberang jalan, dua pria mengawasinya tanpa berkedip. "Dia bekerja seperti itu setiap hari?" tanya pria di kursi penumpang.


"Enam hari seminggu. Kadang tujuh."


"Tidak ada keluarga?"

Lihat selengkapnya