Lutut Daniel menghantam perutnya. Pria itu terhuyung. Daniel merampas tongkat pendek dari balik jaketnya, lalu mengayunkannya ke arah gangster kedua. Pukulan itu mengenai bahu. Terdengar suara benturan keras.
Namun jumlah mereka terlalu banyak. Pria lain menyerang dari belakang. Daniel sempat berbalik, menunduk, lalu menghantam dagunya dengan siku. Tetapi sebelum dia dapat bergerak lebih jauh, sebuah pukulan menghantam sisi kepalanya.
Pandangan Daniel bergetar. Dia mundur dua langkah. Darah kembali merembes dari telapak tangannya.
"Dia bisa berkelahi," gumam salah satu gangster.
"Tidak masalah. Tangkap dia!"
Tiga orang menyerbu bersamaan. Daniel menendang lutut pria pertama, memanfaatkan tubuhnya sebagai penghalang, lalu memutar dan menghantam pelipis pria kedua. Pria ketiga berhasil mencengkeram kerahnya.
Daniel membenturkan kepalanya ke wajah pria itu. Cengkeraman tersebut terlepas. Dia berlari menuju pagar seng.
Satu langkah. Dua langkah. Lalu Daniel melompat dan mencengkeram bagian atas pagar. Namun seseorang menarik kakinya. Tubuhnya seketika terjatuh keras ke tanah.
Sebelum sempat bangun, sebuah sepatu menghantam rusuknya. Daniel menahan suara sakit. Dia menggulingkan tubuh, menghindari tendangan berikutnya, lalu menyapu kaki lawannya. Pria itu jatuh, tetapi dua orang lainnya segera menindihnya.
Daniel menghantam satu wajah dengan kepalan tangan. Pukulan kedua mengenai leher. Pukulan ketiga tidak pernah sampai. Sebuah tongkat menghantam punggungnya. Napas Daniel terputus.
"Berhenti melawan!"
"Lepaskan saya!" Dia masih mencoba bangkit, tetapi satu lutut menekan tengkuknya ke tanah. Tangannya ditarik ke belakang dan diikat.
Daniel meronta dengan sisa tenaga. Dia berhasil menjatuhkan salah satu pria dengan tendangan, tetapi seseorang kembali menghantam kepalanya. Suara-suara di sekelilingnya mulai terdengar jauh.
"Pegang dia!"
"Jangan lukai wajahnya!"