Lampu neon lorong rumah sakit berkedip redup, seolah ikut kehabisan energi menghadapi ketegangan yang menggantung di udara. Ezra berjalan di sisi Konita, tangannya sesekali menyentuh punggung gadis itu untuk memastikan kekasihnya tidak goyah.
Mereka baru saja melewati barikade keamanan tambahan yang dipasang pihak rumah sakit untuk menghalau media yang masih haus akan skandal Sang Diva.
Diabaikannya teriakan para kuli tinta yang mencoba mengorek informasi darinya, sementara Ezra yang berjalan di sampingnya berusaha melindungi gadis itu dari serbuan awak media.
Saat pintu kamar VIP terbuka, aroma bunga lili putih yang menyengat kembali menyambut Konita. Namun, kali ini, aroma itu bercampur dengan bau obat-obatan yang jauh lebih tajam.
Di dalam ruangan, pemandangan yang tersaji membuat langkah Konita tertahan sejenak. Isvara Jennitra tidak lagi hanya terbaring lemah, tapi tampak seperti kerangka yang dibalut kulit yang pucat kekuningan.
Di sudut ruangan, Luqman Taher berdiri dengan wajah yang kuyu, sementara Haris Prambudhi, sang pengacara, sibuk dengan berkas di meja kecil.
"Dia datang," bisik Haris, memecah kesunyian ruangan itu.
Isvara membuka matanya perlahan. Napasnya kini dibantu oleh selang oksigen yang masuk ke hidungnya. Begitu melihat Konita, binar harapan muncul di matanya yang mulai keruh. Luqman melangkah maju, tangannya gemetar.
"Konita... syukurlah kamu datang, Nak," suara Luqman parau.
Konita tidak menatap ke arah ayahnya. Gadis itu berjalan lurus ke arah ranjang Isvara, berhenti tepat di samping monitor jantung yang terus mengeluarkan bunyi yang stabil. Namun, mengancam.
"Jangan senang dulu…. aku datang ke sini bukan untuk berpelukan atau menangis haru."
"Konita, tolong... kondisi Ibu Isvara sudah sangat kritis," Haris mencoba menyela dengan nada memohon.
"Aku tahu seberapa kritis kondisinya, Pak Haris. Aku juga tahu seluruh Indonesia menganggapku sebagai monster sekarang karena video itu." Konita melirik ke arah Isvara yang menatapnya dengan bibir gemetar. "Aku akan melakukannya. Aku akan mendonorkan bagian dari tubuhku untuk wanita ini."
Suasana ruangan mendadak meledak dalam kelegaan yang menyesakkan. Luqman menangis pelan sambil menutupi wajahnya, sementara Haris mengembuskan napas panjang seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. Namun, Ezra tetap diam, karena Konita tidak akan berhenti di situ.
"Terima... kasih... Konita..." suara Isvara terdengar seperti gesekan amplas, sangat lemah dan menyakitkan untuk didengar.
"Tahan terima kasihmu, Nyonya Isvara…. karena aku punya syarat," potong Konita tajam. "Operasi ini tidak akan terjadi kecuali kamu memenuhi permintaanku saat ini juga."
Haris mengerutkan kening. "Syarat apa lagi, Nona? Masalah uang sudah kami siapkan, bahkan lebih dari yang Anda bayangkan."