Tiga jam pun berlalu sejak operasi dinyatakan berhasil. Sumsum tulang Konita telah ditransfusikan ke dalam tubuh Isvara. Dokter Adrian keluar dari ruang operasi dengan senyum yang lelah.
Pria paruh baya itu memberikan kabar gembira ke Haris, Luqman, Ezra, Freya dan Shiela bahwa masa kritis Isvara telah terlewati, dan kondisi Konita stabil meski butuh pemulihan akibat nyeri tulang.
Namun, di sudut lain Rumah Sakit Medika Utama, di dalam ruang arsip data pasien yang sepi, seorang pria berpakaian seragam staf administrasi rumah sakit tampak celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada seorangpun yang memperhatikan dirinya.
Pria itu adalah Rachmat, bergegas dikuncinya pintu ruang arsip dari dalam. Tangan Rachmat sedikit gemetar saat membuka map hijau bertuliskan rekam medis Isvara Jennitra.
Di dalam map tersebut, lembar persetujuan asli yang baru saja diserahkan oleh perawat dari ruang bedah terlampir jelas. Ada tanda tangan Konita Reveena di sana, lengkap dengan hasil cek DNA yang menjadi syarat wajib sebelum transplantasi sumsum tulang belakang dilakukan.
Rachmat segera mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mengatur fokus kamera dan memotret dokumen tersebut halaman demi halaman. Tak lama kemudian ponsel Rachmat bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama.
[Bagaimana? Dapat nama pendonornya? Kalau itu benar anak haram Isvara, nominal lima ratus juta yang kita sepakati sudah saya transfer setengahnya ke rekening istrimu.]
Rachmat tersenyum miring. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan di ponsel.
[Transfer sisa uangnya sekarang juga. Saya sudah dapat data rekam medis Isvara, hasil tes DNA, dan nama pendonornya atas nama Konita Reveena. Semua sudah saya kirimkan ke email Anda. Skandal ini akan menjadi berita paling panas besok pagi.]
Rachmat lalu menekan tombol 'Send'. Pria itu tidak peduli bahwa tindakannya ini, baru saja menghancurkan syarat mutlak Konita.
Laki-laki itu tidak peduli bahwa badai media yang jauh lebih brutal dari sebelumnya kini sedang bersiap menerkam seorang chef muda yang baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri di atas meja operasi.
Di luar gedung rumah sakit, rintik hujan Jakarta malam itu berubah menjadi badai lebat, seolah menjadi pertanda buruk bagi kehidupan Konita esok hari.
Tepat saat detik jam berganti, notifikasi dari ratusan akun gosip dan portal berita online bersiap meledak di seluruh penjuru negeri. Identitas rahasia Konita telah terjual.
***
Sinar matahari pagi Jakarta menembus tirai otomatis kamar rawat VVIP Presidential Suite di Rumah Sakit Medika Utama. Cahayanya memantul pada lantai marmer Italia yang mengkilap, menciptakan siluet gedung-gedung pencakar langit kawasan SCBD dari balik jendela kaca berukuran raksasa.
Namun, kemewahan ruangan yang dilengkapi sofa kulit asli dan perabotan kayu jati itu tidak mampu mengusir aroma antiseptik yang menusuk.
Konita tampak mengerjapkan matanya perlahan. Kesadarannya kembali bersamaan dengan rasa ngilu yang luar biasa berdenyut dari area panggul bawahnya. Rasanya seolah ada paku beton yang tertancap dan diputar paksa di dalam sumsum tulangnya.
Gadis itu mendesis, memejamkan mata sambil menahan napas. Gerakan kecilnya membuat pria yang tengah tertidur dengan posisi duduk di kursi samping ranjang, langsung terbangun.
"Ta? Kamu sudah sadar?" Suara Ezra terdengar serak khas bangun tidur.
Pria itu segera berdiri, kemejanya tampak kusut. Matanya yang dihiasi kantung hitam menatap Konita penuh kelegaan sekaligus kecemasan.
"Air...," bisik Konita dengan tenggorokan kering kerontang.
Ezra dengan sigap menuangkan air mineral dari botol kaca premium ke dalam gelas, lalu membantu Konita minum perlahan menggunakan sedotan.