Suara nyaring dari monitor elektrokardiogram membelah kesunyian ruang VVIP Rumah Sakit Medika Utama. Garis hijau di layar yang tadinya naik turun kini berubah menjadi satu garis lurus panjang.
"Pasien henti jantung! Siapkan defibrillator!" teriak Dokter Adrian. Wajah pria paruh baya itu tegang. Namun, tangannya bergerak cekatan. "Isi daya dua ratus joule. Clear!"
Tubuh Isvara Jennitra tersentak kasar, melambung ke atas ranjang saat aliran listrik menghantam dadanya. Namun, layar monitor belum menunjukkan perubahan.
"Tiga ratus joule. Clear!" Dokter Adrian kembali menempelkan alat kejut itu, sementara para perawat yang berdiri disampingnya segera menjauh dari ranjang.
Dari balik dinding kaca pembatas, napas Konita tercekat. Mata gadis berusia dua puluh lima tahun itu membelalak ngeri. Kaki Konita mundur perlahan, hingga punggungnya menabrak dinding koridor VVIP rumah sakit yang dingin.
Udara pendingin ruangan Jakarta Selatan malam itu terasa menusuk hingga ke tulang. Namun, keringat dingin justru membasahi pelipisnya.
"Konita? Sayang, tatap aku…. tarik napas," suara Ezra Yogaswara terdengar berat dan panik di telinga Konita. Pria beralis tebal dengan kemeja warna biru navy yang lengannya sudah digulung asal-asalan ke siku, mencengkram kedua bahu Konita.
"Dia... dia mati, Mas Ezra," bisik Konita dengan bibir bergetar hebat. Dadanya naik turun tidak beraturan. "Kalau dia mati hari ini... ini salahku. Ini semua karena aku menolak mendonorkan sumsumku dari awal. Aku pembunuh, Mas Ezra!"
"Tidak…. kamu bukan pembunuh, Ta!" tegas Ezra dan bergegas menarik Konita ke dalam dekapannya, membiarkan aroma maskulin dari parfumnya meredam bau antiseptik rumah sakit yang membuat mual.
"Kamu hanya sedang marah, dan itu manusiawi. Jangan salahkan dirimu atas penyakit yang memang sudah menggerogotinya."
Pintu ruang VVIP berderit terbuka. Dokter Adrian melangkah keluar sambil melepas masker bedahnya. Wajahnya tampak kelelahan. Ezra segera merangkul pinggang Konita, menopang tubuh gadis itu yang nyaris luruh ke lantai.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ezra cepat.
Dokter Adrian menatap Konita dengan tatapan prihatin. "Kami berhasil mengembalikan detak jantung Nyonya Isvara…. tapi…. saya harus jujur, kondisinya sangat kritis saat ini. Beliau sekarang jatuh ke dalam fase koma. Kegagalan organ mulai terjadi akibat komplikasi Thalasemia."
"Berapa lama lagi waktunya, Dok?" Suara Konita terdengar parau, nyaris seperti cicitan.
"Kurang dari dua puluh empat jam," jawab Dokter Adrian tegas, “kalau tidak ada transplantasi sumsum tulang belakang secepatnya, maka kita akan kehilangan beliau. Saya tidak bisa memaksa Anda, Konita…. tapi dari segi medis, hanya Anda harapan satu-satunya."
Konita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pecah, menggema di sepanjang koridor VVIP yang sepi. Di satu sisi, kebencian karena dibuang oleh Isvara demi karir keartisan masih menganga lebar di dadanya.
Namun di sisi lain, melihat wanita yang melahirkannya dua puluh lima tahun yang lalu terbaring tidak berdaya dengan selang di mana-mana, meruntuhkan seluruh egonya.
Di tengah keputusasaan itu, langkah kaki yang berat dan sedikit terseret terdengar mendekat. Luqman Taher, pria berusia lima puluh lima tahun dengan jaket kulit kusam kesayangannya, berjalan menghampiri Konita.
Aroma oli mesin samar-samar masih tertinggal di sela-sela jari tangannya yang kasar, sangat kontras dengan kemewahan lantai marmer rumah sakit ini.
Di belakang Luqman, Shiela Renjani, anak kedua Isvara Jennitra tampak berdiri di belakang pria paruh baya itu sambil menggigit bibir bawahnya, ditemani oleh Freya Maharani, asisten Sang Diva.