Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #11

Berita Viral

"Tolong tenang, Pak!" teriak para petugas keamanan, berusaha melerai. Namun, tertahan oleh tatapan membunuh Ezra.

"Anda sudah janji padanya!" murka Ezra, suaranya menggema rendah dan mengancam di sepanjang koridor. "Kekasih saya menyerahkan nyawanya di meja operasi Anda, dan Anda menjual datanya ke akun gosip murahan?! Di mana letak sumpah dokter Anda, hah?!"

"S-saya berani bersumpah, bukan saya yang membocorkannya, Pak Ezra!" Dokter Adrian tergagap, napasnya tersengal karena cengkeraman kuat Ezra di lehernya.

"Sepertinya ada oknum staf administrasi yang meretas dan memotret dokumen fisik dari ruang bedah! Pihak direksi sedang melacak pelakunya dan kami sudah menghubungi polisi!"

"Polisi nggak akan bisa menghentikan berita yang sudah viral, Dokter!" Ezra menghempaskan tubuh Dokter Adrian dengan kasar.

Dirapikan kemejanya yang berantakan, lalu menatap sang dokter dengan rasa jijik. "Saya akan pastikan lisensi medis Anda dicabut setelah ini."

Tiba-tiba, suara keributan terdengar dari arah lift khusus VVIP di ujung koridor. Pintu lift terbuka paksa, menampilkan beberapa wajah asing dengan kamera DSLR yang mengalung di leher mereka, tengah berdebat dan saling dorong dengan petugas keamanan di depan lift.

"Itu pacarnya Konita! Hei, Mas! Apa benar Konita itu anak di luar nikahnya Isvara Jennitra?!" teriak salah satu wartawan yang berhasil menerobos barikade petugas. Lampu blitz kamera menyala bertubi-tubi, menyilaukan mata.

Mata Ezra membelalak. Pikirannya sebagai seorang arsitek yang terbiasa memecahkan masalah tata ruang bekerja dalam sepersekian detik merasa kalau koridor ini sudah tidak aman. Mereka tidak bisa bertahan di kamar.

Ezra segera berbalik dan berlari secepat kilat masuk kembali ke kamar rawat Konita, mengunci pintunya dari dalam, dan menekan tombol darurat keamanan di dinding.

"Pak Luqman, kemasi barang-barang sekarang!" perintah Ezra mutlak.

Luqman yang panik langsung memasukkan pakaian ke dalam tas dengan asal. Konita menatap Ezra dengan wajah berurai air mata, menahan rasa sakit di punggungnya yang semakin menyiksa akibat tegang.

"Mereka sudah di depan, Mas Ezra?" tanya Konita, bibirnya tampak pucat pasi.

"Iya… dan kita nggak akan lewat pintu depan." Ezra berjalan ke arah lemari penyimpanan medis di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah kursi roda lipat, lalu membukanya dengan satu sentakan kuat.

Pria itu berjalan mendekati ranjang, menyingkap selimut Konita. "Maaf, Sayang…. mungkin ini akan sedikit sakit, tapi aku harus membawamu keluar dari neraka ini sekarang juga. Pegang leherku."

Konita pun menurut, lalu mengalungkan lengannya yang gemetar ke leher Ezra. Dengan gerakan hati-hati. Namun, dengan cekatan Ezra segera mengangkat tubuh Konita.

Gadis itu menjerit tertahan saat area panggulnya bergeser, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah demi menahan sakit. Tiba-tiba suara gedoran keras mulai terdengar dari pintu utama kamar VVIP.

"Konita! Buka pintunya! Kami butuh klarifikasi!"

Lihat selengkapnya