Dua hari kemudian,
Konita menatap tumpukan bawang merah di depannya seolah-olah butiran umbi itu adalah musuh yang harus ditaklukkan. Pisau di tangannya bergerak dengan ritme yang terlampau cepat, menciptakan bunyi yang monoton di atas talenan kayu.
Gadis itu tidak tidur. Matanya yang sembab disamarkan oleh sapuan tipis air dingin. Namun, rasa perih di hatinya tidak bisa dibasuh begitu saja.
"Konita, pelan-pelan. Jarimu bisa teriris," tegur Chef Marco, kepala koki restoran sambil meletakkan tangan di bahunya.
Konita tersentak kaget dan segera menghentikan gerakan pisaunya lalu menarik napas panjang. Aroma bawang yang menyengat menusuk hidungnya. Namun, aroma itu jauh lebih baik daripada aroma bunga lili putih rumah sakit yang masih menghantui ingatannya.
"Maaf, Chef…. saya hanya ingin menyelesaikan persiapan lebih awal," sahut Konita dengan suara serak.
"Kamu pucat sekali, kalau sakit… lebih baik pulang saja. Kami bisa menghandle lunch shift hari ini," ujar Chef Marco dengan nada khawatir.
Konita menggeleng cepat. "Tidak, Chef…. saya harus kerja. Saya baik-baik saja."
Baginya, dapur adalah satu-satunya tempat di mana dunia terasa masuk akal. Di sini, dia tahu persis apa yang harus dilakukan. Tidak ada rahasia, pengacara, dan diva yang sekarat.
Namun, ketenangan itu hancur seketika saat suara denting notifikasi ponsel mulai terdengar bersahutan dari arah ruang istirahat karyawan. Satu menit kemudian, seorang asisten koki bernama Brian berlari masuk ke dapur dengan wajah panik sambil memegang ponsel dengan tangan gemetar.
"Nita... kamu harus lihat ini," bisik Brian sambil menyodorkan layar ponsel tepat di depan mata Konita.
Dunia seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam empat puluh delapan jam. Di layar itu, sebuah video amatir dengan sudut pandang tersembunyi menampilkan sosok Konita yang sedang berdiri di kamar VVIP rumah sakit. Kualitas gambarnya agak buram, sepertinya diambil dari layar CCTV. Namun, suaranya terdengar sangat jelas.
“Aku tidak akan memberikan satu inci pun dari tubuhku untuk orang asing sepertimu.”
Kalimat itu bergema di seluruh dapur yang mendadak sunyi. Video itu sudah ditonton lebih dari dua juta kali dalam waktu tiga jam. Judul videonya sangat provokatif : “TEGA! Putri Kandung Isvara Jennitra Menolak Menolong Ibunya yang Sedang Sekarat.”
"Video itu... itu diambil secara sembunyi-sembunyi," gumam Konita, tangannya mulai gemetar hebat hingga pisau di tangannya terjatuh ke lantai dengan denting yang nyaring.
"Nit, lihat komentarnya." Brian segera menggeser layar ke bawah.
“Anak durhaka. Dasar monster! Tidak tahu terima kasih, padahal ibunya sudah terkenal sejagat raya.”
“Cuma gara-gara dendam masa lalu, dia tega biarkan orang mati? Dasar hati batu!”
“Apa nama restorannya? Kita boikot saja tempat yang mempekerjakan pembunuh seperti dia.”
Konita merasa mual yang luar biasa. Dicengkramnya pinggiran meja stainless steel agar tidak jatuh. Privasi yang dia jaga selama dua puluh lima tahun kini dikuliti di depan publik. Mereka tidak tahu apa-apa.
Mereka tidak tahu tentang uang tutup mulut, tentang kebohongan Pak Luqman, atau tentang rasa sakit dibuang seperti sampah. Mereka hanya melihat seorang Diva yang malang dan seorang anak yang kejam.