Langkah kaki Konita terasa limbung saat menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Di belakangnya, Ezra mencoba berlari mengejar. Namun, Konita terus melaju seolah ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja menghantamnya.
Kalimat Isvara terus berdengung di telinganya seperti kaset yang rusak. “Aku nggak tahu siapa dia, Konita.”
"Konita, berhenti!" Ezra akhirnya berhasil meraih bahunya, memaksa gadis itu berbalik. Konita menatap kekasihnya dengan mata yang merah dan basah.
“Dia bahkan nggak tahu siapa ayahku, Mas…. aku lahir dari kekacauan yang dia sendiri nggak mau ingat. Bagaimana mungkin aku bisa memberikan hidupku untuk wanita seperti itu?"
"Aku tahu ini berat," bisik Ezra, mencoba menenangkan napas Konita yang memburu, "tapi lihat dirimu. Kamu hancur bukan karena dia nggak tahu siapa ayahmu, tapi karena kamu membiarkan kebencian ini mengendalikanmu."
Sebelum Konita sempat menjawab, suara alarm dari ruang VVIP memecah keheningan malam. Beberapa perawat dan seorang dokter berlari melewati mereka dengan langkah tergesa-gesa. Wajah Haris muncul di ambang pintu kamar, tampak pucat pasi di bawah cahaya lampu neon.
"Nona Konita! Dokter Adrian bilang kondisinya menurun drastis!" teriak Haris dengan suara serak.
Konita membeku. Kakinya seolah terpaku di lantai marmer yang dingin. Ada dorongan kuat untuk pergi sejauh mungkin. Namun, ada bagian kecil di dalam dadanya yang menolak untuk beranjak.
Luqman Taher keluar dari kamar dengan bahu yang berguncang hebat. Pria paruh baya itu berjalan menghampiri putrinya, menatap gadis itu dengan tatapan memohon yang menyayat hati.
"Dia ingin bicara sama kamu, Ta…. sendirian," ujar Luqman lirih. "Hanya sebentar. Sebelum semuanya terlambat, penuhilah keinginannya, Nak."
Konita menoleh ke Ezra, mencari kekuatan. Pemuda itu hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa dia akan tetap di sini menunggunya.
Dengan berat hati, Konita akhirnya melangkah kembali menuju ke kamar VVIP itu, lalu masuk ke dalam ruangan yang kini dipenuhi oleh bunyi mesin medis yang semakin liar.
Dokter Adrian memberikan kode ke para perawat untuk mundur sejenak setelah menstabilkan tekanan darah Isvara. "Waktunya tidak banyak. Dia memaksakan diri untuk tetap sadar hanya untuk menunggumu," ujarnya sambil menatap ke arah Konita penuh harapan.
Konita mendekat ke arah ranjang. Isvara tampak jauh lebih kecil dari sebelumnya, seolah-olah beban dosanya sedang menghisap sisa-sisa kehidupan dari tubuhnya.
Masker oksigen itu kini dilepas, menyisakan wajah yang tampak sangat rapuh dan manusiawi. Tidak ada lagi jejak Sang Diva agung yang sombong.
"Konita... mendekatlah," bisik Isvara, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi monitor.
Konita berdiri di sisi ranjang, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. "Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa harus menyiksaku sampai detik terakhir?"