Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #4

Ledakan di Ruang VVIP

Pintu kayu jati itu terbuka dengan sekali dorongan yang kasar. Konita berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, pakaiannya yang basah lagi mulai menciptakan genangan air di atas lantai marmer kamar VVIP yang mengkilap. 

Di atas ranjang, Isvara Jennitra tersentak. Wajahnya yang pucat pasi menoleh perlahan, matanya yang sayu membelalak saat menangkap sosok gadis yang baru saja dilihatnya di lembaran foto.

"Konita?" bisik Isvara, suaranya parau, nyaris tidak terdengar di antara bunyi ritmis monitor jantung.

Konita tidak menyahut. Gadis itu melangkah masuk perlahan, mengabaikan Haris yang berdiri canggung di belakangnya. Ditatapnya wanita di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa ingin tahu yang menyakitkan dan kebencian yang mendalam. 

Di bawah lampu kamar yang temaram, Isvara tampak jauh lebih rapuh daripada di televisi. Perempuan itu terlihat seperti boneka porselen tua yang retak di sana-sini.

"Jangan panggil namaku," ujar Konita akhirnya. Suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang. "Kamu nggak punya hak untuk menyebut namaku dengan mulut yang sama yang telah menjualku dua puluh lima tahun lalu."

Isvara mencoba untuk duduk dengan tegak. Namun, rasa nyeri di perutnya membuatnya meringis. "Nak, dengarkan aku dulu... aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu punya seribu alasan untuk membenciku."

"Marah?" Konita tertawa singkat, tawa yang terdengar sangat hambar. "Marah itu untuk orang yang dikhianati oleh orang yang mereka sayangi. Kamu? Kamu bukan siapa-siapa bagiku,” ujarnya sinis.

“Kamu hanya seorang aktris yang sedang memainkan peran sebagai ibu yang malang karena kamu butuh sesuatu dariku. Aktingmu cukup bagus, tapi aku nggak mau beli tiket menontonnya."

"Ini bukan akting, Konita. Aku benar-benar sakit." Isvara mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih ujung jaket Konita yang basah.

Konita segera mundur selangkah, seolah sentuhan Isvara adalah racun yang mematikan. "Aku tahu kamu sakit. Pengacaramu sudah menjelaskan semuanya dengan sangat detail. Kamu butuh donor. Kamu butuh bagian dari tubuhku agar kamu bisa tetap hidup, tetap cantik, dan tetap dipuja sebagai Sang Diva, bukan?"

"Bukan itu tujuanku mencarimu..."

"Lalu apa? Kenapa sekarang? Kenapa nggak tiga belas tahun yang lalu saat aku lulus SD? Kenapa nggak lima tahun lalu saat aku mulai kerja keras di dapur restoran hingga tanganku melepuh?” tanya Konita dengan kedua bola matanya yang mulai berkabut dan berkaca-kaca. 

“Kenapa baru sekarang, saat dokter bilang usiamu tinggal menghitung hari jika tidak mendapatkan organ tubuh yang baru?" Konita melangkah lebih dekat ke sisi ranjang, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Isvara. 

"Jawab aku, Ibu Diva… kalau kamu nggak butuh organ tubuhku, apa kamu akan tetap mengirim pengacaramu ke rumah Ayah Luqman?"

Lihat selengkapnya