"Bukankah mandor itu sudah mengirimkan hasilnya?"
Temannya melotot tajam. "Kita perlu memastikan lebih detail. Jangan sampai ada kesalahan dalam misi ini."
Seorang pria lain turun dari mobil sambil membawa kotak kecil. Dia berpura-pura menjadi pekerja baru, lalu mendekati area tempat Daniel meninggalkan sarung tangan.
Namun sebelum tangannya menyentuh noda darah di lantai, Daniel tiba-tiba menoleh.
"Apa yang kau cari?"
Pria itu berhenti. Daniel berjalan mendekat. Tatapannya lelah, tetapi waspada.
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada, jangan menyentuh barang saya." Daniel mengambil sarung tangannya. Dengan kain yang sudah kusam, dia membalut telapak tangannya sendiri.
"Kau terluka," kata pria itu.
"Bukan urusanmu."
"Seharusnya kau pergi ke rumah sakit."
Daniel tertawa pendek. Tidak ada humor di dalamnya. "Kalau saya tidak bekerja, siapa yang membayar biaya rumah sakit?"
Pria itu terdiam. Daniel kembali ke tumpukan besi seolah luka di tangannya tidak berarti apa-apa. Dari dalam mobil, hasil pemeriksaan akhirnya masuk ke ponsel salah satu gangster. Positif. Kecocokan sempurna.
Pria di kursi penumpang menatap layar tersebut, lalu kembali mengarahkan kameranya kepada Daniel.
"Hubungi Tuan Alistair."
"Sekarang?"
"Tidak." Matanya mengikuti Daniel yang kembali mengangkat beban dengan tangan terluka. "Kita amati tiga hari lagi."