Ruang rapat itu berada tiga lantai di bawah tanah, di sebuah gedung pemerintahan yang dari luar tampak seperti kantor biasa di Jakarta.
Tidak ada lambang negara di dinding. Tidak ada nama organisasi di pintu. Hanya sebuah meja panjang berbentuk oval, layar hitam, dan tujuh kursi yang ditempati orang-orang dari berbagai negara Asia.
Di tengah meja, satu berkas terbuka. Foto seorang pria berwajah biasa menatap mereka dari halaman pertama. Rambut berantakan. Kaos kerja murah. Wajah yang mudah dilupakan jika seseorang hanya melihatnya sekali. Namun, tak seorang pun di ruangan itu memandangnya sebagai pekerja kasar biasa.
“Ulangi dari awal,” kata perempuan Indonesia yang duduk di ujung meja.
Namanya Ratih. Kepala penghubung operasi regional. Suaranya tenang, tetapi kedua tangannya terkunci rapat di atas meja.
Seorang pria Jepang menggeser tablet ke tengah. “Daniel terakhir terlihat di tempat kerjanya tiga hari lalu. Setelah itu, ia dibawa keluar melalui jalur belakang.”
“Dibawa siapa?”
“Orang-orang bersenjata. Identitas awal mengarah pada jaringan kriminal Italia yang aktif di Asia Tenggara.”
Pria dari Korea Selatan mendengus. “Jaringan kriminal tidak mungkin mengetahui keberadaan Daniel secara kebetulan.”
Layar menyala. Rekaman kamera keamanan muncul. Daniel terlihat sedang mengangkat peti di gudang. Beberapa detik kemudian, dua pria masuk dari pintu belakang. Rekaman berhenti tepat sebelum Daniel menghilang.
“Bosnya,” ujar perempuan dari India. “Periksa bosnya. Tempat itu hanya usaha kecil. Tidak mungkin mereka bisa memindahkan seseorang seperti Daniel tanpa bantuan dari dalam.”
“Belum ada bukti bahwa bosnya bekerja sama,” kata Ratih.
“Tidak ada bukti karena rekaman sengaja dipotong.”
“Bisa saja sistemnya rusak.”
“Jangan menghina kita dengan alasan murahan.”
Udara di ruangan itu berubah lebih berat. Ratih menatap foto Daniel. Selama bertahun-tahun, pria itu hidup seperti orang biasa. Ia mengangkat barang, memperbaiki mesin, tidur di kamar sempit, dan mengeluh tentang upah yang terlambat.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa sebelum mengambil cuti, ia pernah menjadi salah satu agen rahasia terbaik dalam jaringan kerja sama intelijen antarnegara Asia.
Cuti itu awalnya hanya direncanakan beberapa bulan. Daniel memperpanjangnya. Lalu memperpanjangnya lagi. Pada akhirnya, ia memilih menghilang dari dunia yang selama ini mengenalnya sebagai senjata. Ia memilih menjadi seseorang yang tidak perlu menyelamatkan siapa pun. Dan sekarang seseorang telah menemukannya.
“Kenapa statusnya baru dilaporkan sekarang?” tanya perwakilan Thailand.
“Karena laporan internal dari tempat kerja itu menyebutkan Daniel mengundurkan diri,” jawab pria Jepang.
Ratih mengangkat wajah. “Mengundurkan diri?”