Pria yang berdiri paling depan menatap Daniel dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada luka di wajah Daniel.
"Jadi benar. Kau memang ada di sini, ya."
Daniel tidak menjawab. Matanya justru tertuju pada pemilik rumah kontrakan yang masih terjepit di antara dua pria berbadan besar. Wajah wanita itu pucat. Tangannya gemetar.
"Jangan sakiti dia," kata Daniel pelan.
"Kami tidak berniat menyakitinya," jawab pria itu tenang. "Selama kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh."
Daniel mengeratkan rahang. "Kalian sudah masuk ke rumah orang tanpa izin dan menyandera pemiliknya. Menurut kalian, apa yang saya lakukan setelah ini?"
Pria itu tersenyum tipis. "Kau bisa ikut bersama kami."
"Kalau saya menolak?" Tantangnya.
"Dia yang akan ikut menanggung akibatnya."
Pemilik rumah langsung menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. "Daniel, ikut saja dengan mereka! Saya tidak tahu masalah apa yang kamu buat, tapi saya tidak mau terlibat! Saya cuma nyewain kamar!"
Daniel menatap wanita itu. Dia tahu wanita itu tidak salah. Dia hanya pemilik rumah yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya.
Daniel menarik napas panjang. "Baik. Saya ikut."
Pemilik rumah terdiam. Pria di depan Daniel mengangkat alis.
"Dengan satu syarat," lanjut Daniel. "Lepaskan dia dulu."
Pria itu menoleh ke anak buahnya. "Lepaskan."
Cengkeraman di lengan wanita itu langsung lepas. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung melesat. Dia berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah berantakan sambil terus mengoceh. "Bukan urusan saya! Saya nggak kenal dia! Saya cuma tukang kontrakan!"
Suara pintu bawah dibanting keras. Lalu terdengar suara kunci diputar berkali-kali dari bawah. Wanita itu jelas mengurung diri dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Daniel menunduk sebentar. Setidaknya wanita itu aman.
"Jalan," perintah pria itu.
Dua pria berdiri di sisi Daniel. Dia tidak melawan. Bukan karena menyerah, tapi karena jumlah mereka terlalu banyak. Dia menghela napas, lalu menoleh ke dua pria yang sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang siaga untuk menahannya.
"Ehm ... boleh saya minta izin ganti baju dulu?" Kedua pria itu saling pandang. "Percuma juga kalau saya ikut dengan kalian cuma pakai handuk. Tidak lucu kalau handuknya melorot. Kecuali kalian tidak masalah melihat isinya," lanjut Daniel dengan wajah datar.
Salah satu pria mendengus geli. "Cepat."
Daniel buru-buru menarik kaos dan celana dari lemari, berpakaian secepat mungkin sambil sesekali melirik ke pintu, takut mereka berubah pikiran. Begitu selesai, dia memasukkan ponsel ke saku.
Saat berbalik, matanya tertuju pada noda darah di lantai. Darahnya sendiri. Pikiran tentang percakapan tadi kembali muncul. Daniel menelan ludah. "Jangan-jangan ...."
"Ayo!" bentak suara dari luar.