Daniel menutup pintu kamar dengan tergesa-gesa. Dia memutar kunci dua kali, lalu menyandarkan punggungnya di sana sambil mengatur napas. Napasnya masih memburu karena berlari tanpa henti sejak meninggalkan proyek. Dadanya naik turun. Keringat membasahi pelipis dan lehernya, dan darah yang mengering di sudut bibir membuat wajahnya terasa perih.
Dia memejamkan mata. "Sial!"
Pikirannya berantakan. Siapa mereka? Kenapa mengejarnya? Dan bagaimana mungkin mereka tahu namanya?
Perlahan Daniel turun dan duduk di lantai. Kamar sempit itu mendadak terasa terlalu sunyi. Kedua pergelangan tangannya masih berbekas tali. Kulitnya memerah. Luka di telapak tangan kiri juga kembali terbuka karena perkelahian tadi. Dia mengusap wajahnya.
"Ini gila," gumamnya, lalu tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa lucu.
Pagi tadi hidupnya masih sederhana. Mengangkat semen, membawa besi, dimarahi mandor, menunggu upah harian. Sekarang, beberapa jam kemudian, dia baru saja dikejar sekelompok pria bersenjata.
Dengan langkah lemas, Daniel bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Dia membuka keran dan membasuh wajah dengan air dingin. Kepalanya sedikit lebih jernih. Di cermin, pantulannya berantakan: bibir pecah, pipi memar, rambut kusut, kaos kerja penuh debu dan sobek di bahu.
"Besok aku harus masuk kerja bagaimana?"
Pertanyaan itu terdengar bodoh di tengah kekacauan ini. Tapi justru dari situlah dia sadar betapa gentingnya situasinya. Dia tidak punya tabungan cukup, tidak punya keluarga yang bisa didatangi, tidak punya teman dekat untuk meminta perlindungan. Kalau besok tidak bekerja, dia tidak makan.
Daniel memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Setelah itu mengambil kotak obat kecil dari bawah meja. Isinya hanya plester, antiseptik, dan obat pereda nyeri. Dia duduk di tepi kasur dan membersihkan luka di telapak tangannya. Rasa perih membuat rahangnya mengeras.
Tiba-tiba dia teringat pria di proyek tadi. Daniel berhenti. Pria itu bukan pekerja biasa. Cara dia menatap tangan Daniel, cara dia memperhatikan darahnya. Lalu tak lama setelah itu orang-orang lain datang. Mereka mencari darahnya.
"Darah? "
Percakapan di balik dinding toko kembali terngiang. Daniel mengerutkan kening. "Alice siapa?" Dia tidak pernah mendengar nama itu.