"Tundukkan kepalamu, Konita! Jangan lihat ke luar!"
Suara Ezra menggelegar di dalam kabin mobil yang sempit, memecah kepanikan yang nyaris melumpuhkan kesadaran Konita.
Kilatan lampu blitz menghantam kaca jendela seperti kilauan sinar matahari yang menyilaukan dan tidak kenal ampun.
Wajah-wajah yang haus akan berita, menempel di kaca, mulut mereka tampak komat-kamit meneriakkan pertanyaan yang terdengar seperti cacian di telinga Konita.
Ezra tidak menunggu lebih lama. Bergegas diinjaknya pedal gas dalam-dalam, memutar kemudi dengan gerakan kasar. Namun, sangat presisi.
Mobil SUV itu meraung, memaksa motor-motor yang mengepung mereka untuk menyingkir demi keselamatan para pengendara.
Konita mencengkeram sabuk pengaman dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih sambil memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan mata-mata kamera yang seolah ingin menguliti rahasia terdalamnya.
"Kita akan keluar dari sini," bisik Ezra lirih. Namun, lebih ke dirinya sendiri.
Dipacunya kendaraan itu menembus jalan-jalan tikus yang hanya diketahui oleh penduduk lokal. Mobil itu berbelok tajam di gang-gang yang sempit, hingga cahaya lampu sorot yang mengejar mereka perlahan memudar dan menghilang dari kaca spion.
Setelah hampir satu jam berkendara dalam keheningan yang mencekam, Ezra membelokkan mobilnya ke sebuah gerbang kayu besar di daerah pinggiran Bogor yang asri.
Rumah itu adalah sebuah studio arsitektur pribadi milik Ezra, sebuah bangunan minimalis yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Di sini, suara klakson Jakarta digantikan oleh simfoni jangkrik dan gesekan daun yang tertiup angin malam.
Ezra segera mematikan mesin, lalu keluar dari mobilnya. Kesunyian yang tiba-tiba datang terasa begitu memekakkan telinga. Konita masih duduk mematung, napasnya pendek dan tidak teratur.
"Ta, kita sudah aman…. turunlah," ajak Ezra lembut sambil membuka pintu sisi penumpang dan mengulurkan tangannya.
Konita menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Kakinya terasa seperti jeli saat menyentuh tanah. Ezra menuntunnya masuk ke dalam studio yang beraroma kayu cendana dan kertas kalkir.
Pria itu lalu mendudukkan Konita di sebuah sofa kulit panjang saat mereka masuk ke dalam studio dan segera pergi ke dapur kecil untuk menyeduh teh melati hangat, lalu kembali lagi dengan dua cangkir keramik di tangan.
"Minumlah…. teh ini akan membantu menenangkan sarafmu," ujar Ezra sambil menyodorkan cangkir keramik yang mengepulkan uap.
Konita menerima cangkir tersebut, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangan yang dingin. "Terima kasih, Mas Ezra. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu nggak datang tadi."
Ezra duduk di kursi kerja di hadapannya, menatap Konita dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mereka nggak akan berhenti, Ta. Video itu telah mengubahmu menjadi musuh publik nomor satu. Kamu tahu itu, ‘kan?"
"Aku tahu," bisik Konita sambil mengangguk, matanya menatap kosong ke dalam cairan teh yang berwarna keemasan. "Mereka membenciku karena aku menolak memberikan organ tubuhku pada seorang pahlawan nasional. Mereka nggak peduli bahwa pahlawan itu adalah orang yang membuangku seperti sampah dua puluh lima tahun yang lalu."