Daniel terbangun sebelum alarm berbunyi.
Bukan karena tubuhnya sudah pulih. Ia terbangun karena mimpi buruk tentang jarum yang menembus lengannya, lalu suara Alice yang terdengar tenang saat mengatakan bahwa semua itu dilakukan demi kebaikan.
Demi kebaikan. Dua kata itu terasa lebih mengerikan daripada ancaman.
Ia membuka mata perlahan. Kamar masih gelap. Di balik pintu, terdengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di depan kamarnya. Daniel menahan napas. Langkah itu tidak bergerak lagi.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu menatap pintu. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri sambil mengepalkan tangan. Setelah itu, ia bergerak sepelan mungkin menuju jendela.
Jendela itu tidak terkunci. Harapan kecil menyala di dalam dadanya.
Daniel mendorongnya sedikit. Udara pagi langsung menerobos masuk. Di bawah sana terdapat taman belakang dengan pagar batu yang tidak terlalu tinggi. Jika ia bisa turun, berlari melewati taman, lalu mencapai jalan utama, mungkin ia masih bisa meminta bantuan.
Mungkin.
Ia baru mengangkat satu kaki ke ambang jendela ketika suara Alice terdengar dari belakangnya.
“Rencanamu cukup buruk.”
Daniel membeku. Lalu menoleh. Alice berdiri di dekat pintu, masih mengenakan pakaian hitam yang sama. Rambutnya terikat rapi, wajahnya tenang, seolah-olah ia tidak sedang memergoki seseorang yang hendak melarikan diri dari rumahnya.
“Jangan mendekat!” bentak Daniel.
Alice menutup pintu. Gerakannya sederhana, tetapi bunyi kunci yang berputar membuat dada Daniel terasa sesak.
“Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu.”
“Dengan mengunci pintu?”
“Dengan mencegahmu jatuh ke bawah sana.”
“Aku tidak akan jatuh. Aku akan pergi.”
Alice memandang kaki Daniel yang masih berada di ambang jendela. “Tubuhmu belum cukup kuat untuk turun dari lantai dua.”
“Aku lebih memilih patah kaki daripada tinggal di sini!”
“Perasaanmu tidak mengubah kondisi fisikmu.”
Daniel melompat turun dari ambang jendela dan langsung berlari ke arah pintu. Ia tidak punya rencana yang lebih baik. Ia hanya tahu bahwa ia harus keluar sebelum Alice melakukan sesuatu lagi terhadap tubuhnya.
Tangannya hampir menyentuh gagang pintu. Namun, dalam sekejap, Alice sudah berada di depannya. Daniel mengerem langkah, lalu melayangkan pukulan. Alice menangkisnya dengan satu tangan.
“Lepaskan aku!”
Daniel menarik lengannya, tetapi cengkeraman Alice tidak bergeser sedikit pun. Ia mencoba memukul lagi, menendang, bahkan mendorong tubuh wanita itu dengan seluruh tenaga yang tersisa. Tidak ada hasilnya.
Alice hanya menatapnya dengan wajah dingin. “Kau baru kehilangan banyak darah kemarin.”
“Jangan gunakan itu sebagai alasan!”
“Aku tidak sedang mencari alasan.”
Alice memutar lengan Daniel ke belakang. Tidak sampai membuat tulangnya cedera, tetapi cukup kuat untuk menjatuhkannya berlutut. Daniel menggeram menahan sakit.
“Ini yang kau sebut kebaikan?”