Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #3

Benang Merah

Suara deru mesin motor yang menderu di halaman rumah perlahan padam, digantikan oleh kesunyian malam yang hanya dipecah oleh sisa rintik hujan di atas atap seng. 

Konita melangkah masuk ke ruang tamu dengan pakaian yang basah kuyup. Rambutnya lepek menempel di pipi, dan air menetes dari ujung jaketnya, menciptakan genangan kecil di lantai keramik yang retak. Bergegas dilepasnya jaketnya yang basah lalu dijinjingnya di tangan.

Luqman Taher masih duduk di sana, di kursi kayu yang sama sejak Konita pergi tiga jam yang lalu. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. 

Saat melihat putrinya kembali, pria paruh baya itu bangkit dengan tergesa. Namun, langkahnya tertahan oleh tatapan mata Konita yang sedingin es.

"Konita... Nak, kamu basah kuyup. Biar Ayah ambilkan handuk," suara Luqman bergetar, penuh dengan kecemasan yang tertahan.

"Jangan bergerak, Ayah! Tetap di sana," potong Konita. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi. Namun, justru itulah yang membuat Luqman gemetar.

Konita menyeka wajahnya dengan telapak tangan yang kasar karena terlalu sering memegang pisau dapur. "Ayah, jangan kemana-mana. Ayah berhutang penjelasan padaku. Aku mau ganti baju dulu!”

Luqman Taher hanya terdiam dan mengangguk kecil. Pria paruh baya itu menuruti permintaan sang putri, menunggunya dengan sabar.

“Sekarang, jelaskan semuanya…. tanpa ada satu pun kebohongan lagi. Siapa itu Isvara Jennitra bagimu? Dan siapa aku bagi kalian semua?" tuntut Konita begitu keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang kering, lalu duduk di kursi kayu di depan sang ayah. Rambut hitamnya yang panjang masih tampak basah. 

Luqman menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar seperti rintihan. Bahunya tampak merosot seolah beban yang dia pikul selama dua dekade akhirnya meremukkannya. 

"Isvara... dia adalah sepupu jauh dari mendiang ibumu, Widyana. Kami berasal dari kampung yang sama di Jawa Tengah."

"Ibu Widya? Jadi Ibu tahu?" Konita mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap ayahnya, tajam.

"Tentu saja dia tahu, bahkan almarhum Nenekmu, Nenek Riswanti juga tahu,” jelas Luqman lalu menghela napas panjang.

“Saat itu… kami tidak memiliki anak setelah lima tahun menikah. Lalu Isvara datang... dia masih sangat muda, baru dua puluh tahun. Kariernya sebagai bintang iklan sedang meroket, dan dia baru saja menandatangani kontrak film besar pertamanya. Dia datang dalam keadaan mengandung, ketakutan, dan putus asa."

Konita tertawa pahit, suara tawa yang terdengar menyakitkan di telinga. "Ketakutan akan apa? Ketakutan karirnya hancur karena seorang bayi? Jadi, dia membuangku agar dia bisa terus bersinar di bawah lampu sorot?"

"Dia tidak punya pilihan, Konita. Setidaknya itu yang dia katakan pada kami." Luqman menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut. 

"Dia meminta kami merawatmu secara rahasia. Dia menjanjikan segala kebutuhanmu akan terpenuhi, asal namamu tidak pernah dihubungkan dengan namanya. Kami setuju karena kami mencintaimu sejak pertama kali melihatmu di bedongan itu."

"Dan uang itu? Uang rutin yang dikatakan pengacara tadi?"

Lihat selengkapnya