Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #2

Rapuhnya Sang Diva

Sementara itu, di ujung kota Jakarta yang lain.

Di balik jendela kaca tebal lantai sepuluh Rumah Sakit Medika, rintik hujan tampak seperti ribuan jarum yang mencoba menembus kesunyian kamar VIP. 

Di dalam kamar, bau antiseptik yang tajam gagal menutupi aroma bunga lili putih yang mulai layu di atas meja nakas. Isvara Jennitra, sang diva yang wajahnya masih menghiasi sampul majalah mode bulan ini, terbaring lemah di balik balutan selimut sutra berwarna gading.

Monitor jantung di samping tempat tidurnya berbunyi dengan ritme yang monoton, seolah sedang menghitung mundur sisa waktu yang dia miliki. 

Isvara meraih cermin kecil di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar. Ditatapnya pantulan dirinya. Di sana, di bawah sapuan tipis riasan yang dipaksakan, kulitnya tampak pucat dengan semburat kekuningan yang tidak bisa lagi disembunyikan.

"Cantik sekali, bukan?" bisiknya pada bayangan di cermin. Bibirnya tersenyum. Namun, matanya tetap dingin dan kosong. "Bahkan saat sekarat pun, Isvara Jennitra harus tetap terlihat sempurna."

Ketukan lembut di pintu memecah lamunannya. Seorang pria paruh baya dengan jas putih melangkah masuk. Dokter Adrian, spesialis penyakit dalam yang telah menangani Isvara selama enam bulan terakhir, membawa sebuah map biru yang tampak berat.

"Selamat malam, Nyonya Isvara. Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Adrian sambil memeriksa selang infus.

"Seperti biasanya, Dok…. seperti sebuah vas porselen mahal yang retak dan hanya tinggal menunggu waktu untuk pecah berkeping-keping," jawab Isvara dengan nada sarkasme yang khas.

Adrian menghela napas panjang, lalu menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. "Aku tidak akan bertele-tele. Hasil tes fungsi hatimu pagi ini menunjukkan penurunan drastis. Tingkat toksin dalam darahmu sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan."

Isvara meletakkan cerminnya. "Langsung saja pada intinya, Dokter Adrian. Berapa lama lagi?"

"Tanpa transplantasi? Satu bulan adalah prediksi yang paling optimis. Tubuhmu tidak bisa lagi memproses racun secara mandiri. Kita butuh donor itu sekarang juga."

Isvara memalingkan wajah ke arah jendela. "Dan pencarian donor dari daftar nasional masih nihil?"

"Antreannya sangat panjang, Nyonya Isvara. Kamu tahu itu. Namun, ada satu jalur yang lebih menjamin keberhasilan. Kita membutuhkan kerabat sedarah. Kemungkinan kecocokannya jauh lebih tinggi daripada donor anonim."

Isvara terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang, kali ini bukan karena penyakit, melainkan karena rasa takut yang telah dia kubur selama dua puluh lima tahun. Kerabat sedarah, kata itu terdengar seperti vonis mati sekaligus pelampung penyelamat.

"Apa Shiela tidak bisa? Dia putriku," tanya Isvara, suaranya sedikit mengecil.

"Shiela baru berusia lima belas tahun. Secara medis dan hukum, dia terlalu muda untuk prosedur sebesar ini. Risiko bagi pendonor di bawah umur sangat tinggi, dan aku tidak akan merekomendasikannya kecuali tidak ada pilihan lain sama sekali," Dokter Adrian menjelaskan dengan tegas.

Lihat selengkapnya