"Dua menit lagi untuk pan-seared salmon di meja empat! Jangan sampai overcooked!"
Suara Konita melengking di antara deru mesin penyedap asap dan denting spatula yang beradu dengan wajan besi. Di dapur restoran yang suhunya mencapai empat puluh derajat Celsius itu, dia adalah konduktor bagi simfoni rasa.
Uap panas menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambut yang lolos dari topi koki menempel di dahi yang berkeringat. Namun, tangannya tetap stabil saat menuangkan saus lemon mentega ke atas piring porselen putih.
"Sempurna. Jalan!" serunya sambil menekan bel perak di meja saji.
Seorang pramusaji segera menyambar piring itu. Konita mengembuskan napas panjang, menyeka keringat dengan lengan bajunya.
Inilah dunianya, dunia yang bising, melelahkan, tapi jujur. Di sini, segala sesuatu memiliki resep yang jelas. Kalau kita mengikuti langkahnya dengan benar, hasilnya akan selalu manis. Sayangnya, hidup tidak pernah sesederhana resep crème brûlée.
Tiga jam kemudian, Konita melangkah masuk ke rumah kecilnya di pinggiran Jakarta. Bau harum gulai ayam menyambutnya, aroma khas yang selalu berhasil meluruhkan penatnya.
"Konita? Sudah pulang, Nak?" suara berat Luqman Taher, ayahnya terdengar dari arah dapur.
"Sudah, Yah. Harum banget, Ayah masak besar?" Konita meletakkan tasnya di sofa yang sudah agak kempis dan melangkah menuju ke dapur, menemui ayahnya.
Luqman tersenyum, meski gurat kelelahan di wajah pria paruh baya itu tidak bisa disembunyikan. "Iya, Ayah tadi lewat pasar, lihat ayamnya segar-segar. Ayo, cuci tangan… kita makan malam bareng."
Tak lama kemudian mereka duduk berhadapan di meja makan kayu yang sederhana. Suasana hangat menyelimuti ruangan, sampai sebuah ketukan keras di pintu depan memecah ketenangan malam itu. Konita mengerutkan kening. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, masih saja ada tamu yang datang.
"Biar Ayah yang lihat," ujar Luqman sambil bangkit dengan sedikit gerakan yang kaku.
Konita memperhatikan ayahnya membuka pintu. Di sana berdiri seorang pria berpakaian jas rapi, sangat kontras dengan lingkungan perumahan mereka yang sederhana. Pria itu membawa sebuah tas kerja kulit yang tampak mahal.
"Selamat malam. Apa benar ini rumah Bapak Luqman Taher?" tanya pria itu dengan nada suara yang sangat profesional.
"Benar…. saya sendiri Luqman Taher. Ada keperluan apa ya, Pak?"
"Nama saya Haris Prambudhi, pengacara dari kantor hukum Oswaja & Co. Saya di sini sebagai perwakilan resmi dari Ibu Isvara Jennitra."